Abu Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Delapan Bandara di Jawa-Sumatra Ditutup Sementara

Berdasarkan analisis BMKG, material vulkanik terdeteksi hingga ketinggian sekitar 15.000 kaki atau 4,57 kilometer. (Foto : BMKG)

FAKTA – Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) memasuki fase yang berdampak lebih luas.

Sebaran abu vulkanik yang terbawa angin hingga memasuki sejumlah wilayah di Jawa dan Sumatra,  membuat otoritas penerbangan mengambil langkah mitigasi dengan menghentikan sementara operasional delapan bandara.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan penerbangan setelah hasil pemantauan menunjukkan keberadaan abu vulkanik di sejumlah wilayah udara.

Hingga Senin (7/9/2026) pagi, abu vulkanik terpantau menyebar ke arah barat dari kawasan Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan analisis BMKG, material vulkanik terdeteksi hingga ketinggian sekitar 15.000 kaki atau 4,57 kilometer.

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan pola angin menjadi salah satu faktor yang mendorong meluasnya sebaran abu.

“Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pukul 09.00 WIB, pola angin secara umum mendorong perluasan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau ke arah barat,” kata Andri.

Dalam pemantauan lapisan udara hingga 15.000 kaki, abu teridentifikasi bergerak dari kawasan sekitar Anak Krakatau menuju barat daya hingga barat laut. Wilayah yang masuk dalam jalur sebaran antara lain sebagian Banten, Jawa Barat bagian barat dan selatan, Lampung, serta Bengkulu, termasuk perairan di sekitarnya.

Pada lapisan atmosfer yang lebih tinggi, hingga sekitar 50.000 kaki atau 15,24 kilometer, sebaran abu terpantau bergerak semakin jauh ke Samudra Hindia di sebelah barat dan barat daya Bengkulu, Lampung, serta Banten.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius dalam penerbangan karena abu vulkanik dapat membahayakan operasional pesawat.

Delapan Bandara Hentikan Operasi

Dampak sebaran abu tidak hanya terdeteksi melalui pemantauan satelit. Pengujian lapangan menggunakan paper test pada Senin pagi juga menunjukkan indikasi keberadaan abu vulkanik di sejumlah bandara.

Temuan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar bagi otoritas penerbangan untuk melakukan tindakan mitigasi.

Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau AirNav Indonesia menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) yang mengatur penghentian sementara operasional delapan bandara.

Penutupan sementara tersebut berlaku hingga pukul 18.00 WIB dan mencakup bandara yang berada di Jawa maupun Sumatra.

Delapan bandara yang terdampak adalah:

  • Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang;
  • Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta;
  • Bandara Radin Inten II, Lampung;
  • Bandara Husein Sastranegara, Bandung;
  • Bandara Budiarto, Curug;
  • Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan;
  • Bandara Muhammad Taufiq Kiemas, Pesisir Barat, Lampung; dan
  • Bandara Atungbusu, Sumatra Selatan.

BMKG menilai hasil pengujian di lapangan tersebut penting karena dapat memperkuat hasil pengamatan berbasis satelit.

“Paper test tersebut menjadi verifikasi lapangan yang melengkapi hasil pemantauan sebaran abu vulkanik melalui citra satelit dan informasi meteorologi penerbangan,” ujar Andri.

Dengan kombinasi data tersebut, otoritas memiliki gambaran yang lebih utuh mengenai lokasi dan pergerakan abu vulkanik di atmosfer.

BMKG Sudah Terbitkan 39 SIGMET

Pemantauan terhadap abu Anak Krakatau dilakukan secara intensif sejak aktivitas erupsi meningkat.

Sejak erupsi pertama yang tercatat pada 4 September 2026, BMKG telah menerbitkan 39 dokumen Significant Meteorological Information (SIGMET). Dokumen tersebut digunakan dalam sistem meteorologi penerbangan untuk memberikan informasi mengenai fenomena cuaca yang signifikan dan berpotensi membahayakan penerbangan.

SIGMET terbaru yang diterbitkan pada Senin, 7 September 2026, berlaku pukul 06.30 hingga 09.30 WIB.

Dalam laporan tersebut, abu vulkanik terpantau hingga ketinggian 15.000 kaki. Material bergerak ke arah barat dengan kecepatan sekitar 15 knot.

Artinya, persoalan Anak Krakatau tidak lagi semata-mata berkaitan dengan aktivitas di sekitar kawah.

Ketika material vulkanik masuk ke atmosfer dan terbawa angin, dampaknya dapat meluas ke wilayah yang secara geografis berada cukup jauh dari sumber erupsi.

Kondisi inilah yang membuat pemantauan ruang udara menjadi bagian penting dalam penanganan dampak erupsi.

Selat Sunda Masih Dipantau

Di tengah gangguan terhadap penerbangan, kondisi perairan Selat Sunda masih menjadi perhatian pemerintah.

BMKG memastikan hingga Senin pagi tidak terdapat indikasi tsunami berdasarkan sejumlah instrumen pemantauan yang ditempatkan di kawasan tersebut.

Salah satu instrumen yang dioperasikan adalah HF Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung. Perangkat tersebut diaktifkan dalam mode pemantauan tsunami untuk mengantisipasi perubahan kondisi laut yang berkaitan dengan aktivitas Anak Krakatau.

