Batu Bergerak, Saat UMKM dan Petani Dapat “Kunci” Akses Modal

Wali Kota Batu H.Nurochman, S.H.,M.H. (Foto: Prokopim)

Kota Batu, majalahfakta.id – Kamis pagi, 3 September 2026. Aula Balai Kota Among Tani di Kota Batu dipenuhi percakapan serius tapi hangat. Di meja bundar itu duduk Wali Kota Batu Nurochman, perwakilan OJK Malang, dan Bank Indonesia Malang. Agendanya satu, bagaimana membuat pelaku UMKM dan petani di Batu tidak lagi kesulitan mengetuk pintu bank.

Forum Grup Diskusi Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah, atau FGD TPAKD, bukan sekadar rapat formal. Bagi Nurochman, ini harus melahirkan gebrakan yang bisa dirasakan langsung oleh warga.

“Jangan berhenti di kertas. Kita butuh langkah konkret yang mengubah hidup orang,” ujarnya, tegas.

Legalitas Dulu, Modal Menyusul
Langkah pertama sudah dieksekusi. Pemkot Batu menerbitkan Surat Keputusan untuk 8 ruang publik produktif. Salah satunya Pasar Induk Among Tani, urat nadi perdagangan sayur dan oleh-oleh khas Batu.

Bagi Nurochman, legalitas itu ibarat kunci. Dengan status yang jelas, pedagang kecil dan kelompok tani jadi punya bukti sah saat mengajukan pinjaman ke bank, atau mendaftar program bantuan dari kementerian.

“Selama ini banyak yang punya produk bagus, tapi mentok karena tidak ada ‘badan hukum’ tempat usahanya. Sekarang pintunya kita buka,” katanya.

Pasar Dijamin, Petani Disekolahkan
Agar produk tidak menumpuk, Pemkot memaksimalkan CooSae, platform yang berfungsi sebagai penyerap sekaligus pemasar hasil UMKM Batu. Mulai dari keripik apel, teh, hingga kriya, semua punya saluran untuk sampai ke konsumen lebih luas.

Di sisi pertanian, tantangannya berbeda: regenerasi. Maka lahirlah Sekolah Insan Petani, disingkat SIF. Program ini mendidik petani muda dengan teknik budidaya modern, manajemen pascapanen, hingga cara membaca pasar. Tujuannya sederhana, agar lahan di lereng Gunung Arjuno dan Welirang tetap produktif di tangan generasi berikutnya.

Dukungan dari OJK dan BI
OJK Malang menyatakan siap mendorong perbankan untuk lebih berani menyalurkan pembiayaan produktif. Bukan kredit konsumtif, tapi modal kerja yang benar-benar memutar usaha.

Sementara Bank Indonesia Malang membawa misi lain: menstabilkan harga. Caranya lewat kerja sama antardaerah. Ketika panen apel atau sayur melimpah dan harga anjlok, jaringan antarkota bisa jadi katup pengaman agar petani tidak merugi.

FGD itu ditutup tanpa tepuk tangan seremonial. Yang ada hanya catatan kerja dan target. Karena di Batu, kata Nurochman, bantuan paling berharga bukan janji, melainkan akses yang benar-benar bisa dibuka. Dan kali ini, akses itu mulai terbuka satu per satu. (Mud/F.1015)