PESAN INDAH AL-QUR’AN 0100
FAKTA – Suatu hari saya mendengar seseorang yang sedang menghadapi masalah rumah tangga bertanya, “Adakah cara cepat agar keadaan ini berubah?” Saya memahami kegelisahannya.
Ketika hati sedang terdesak, kita mudah tergoda mencari jalan pintas, bahkan jalan yang sebenarnya tidak diridai Allah. Saat itu saya berpikir, betapa berbahayanya ketika keinginan menyelesaikan masalah membuat kita lupa bertanya: “Apakah cara yang saya pilih ini mendekatkan saya kepada Allah atau justru menjauhkan saya dari-Nya?”
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang membimbing kita melalui Al-Qur’an agar dapat membedakan jalan yang membawa keselamatan dan jalan yang membawa kebinasaan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, Rasul yang mengajarkan kita untuk bertawakal kepada Allah dan menjauhi segala sesuatu yang merusak iman.
Allah berfirman:
وَاتَّبَعُوْا مَا تَتْلُوا الشَّيٰطِيْنُ عَلٰى مُلْكِ سُلَيْمٰنَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمٰنُ وَلٰكِنَّ الشَّيٰطِيْنَ كَفَرُوْا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَآ اُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوْتَ وَمَارُوْتَ ۗ وَمَا يُعَلِّمٰنِ مِنْ اَحَدٍ حَتّٰى يَقُوْلَآ اِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُوْنَ بِهٖ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهٖ ۗ وَمَا هُمْ بِضَاۤرِّيْنَ بِهٖ مِنْ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَيَتَعَلَّمُوْنَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۗ وَلَقَدْ عَلِمُوْا لَمَنِ اشْتَرٰىهُ مَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۗ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهٖٓ اَنْفُسَهُمْ ۗ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di Babilonia, yaitu Harut dan Marut. Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanyalah cobaan bagimu, sebab itu janganlah kafir!’ Lalu mereka mempelajari dari keduanya apa yang dapat memisahkan antara seorang suami dan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sungguh, mereka telah mengetahui bahwa siapa yang membeli atau memilihnya, niscaya tidak mendapat keuntungan di akhirat. Dan sungguh, sangat buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 102)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini membantah tuduhan terhadap Nabi Sulaiman. Sulaiman tidak kafir dan tidak mengajarkan sihir; justru setanlah yang mengajarkan sihir kepada manusia.
Ayat ini juga menegaskan bahwa sihir dapat menjadi fitnah yang menyesatkan, bahkan digunakan untuk merusak hubungan suami istri. Namun, tidak ada sesuatu pun yang dapat memberi mudarat kecuali dengan izin Allah. Orang yang memilih jalan tersebut sebenarnya memilih sesuatu yang membahayakan dirinya dan tidak memberikan manfaat di akhirat.
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengingatkan kita agar tidak tertipu oleh sesuatu yang tampak sebagai jalan keluar, tetapi sebenarnya membawa manusia semakin jauh dari Allah. Ilmu dan kemampuan yang digunakan untuk kejahatan, merusak hubungan, atau mencari keuntungan dengan cara yang batil pada akhirnya akan merugikan diri sendiri.
Cermin Diri
Ketika menghadapi masalah, kepada siapa kita mencari pertolongan? Apakah kita semakin mendekat kepada Allah melalui doa, sabar, ikhtiar yang halal, dan nasihat yang benar? Ataukah kita mulai tergoda mencari jalan pintas yang tidak jelas?
Jangan biarkan kesulitan membuat kita kehilangan arah. Jika rumah tangga bermasalah, perbaiki komunikasi. Jika hati terluka, cari nasihat yang amanah. Jika hidup terasa berat, perbanyak doa dan ikhtiar yang halal. Jika membutuhkan pertolongan, mintalah kepada Allah dan tempuh jalan yang benar.
Mari menjaga iman dari jalan yang menyesatkan. Tidak semua jalan pintas membawa kita lebih cepat sampai. Ada jalan yang justru menjauhkan kita dari Allah dan merusak diri sendiri.
Semoga Allah menjaga hati kita, keluarga kita, dan langkah kita dari segala sesuatu yang membahayakan iman dan kehidupan. (***)
Oleh Ustadz Iwan Muhajirin
Pendiri dan Pengelola Jejak Pemimpin Institute
4 Oktober 2026






