FAKTA – Suatu malam, seorang pria lansia duduk sendirian di teras rumahnya. Rambutnya telah memutih.
Tangannya yang dahulu kuat kini mulai gemetar ketika memegang secangkir teh. Ia teringat perjalanan hidupnya: masa ketika ia merasa mampu mengatasi segala persoalan, saat jabatan membuat orang menghormatinya, dan ketika uang seolah bisa membuka banyak pintu.
Namun, waktu perlahan mengajarinya bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan kekuasaan, tidak semua kehilangan dapat dicegah, dan tidak semua keinginan bisa diwujudkan.
Ia menatap langit malam, lalu berbisik, “Selama ini, kepada siapa sebenarnya aku bersandar?” Pertanyaan itu membuatnya terdiam. Ia mulai memahami bahwa manusia bisa memiliki banyak hal, tetapi tetap membutuhkan pertolongan Allah setiap saat.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Pemilik langit dan bumi serta seluruh kehidupan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang mengajarkan kita untuk menggantungkan harapan kepada Allah tanpa meninggalkan ikhtiar.
Allah berfirman:
اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ وَمَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ
“Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi? Dan tidak ada bagimu pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Baqarah: 107)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memiliki kekuasaan mutlak atas langit dan bumi. Dia menetapkan segala sesuatu menurut kehendak dan hikmah-Nya. Tidak ada yang dapat menghalangi ketetapan-Nya, dan tidak ada pelindung maupun penolong sejati yang dapat menggantikan pertolongan-Nya.
Buya Hamka mengajak kita menyadari bahwa kekuasaan manusia selalu terbatas, sedangkan kekuasaan Allah meliputi seluruh alam. Karena itu, manusia tidak semestinya menyombongkan kedudukan atau menggantungkan seluruh harapan kepada sesama manusia. Kita boleh meminta bantuan orang lain, tetapi hati tetap harus bersandar kepada Allah.
CERMIN DIRI
Ketika menghadapi persoalan, kepada siapa kita pertama kali mencari pertolongan? Apakah kita hanya mengandalkan uang, jabatan, koneksi, dan kemampuan diri sendiri, lalu baru mengingat Allah ketika semuanya tidak berhasil?
Mari tetap berusaha, bekerja, berobat ketika sakit, meminta nasihat, dan menerima bantuan sesama. Namun, jangan sampai ikhtiar membuat kita lupa kepada Allah. Gunakan apa yang kita miliki sebagai sarana kebaikan, bukan sebagai alasan untuk merasa paling berkuasa.
Semakin bertambah usia, semakin banyak pengalaman yang seharusnya mengajarkan kita tentang keterbatasan diri dan kebesaran Allah.
Mari bersandar kepada Pemilik segala kekuasaan. Sebab manusia bisa menjadi jalan pertolongan, tetapi Allah-lah tempat kita menggantungkan harapan, memohon perlindungan, dan menyerahkan hasil dari setiap ikhtiar.
Oleh Iwan Muhajirin
Pendiri dan Pengelola Jejak Pemimpin Institute
9 Oktober 2026






