Ketika Anak Merasa Cukup dengan Kesalehan Orang Tuanya

Bangga memiliki orang tua saleh, tetapi lupa bahwa kita harus menempuh jalan kebaikan dengan usaha sendiri. (Foto : JPI)

QS. Al-Baqarah: 134

PESAN INDAH AL-QUR’AN NOMOR 0131

FAKTA – Merasa Aman karena Terlahir dari Keluarga Saleh

“Bapak saya itu orang masjid. Sejak muda beliau tidak pernah meninggalkan salat berjamaah. Ibu juga rajin mengaji. Insyaallah keluarga kami baik-baik saja.”

Kalimat itu meluncur ringan dari seorang pemuda ketika temannya mengingatkan agar ia lebih serius menjaga salat. Ia mengatakannya sambil tersenyum, seolah-olah kesalehan kedua orang tuanya sudah cukup menjadi bekal bagi kehidupannya sendiri.

Padahal, beberapa kali ia sengaja melewatkan salat karena pekerjaan. Al-Qur’an yang dahulu sering dibacakan ibunya kini lebih banyak tersimpan di rak. Nasihat ayahnya dianggap terlalu kuno untuk kehidupan zaman sekarang.

Ia mencintai kedua orang tuanya. Ia juga bangga dengan reputasi keluarga yang dikenal baik di lingkungan masyarakat. Namun, tanpa disadari, ia mulai menjadikan kesalehan orang tuanya sebagai alasan untuk merasa aman, sementara dirinya sendiri belum sungguh-sungguh memperbaiki amal.

Bukankah kita juga bisa terjebak dalam perasaan seperti itu? Bangga memiliki orang tua saleh, tetapi lupa bahwa kita harus menempuh jalan kebaikan dengan usaha sendiri.

Allah mengingatkan manusia melalui kisah generasi terdahulu: kemuliaan para nabi dan orang saleh tidak dapat menggantikan tanggung jawab amal generasi sesudahnya.

QS. Al-Baqarah: 134

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْـَٔلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Pesan Tiga Tafsir

Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hubungan keturunan dengan para nabi dan orang saleh tidak akan memberi manfaat apabila seseorang tidak melakukan kebaikan. Mereka memiliki amal sendiri, dan kita pun memiliki amal sendiri. Kemuliaan nasab tidak menggantikan amal saleh.

Tafsir Al-Azhar – Buya Hamka

Dalam rangkaian pembahasan ayat-ayat tentang Nabi Ibrahim dan keturunannya, pesan yang ditekankan ialah bahwa kebenaran agama tidak ditentukan oleh kebanggaan terhadap golongan atau leluhur. Seseorang harus mengikuti ajaran yang benar dan membuktikannya dalam kehidupannya sendiri. Kebanggaan sejarah tidak boleh membuat seseorang mengabaikan kewajiban hari ini.

Tafsir Al-Jalalain

Ayat ini menunjuk kepada umat terdahulu, termasuk Ibrahim, Ya‘qub, dan keturunan mereka. Mereka memperoleh balasan atas amalnya, sedangkan generasi yang diajak bicara memperoleh balasan atas amalnya sendiri. Masing-masing memikul tanggung jawabnya.

Cermin Diri

Orang tua dapat mewariskan rumah, harta, pendidikan, nama baik, bahkan lingkungan yang penuh nilai agama. Namun, mereka tidak dapat menjalankan salat untuk anak-anaknya, menggantikan kejujuran dalam pekerjaan, atau mempertanggungjawabkan pilihan hidup anaknya di hadapan Allah.

Jangan hanya bangga karena dilahirkan dari keluarga saleh. Jadilah generasi yang meneruskan kesalehan itu melalui amal nyata.

Menghormati orang tua bukan sekadar mengenang kebaikan mereka, melainkan berusaha menjaga nilai-nilai yang telah mereka tanamkan.

Doa

Ya Allah, ampunilah kedua orang tua kami. Limpahkan rahmat kepada mereka sebagaimana mereka telah mendidik dan menyayangi kami. Jangan biarkan kami terlena oleh kebanggaan terhadap keluarga dan leluhur. Bimbinglah kami agar mampu meneruskan kebaikan mereka dengan iman, ibadah, dan amal saleh. Aamiin.

Iwan Muhajirin

Story First. Knowledge Later. Legacy Forever.