Meluruskan Niat Dalam Setiap Kebaikan

Mari meluruskan niat dalam setiap kebaikan. (Foto ilustrasi AI)

| PESAN INDAH AL-QUR’AN 0110

FAKTA – Seorang lelaki baru saja mengikuti kegiatan berbagi sembako kepada warga yang membutuhkan. Sebelum pulang, ia meminta seorang teman mengambil foto sebagai kenang-kenangan, lalu membagikannya di media sosial. Beberapa orang memberikan ucapan terima kasih dan apresiasi. Ia pun merasa senang karena kegiatan itu mendapat sambutan baik.

Malam harinya, ketika suasana mulai tenang, ia teringat kembali pada kegiatan tersebut. Ia lalu merenung, “Alangkah baiknya jika kebaikan ini benar-benar menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bagaimana agar aku tetap bersemangat membantu, meskipun tidak ada yang melihat atau memberikan pujian?”

Pertanyaan itu bukan untuk menyalahkan dirinya, melainkan menjadi kesempatan untuk memperbaiki niat. Ia menyadari bahwa berbuat baik adalah karunia, sedangkan menjaga keikhlasan merupakan ikhtiar yang perlu terus dirawat.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang senantiasa memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam keikhlasan dan kebaikan.

ALLAH BERFIRMAN:

بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗٓ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Artinya: “Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 112)

PESAN TAFSIR

Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa menyerahkan diri kepada Allah berkaitan dengan keikhlasan beribadah hanya kepada-Nya, sedangkan berbuat ihsan berarti melakukan kebaikan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ. Keikhlasan dan kebenaran amal merupakan dua hal penting dalam penghambaan kepada Allah.

Dalam semangat pesan Tafsir Al-Azhar Buya Hamka, keimanan hendaknya tidak berhenti pada pengakuan, tetapi diwujudkan dalam perbuatan nyata. Penghambaan kepada Allah diharapkan membentuk pribadi yang berakhlak baik dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Ayat ini mengajak kita untuk terus menyelaraskan niat dan perbuatan. Kebaikan yang terlihat dapat menjadi inspirasi, sementara keikhlasan di dalam hati perlu senantiasa kita jaga dan perbaiki.

CERMIN DIRI

Mari kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: apakah kita tetap berbuat baik ketika tidak ada yang melihat? Apakah kita tetap membantu ketika tidak menerima pujian? Apakah kita mampu melanjutkan kebaikan meskipun tidak mendapat penghargaan?

Membagikan kegiatan sosial di media tidak selalu berarti mencari pujian. Terkadang, hal itu menjadi cara untuk mengajak orang lain berbuat baik. Namun, kita tetap perlu menjaga hati agar apresiasi manusia tidak menggeser tujuan utama, yaitu mengharapkan rida Allah.

Kita tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk berbuat baik. Mari terus membantu sesama, sambil belajar meluruskan niat dan memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

Semoga Allah membimbing kita agar setiap kebaikan dilakukan dengan niat yang tulus, cara yang benar, dan kepedulian kepada sesama. Semoga kita tidak hanya rajin menebarkan kebaikan, tetapi juga terus belajar menjaga keikhlasan dalam setiap langkah.

Iwan Muhajirin
14 Oktober 2026