FAKTA – Udara pagi, Kamis, 2 Juli 2026 di Batu Love Garden (Baloga) terasa berbeda. Aroma melati, mawar, dan ratusan bunga potong lainnya bercampur dengan tawa pengunjung dan denting musik pembuka. Di sinilah Specta Flora Festival SFF 2026 resmi dibuka, dan untuk empat hari ke depan, Kota Batu kembali menegaskan jati dirinya: Kota Florikultura.
Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto membuka panggung bersama Ketua Perwosi Kota Batu, Ridha Agusta Heli Suyanto. Tapi panggung itu tidak hanya milik pejabat. Dari barisan depan, petani bunga dari Punten, florist muda dari Songgokerto, hingga mahasiswa agronomi duduk berdampingan. Mereka datang dengan satu tujuan: menunjukkan bahwa bunga di Batu bukan sekadar komoditas, melainkan karya hidup.
“Lihat kebun kita, lihat tangan-tangan yang merawatnya setiap hari. Potensi Kota Batu luar biasa,” kata Heli di hadapan ratusan tamu. Suaranya pelan tapi pasti. “Saya ingin karya anak-anak Batu ini tidak berhenti di Pasar Bunga. Saya ingin ia sampai ke Jakarta, Singapura, bahkan Tokyo.”
Kalimat itu disambut tepuk tangan. Karena semua orang di Baloga tahu rasanya: bangun pukul 4 pagi untuk menyiram, memilah kelopak yang rusak, menata buket sampai jarinya perih. Specta Flora hadir untuk memberi ruang bagi lelah itu agar dilihat, dihargai, dan dihubungkan.
Festival yang berlangsung 2 sampai 5 Juli 2026 ini sengaja dibuat cair. Ada pameran karya florist, demo merangkai, talkshow bersama akademisi, sampai pojok kolaborasi UMKM. Tujuannya sederhana: membuat petani, florist, pelaku usaha kreatif, dan pemerintah duduk satu meja. Tidak ada sekat.
Wali Kota Nurochman, bersama timnya, memang sedang mendorong tata kelola florikultura yang lebih manusiawi. Artinya: akses pasar yang lebih mudah, pelatihan yang nyambung dengan kebutuhan lapangan, dan jejaring yang tidak hanya formal di atas kertas.
Hadir pula Tenaga Ahli Wakil Menteri UMKM RI, Noval Abudzar, bersama komunitas dan pelaku ekonomi kreatif dari luar daerah. Mereka berkeliling, bertanya nama bunga, menanyakan harga bibit, dan beberapa langsung memesan untuk event di kotanya.
Bagi Pemerintah Kota Batu, SFF 2026 lebih dari festival. Ini investasi identitas. Ketika orang menyebut Batu, yang terbayang bukan hanya apel dan wisata dingin. Tapi juga kebun bunga yang rapi, florist yang berani bereksperimen, dan ekonomi kreatif yang menumbuhkan lapangan kerja baru di kampung sendiri.
Sampai Minggu nanti, Baloga akan terus ramai. Ada yang datang untuk foto, ada yang datang untuk belajar, ada juga yang hanya ingin duduk melihat warna. Dan mungkin, dari situlah ide-ide baru tumbuh.
Karena pada akhirnya, florikultura di Batu bukan soal berapa banyak bunga yang dijual. Melainkan berapa banyak cerita, harapan, dan penghidupan yang ikut mekar bersamanya. (F1015/mud)






