Opini  

Dahsyat, seperti Krismon 1998

Gambar Ilustrasi AI

Catatan Subakti A.Sidik

Wartawan Senior

Ya, gempa yang mengguncang pasar modal Indonesia alias BEI kali ini memang paling dahsyat Bro. Paling tidak, selama beberapa dekade terakhir.

Bayangkan, pada hari – hari di pekan ini.  IHSG turunnya landai – landai saja. Hanya antara  1% – 2%.

Namun Jumat  16 Oktober 2026 kemarin terjun bebas. Angka penurunannya meledak,  hingga mencapai 11, 57%. Luar biasa. Gila bener ….!!!

Ini hanya  terpaut tipis dengan saat menjelang runtuhnya pemerintahan Suharto pada 1998.

Saat itu, terjadi krisis moneter (krismon). Pada 8 Januari 1998, IHSG longsor berat hingga mencapai 11,94. Ini adalah rekor terburuk sepanjang sejarah yang menimpa Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kepanikan investor Jumat kemarin sungguh luar biasa.  Wajah – wajah tegang para investor menatap layar monitor pergerakan harga saham.

Mata mereka terbelalak melihat 775 saham tumbang berguguran. Investor asing sigap. Langsung menarik dananya.

Hanya dalam sehari, dana asing terbang melayang sebesar Rp 3,7 triliun. Yang terbesar, dari penjualan saham BBCA sebesar Rp 2, 3 triliun.

Disusul saham BBRI sebesar Rp 1,15 triliun. Sedangkan saham BMRI senilai Rp 868 miliar.  Sedangkan kurs rupiah terhadap dolar AS, yang dibuka Rp 17.980,  ikut melemah. Pada penutupan, angkanya mencapai Rp 18.000.

Investor mana yang tak panik melihat kondisi begini.  Investor kelas “unyu – unyu”, kawatir portofolio tersedot habis. Yang kelas paus, juga gemetaran.

Bayangkan dalam hitungan menit dan jam, portofolio berkurang miliaran. Bahkan trilunan rupiah. Yang jantungan, bahaya ini. Nyali – nyali kecil, langsung sesak nafas. Tak tahu harus melakukan apa.

Namun investor institusi, dana pensiun, mengetahui harga anjlok, sigap serok. Saham – saham Bigcap perbankan yang dilepas asing, ditampung.

Ini memang saat bagus melakukan akumulasi untuk jangka panjang.  Investor berpengalaman  yang masih ada dana, tentu akan melakukan hal serupa.

Reaksi Berlebihan

Dibandingkan dengan kondisi 1998, “Malapetaka Jumat 16 Oktober 2026” ini sangat jauh berbeda.  Ya, betul amat beda guys.

Pada Krismon tahun 1998:  pertumbuhan ekonomi minus 14%. Parah……..!!!. Sangat parah ini. Inflasi melonjak 77,63%. Bayangkan. Harga barang naik dua kali lipat. Harga pangan mencekik leher.

Cadangan devisa menipis. Banyak industri bangkrut. Pabrik tutup. PHK merajalela. Pengangguran melejit.  Dan rupiah ? . Dalam hitungan bulan, tadinya kurs rupiah terhadap dolar AS hanya Rp 2.400.

Secepat kilat terbang tinggi ke atas langit. Berapa coba? Sebesar Rp 16.000 – Rp 16.800 untuk satu dolar AS.  Kejadian luar biasa. Ngeri….!!!

Ibaratnya,  cepatnya kenaikan kurs ini secepat lajunya pesawat jet Lockheed SR – 71 “Blackbird”. Itu lho pesawat tercepat sedunia yang  belum ada tandingya. Mampu melesat 3.529 km/jam.

Jangan dibandingkan dengan KA cepat Whoosh Jakarta – Bandung, yang kecepatannya hanya maksimal 400 km/jam.

Namun pada kondisi sekarang: pertumbuhan ekonomi 5,29% (Q2/2026). Ini pertumbuhan tertinggi salah satu negara – negara di dunia. Membanggakan lho. Bandingkan dengan negara – negara maju yang hanya mampu tumbuh 3%.

Sedangkan inflasi kita 3,19%. Artinya masih dalam sasaran BI 2,5% plus- minus satu persen. Cadangan devisa sebesar US $ 146 miliar dolar.  Sangat kuat.  Perbankan juga sehat, modal cukup. Kreditpun tumbuh terjaga.

Kenapa terjadi gempa dahsyat  begitu ? Agaknya ini hanya karena reaksi pasar yang berlebihan. Keterlaluan Guys. Gara – garanya, ada berita: MSCI sedang membuka konsultasi untuk menurunkan status pasar modal Indonesia.

Dari “Emerging Market” (pasar negara berkembang) menjadi “Standlone Market” (pasar mandiri). Alasannya, pasar Indonesia kurang transparan dan ada dugaan adanya perdagangan yang terkondinasi.

Jadi belum final diturunkan lho Bro. Baru kordinasi. Ya baru “cuap – cuap”. Belum diputuskan.

Keputusannya, apakah pasar modal Indonesia tetap di “emerging market” seperti sekarang. Atau drop ke “standlone market” baru diumumkan 30 Juni 2027.  Masih delapan bulan lagi Bro.  Masih lama, kan?

Lha kok reaksinya diluar dugaan. Menggelegar….!!!. Seperti bom berkekuatan besar. Memang dampak itu tak sampai pada wong cilik. Mereka memang awam dunia pasar modal. Jadinya ya tenang – tenang saja.

Orang desa memang tak banyak ngerti saham.  Pun tak peduli lemahnya rupiah terhadap dolar ? Apakah mereka sudah terhibur dengan ucapan Presiden Prabowo : “orang desa gak pake dolar”.? He….he..he. (***)