Mari Menjaga Hati Agar Tidak Terjebak Dalam Keraguan

Carilah jawaban melalui sumber yang tepercaya, bukan sekadar mengikuti suara yang paling keras atau pendapat yang paling banyak mendapat dukungan. (Foto : JPI)

FAKTA – Di lingkungan pergaulannya, seorang pria dikenal terbuka dan mudah bergaul. Ia memiliki banyak teman dengan beragam pandangan. Mereka terbiasa berdiskusi secara demokratis: siapa pun boleh berpendapat, mengajukan kritik, bahkan melontarkan candaan yang kadang tajam. Perbedaan tidak membuat mereka bermusuhan. Justru itulah yang membuat pertemanan mereka menyenangkan.

Namun, suatu malam, suasana diskusi berubah ketika pembicaraan menyentuh masalah agama. Pendapatnya dipertanyakan bertubi-tubi. Ada kritik serius, ada pula komentar bernada gurauan yang membuat teman-temannya tertawa. Ia ikut tersenyum, tetapi diam-diam mulai bimbang. Apakah pendapatnya memang keliru, atau ia hanya merasa terdesak oleh banyaknya pertanyaan? Malam itu ia merenung. Ia menyadari bahwa keterbukaan bukan berarti semua hal harus diragukan, dan kebebasan berpendapat bukan alasan untuk mempermainkan kebenaran. Ia perlu terus belajar, tetapi juga harus memiliki pegangan yang jelas.

Alhamdulillah, Allah memberikan kita akal untuk berpikir dan Al-Qur’an sebagai petunjuk kehidupan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan kita dalam menerima dan menyampaikan kebenaran.

Allah berfirman:

اَمْ تُرِيْدُوْنَ اَنْ تَسْـَٔلُوْا رَسُوْلَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوْسٰى مِنْ قَبْلُ ۗ وَمَنْ يَّتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْاِيْمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ

“Ataukah kamu hendak meminta kepada Rasulmu (Muhammad) seperti halnya Musa (dahulu) pernah diminta (oleh Bani Israil)? Barang siapa mengganti iman dengan kekafiran, maka sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 108)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini memperingatkan kaum beriman agar tidak meniru sikap sebagian Bani Israil yang mengajukan permintaan kepada Nabi Musa dengan cara yang tidak patut. Ayat ini mengingatkan kita bahwa pertanyaan seharusnya ditujukan untuk mencari petunjuk, bukan untuk membantah atau menghindari kebenaran.

Buya Hamka mengingatkan bahwa iman menuntut kesungguhan hati dalam menerima petunjuk. Bertanya, berpikir, dan berdiskusi adalah hal yang baik. Namun, ketika kebenaran telah jelas berdasarkan petunjuk yang dapat dipercaya, kita perlu berani menerimanya dan memperbaiki diri.

CERMIN DIRI

Apakah kita mampu menerima kritik tanpa merasa direndahkan? Apakah kita berani mengoreksi pendapat sendiri ketika terbukti keliru? Dan ketika berbicara tentang agama, apakah kita sungguh-sungguh mencari kebenaran atau sekadar ingin memenangkan perdebatan?

Mari tetap terbuka terhadap pertanyaan dan kritik. Jangan malu mengakui bahwa kita belum tahu. Carilah jawaban melalui sumber yang tepercaya, bukan sekadar mengikuti suara yang paling keras atau pendapat yang paling banyak mendapat dukungan.

Namun, keterbukaan juga harus disertai tanggung jawab. Jangan menjadikan agama sebagai bahan olok-olok, dan jangan pula menggunakan keyakinan untuk menutup pintu bagi pertanyaan yang tulus.

Mari menjaga hati agar tidak terjebak dalam keraguan. Kita boleh terbuka dalam berdiskusi, tetapi tetap harus teguh dalam mencari kebenaran. Sebab tujuan belajar bukan sekadar menjadi pandai berdebat, melainkan semakin mengenal petunjuk Allah dan semakin bersedia mengikutinya.

Oleh Iwan Muhajirin

Pendiri dan Pengelola Jejak Pemimpin Institute

10 Oktober 2026