Target Beroperasi Oktober 2026 di Kabupaten Malang, Dishub Provinsi Jatim Siapkan Dua Opsi Rute Trans Jatim Koridor II

Kepala Dishub Provinsi Jatim Nyono mengatakan, penyusunan rute tersebut tidak hanya mempertimbangkan aspek konektivitas dan pelayanan masyarakat, tetapi juga dampak sosial terhadap pengemudi angkutan umum lokal. (Foto : Dishub Prov Jatim/Majalahfakta.id)

FAKTA – Dishub Provinsi Jatim menyiapkan dua skenario rute untuk operasional Bus Trans Jatim Koridor II yang akan melayani wilayah Kabupaten Malang. Koridor tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada Oktober 2026.

Rencana pengoperasian Trans Jatim Koridor II sebelumnya menghadapi kendala setelah mendapat penolakan dari serikat sopir angkutan umum Malang. Para sopir khawatir kehadiran layanan transportasi baru itu berdampak terhadap keberlangsungan angkutan umum yang selama ini melayani rute serupa.

Kepala Dishub Provinsi Jatim Nyono mengatakan, pihaknya masih melakukan kajian terhadap dua opsi rute yang telah disiapkan. Finalisasi kajian ditargetkan rampung pada Agustus 2026.

Menurut Nyono, penyusunan rute tersebut tidak hanya mempertimbangkan aspek konektivitas dan pelayanan masyarakat, tetapi juga dampak sosial terhadap pengemudi angkutan umum lokal.

Opsi pertama dirancang dengan melintasi sejumlah titik utama, yakni Terminal Arjosari, Terminal Hamid Rusdi, Lawang, Pelawa/Dengkol, Pakis, hingga Kepanjen.

Sementara itu, jika skenario pertama belum menemukan titik temu dengan para pemangku kepentingan, Dishub Provinsi Jatim menyiapkan alternatif kedua.

Pada opsi ini, perjalanan Trans Jatim akan dimulai dari Terminal Hamid Rusdi menuju Talangagung dan Kepanjen dengan memanfaatkan akses tol. Rute tersebut tidak melewati Terminal Arjosari.

“Opsi alternatif ini akan memprioritaskan integrasi dari Terminal Hamid Rusdi menuju Talangagung, Kepanjen, melalui akses tol tanpa melintasi Terminal Arjosari,” kata Nyono.

Dishub Provinsi Jatim Siapkan Skema BTS untuk Angkutan Lokal

Selain menyiapkan rute, Dishub Provinsi Jatim juga memperhatikan aspirasi paguyuban angkutan kota di Malang yang meminta kepastian mengenai insentif atau program Buy The Service (BTS) dari Pemerintah Kota Malang.

Program tersebut dinilai dapat menjadi stimulus agar kehadiran Trans Jatim tidak berdampak langsung terhadap pendapatan pengemudi angkutan kota yang telah beroperasi lebih dahulu.

Nyono mengungkapkan, pemerintah daerah berencana meluncurkan program angkutan sekolah berbasis BTS pada Agustus 2026. Program itu akan memanfaatkan sekitar 80 unit angkutan kota atau lyn biru yang sebelumnya telah diinventarisasi dan dinyatakan memenuhi spesifikasi keselamatan.

Skema tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mengintegrasikan keberadaan angkutan lokal dengan sistem transportasi publik yang lebih luas.

“Prinsipnya kami merangkul. Pengemudi dan tenaga penunjang seperti petugas kebersihan armada juga diberdayakan dari para pengemudi lyn yang ada,” ujar Nyono.

Ia menegaskan, kehadiran Trans Jatim tidak semestinya dipandang sebagai ancaman bagi angkutan kota. Sebaliknya, layanan tersebut diharapkan mampu menciptakan konektivitas baru dan mendatangkan penumpang bagi angkutan lokal sebagai feeder.

“Trans Jatim bukan ancaman, melainkan justru dapat membawa penumpang baru (feeder) bagi angkutan lokal,” katanya.

Dengan dua opsi rute dan skema pemberdayaan angkutan lokal tersebut, Dishub Provinsi Jatim berharap persoalan sosial yang sempat menghambat rencana operasional Koridor II dapat diselesaikan. Finalisasi rute pada Agustus menjadi salah satu tahapan penting sebelum layanan ditargetkan mulai beroperasi pada Oktober 2026. (nyo)

Editor : Marthin