Mari Melepaskan Dendam Tanpa Kehilangan Prinsip

Mari belajar melepaskan dendam tanpa harus membenarkan kesalahan. (Foto : JPI)

PESAN INDAH AL-QUR’AN 0107

SWARANATA, SIDOARJO – Suatu sore, seorang pria lansia duduk di ruang tamunya sambil memandangi sebuah foto lama. Dalam foto itu, ia berdiri berdampingan dengan kerabat yang pernah menyakitinya.

Bertahun-tahun berlalu, tetapi luka itu belum sepenuhnya hilang. Ia masih menyimpan pesan lama yang bisa digunakan untuk membuka aib orang tersebut.

Bahkan, sesekali terlintas keinginan untuk membalas agar orang itu merasakan sakit yang sama.

Namun, ketika mendengar kabar bahwa kerabatnya sedang mengalami kesulitan, tangannya berhenti di atas layar ponsel.

Ia merenung, “Apakah aku ingin hidup tenang, atau terus membawa luka ini sampai akhir hayat?”

Ia akhirnya memilih tidak membalas. Bukan karena menganggap kesalahan itu benar, melainkan karena tidak ingin kebencian menguasai sisa hidupnya.

Alhamdulillah, Allah masih memberi kita kesempatan untuk memperbaiki hati dan memilih jalan yang lebih baik. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan kita dalam kesabaran dan kemuliaan akhlak.

Allah berfirman:

وَدَّ كَثِيْرٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِكُمْ كُفَّارًاۖ حَسَدًا مِّنْ عِنْدِ اَنْفُسِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّۚ فَاعْفُوْا وَاصْفَحُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman, menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka, maafkanlah dan berlapang dadalah sampai Allah memberikan perintah-Nya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 109)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini mengungkap kedengkian sebagian Ahli Kitab yang menginginkan orang beriman kembali kepada kekafiran.

Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk memaafkan dan berlapang dada sampai datang ketetapan-Nya.

Buya Hamka mengingatkan bahwa memaafkan membutuhkan kebesaran jiwa. Kita tidak harus membalas setiap perlakuan buruk.

Menahan diri dari dendam bukan tanda kelemahan, melainkan kemampuan mengendalikan hati.

CERMIN DIRI

Apakah masih ada orang yang kesalahannya terus kita simpan dalam ingatan? Apakah kita masih menunggu kesempatan untuk membalasnya?

Mari belajar melepaskan dendam tanpa harus membenarkan kesalahan. Memaafkan bukan berarti membiarkan kezaliman berulang atau menghapus batas yang perlu dijaga.

Kita tetap boleh menegakkan kebenaran, melindungi diri, dan mencari penyelesaian yang adil tanpa memelihara kebencian.

Mari melepaskan dendam tanpa kehilangan prinsip. Jangan biarkan kesalahan orang lain mengambil terlalu banyak ruang dalam hati kita hingga menghalangi kedamaian dan kebaikan yang masih bisa kita lakukan.

Iwan Muhajirin

Pendiri dan Pengelola Jejak Pemimpin Institute

11 Oktober 2026