Data pada 7 September 2026 pukul 08.00 WIB menunjukkan probabilitas tsunami di Selat Sunda berada pada kategori rendah, yakni di bawah 50 persen.

Pemantauan arus permukaan juga menunjukkan pergerakan dominan menuju barat daya atau ke arah Samudra Hindia dengan kecepatan sekitar 0,4 hingga 0,9 knot.

Sementara tinggi gelombang berada pada kisaran 0,3 hingga 1,2 meter.

Untuk periode 8 hingga 13 September 2026, BMKG memperkirakan tinggi gelombang di Selat Sunda berkisar antara 0,5 hingga 2 meter.

Dengan kondisi tersebut, aktivitas penyeberangan tetap menjadi bagian yang terus dipantau, terutama apabila terjadi perubahan signifikan pada kondisi laut maupun aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Tidak Ada Anomali Tsunami

Pemantauan tidak hanya dilakukan menggunakan radar. BMKG juga mengandalkan 20 tsunami gauge yang ditempatkan di sekitar Selat Sunda.

Hingga waktu pemantauan terakhir, perangkat tersebut belum mencatat adanya anomali muka air laut yang mengarah pada indikasi tsunami.

Plh Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan instrumen geofisika memang merekam peningkatan aktivitas yang berkaitan dengan erupsi.

Lightning detector, misalnya, mencatat peningkatan petir vulkanik. Sensor magnet bumi juga mendeteksi gangguan geomagnetik pada periode pukul 00.00 hingga 04.00 WIB.

Namun, intensitas gangguan tersebut masih lebih rendah dibandingkan ketika erupsi pertama terjadi pada 4 September.

Data tersebut menjadi penting karena masyarakat kerap mengaitkan peningkatan aktivitas Anak Krakatau dengan ancaman tsunami secara langsung.

Padahal, erupsi gunung api dan tsunami merupakan dua fenomena yang tidak selalu terjadi secara bersamaan. Ancaman tsunami harus dinilai berdasarkan perubahan kondisi gunung, laut, dan hasil pembacaan instrumen pemantauan.

Masyarakat Diminta Tidak Terpancing Kepanikan

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang beredar di media sosial.

Menurut dia, penghentian sementara operasional delapan bandara merupakan langkah pencegahan untuk mengutamakan keselamatan penerbangan, bukan tanda bahwa kondisi telah berubah menjadi bencana yang tidak terkendali.

“Masyarakat tidak perlu panik. Langkah penutupan sementara delapan bandara ini merupakan bentuk mitigasi proaktif dan respons cepat otoritas penerbangan demi menjamin keselamatan perjalanan kita bersama,” ujar Faisal.

Di wilayah yang terdampak abu vulkanik, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Jika harus keluar rumah, penggunaan masker dan kacamata pelindung dianjurkan untuk mengurangi paparan abu.

Kelompok rentan juga perlu mendapatkan perhatian lebih, terutama anak-anak, lansia, serta masyarakat yang aktivitasnya banyak dilakukan di luar ruangan.

Yang tidak kalah penting adalah sumber informasi.

BMKG meminta masyarakat mengacu pada informasi resmi dari BMKG, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah daerah, serta otoritas penerbangan.

Erupsi Anak Krakatau dan Ujian Mitigasi

Perkembangan Anak Krakatau memperlihatkan bagaimana satu aktivitas gunung api dapat menimbulkan konsekuensi yang berbeda pada waktu bersamaan.

Di satu sisi, masyarakat sekitar gunung harus menghadapi potensi bahaya vulkanik. Di sisi lain, abu yang terbawa angin dapat memasuki jalur penerbangan dan mengganggu aktivitas bandara di wilayah yang jauh dari gunung.

Sementara di laut, kondisi Selat Sunda tetap membutuhkan pengawasan untuk memastikan tidak terjadi perubahan yang dapat meningkatkan risiko bagi aktivitas pelayaran dan penyeberangan.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa mitigasi bencana gunung api tidak dapat dilakukan hanya dengan mengawasi kawah.

Pergerakan abu di atmosfer, kondisi cuaca, keselamatan penerbangan, perubahan muka air laut, arus, gelombang, hingga komunikasi kepada masyarakat merupakan bagian dari satu rangkaian pemantauan.

Karena itu, penutupan sementara delapan bandara bukan semata-mata gangguan terhadap mobilitas.

Di balik keputusan tersebut terdapat prinsip mitigasi yang lebih mendasar: ketika data menunjukkan potensi risiko terhadap keselamatan, aktivitas transportasi dapat dihentikan sementara sebelum bahaya berkembang menjadi kecelakaan.

Erupsi Anak Krakatau pada akhirnya bukan hanya cerita tentang gunung yang kembali aktif.

Ia menjadi pengingat bahwa di negara kepulauan seperti Indonesia, satu fenomena alam dapat dengan cepat berubah menjadi persoalan lintas wilayah dan lintas sektor—dari lereng gunung, ruang udara, hingga jalur laut.

Dan dalam situasi seperti ini, kecepatan membaca data menjadi sama pentingnya dengan kecepatan mengambil keputusan. (*)

Sumber : Biro Hukum, Humas, dan Kerja Sama BMKG