FAKTA – Suatu sore, seorang wanita lansia duduk di depan lemari kecil yang sudah menemaninya puluhan tahun. Tangannya memegang sebuah foto lama yang mulai menguning.
Ia tersenyum, lalu matanya berkaca-kaca. Banyak hal dalam hidupnya ternyata sudah berubah: anak-anak yang dahulu selalu berada di rumah kini memiliki keluarga sendiri, pekerjaan yang pernah menjadi kebanggaan sudah lama ditinggalkan, dan orang-orang yang dulu akrab sebagian telah pergi mendahuluinya.
Ia sempat bergumam, “Mengapa semuanya harus berubah?” Namun kemudian ia tersenyum kembali. Ia sadar, tidak semua yang berubah adalah kehilangan. Ada perubahan yang justru membuka ruang bagi sesuatu yang lebih baik. Kita hanya sering belum mampu melihat hikmahnya ketika perubahan itu sedang terjadi.
Alhamdulillah, Allah mengajarkan kita melalui Al-Qur’an bahwa Dia Mahakuasa mengatur kehidupan sesuai kehendak dan hikmah-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang mengajarkan kita untuk tunduk kepada ketetapan Allah dengan hati yang penuh keyakinan.
Allah berfirman:
مَا نَنْسَخْ مِنْ اٰيَةٍ اَوْ نُنْسِهَا نَاْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَآ اَوْ مِثْلِهَا ۗ اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Ayat mana pun yang Kami nasakh (batalkan) atau Kami jadikan terlupakan, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu?” (QS. Al-Baqarah: 106)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan naskh, yaitu ketika Allah menetapkan perubahan pada sebagian ketentuan wahyu dengan ketentuan yang lebih baik atau yang sebanding, sesuai hikmah dan kehendak-Nya. Ini menunjukkan bahwa Allah Mahakuasa menetapkan syariat dan mengaturnya sesuai kebutuhan umat manusia.
Buya Hamka mengajak kita memahami bahwa perubahan dalam ketetapan Allah bukanlah tanda kelemahan atau ketidaktetapan, melainkan bagian dari hikmah-Nya dalam membimbing manusia. Karena itu, seorang mukmin belajar tunduk kepada petunjuk Allah, meskipun tidak selalu langsung memahami seluruh hikmah di baliknya.
CERMIN DIRI
Dalam hidup, ada hal-hal yang harus kita lepaskan. Ada kebiasaan yang perlu ditinggalkan, rencana yang harus diubah, dan keadaan yang tidak lagi sama seperti dahulu.
Mari belajar tidak tergesa-gesa menganggap setiap perubahan sebagai keburukan. Yang perlu kita tanyakan bukan hanya, “Mengapa Allah mengambil ini dari kita?” tetapi juga, “Apa yang sedang Allah ajarkan melalui perubahan ini?”
Namun, kita juga perlu berhati-hati: ayat ini secara khusus berbicara tentang ketetapan wahyu, bukan janji bahwa setiap kehilangan dalam kehidupan pasti akan diganti dengan sesuatu yang lebih besar secara duniawi.
Mari memercayai hikmah di balik perubahan. Kita mungkin belum memahami seluruh rencana Allah hari ini, tetapi kita dapat tetap berjalan dengan iman, karena Allah Mahakuasa dan tidak pernah kehilangan kendali atas kehidupan kita.
Oleh Iwan Muhajirin
8 Oktober 2026






