QS. Al-Baqarah: 128
PESAN INDAH AL-QUR’AN — NOMOR 0126
FAKTA – Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang masih memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri dan membimbing keluarga. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam mencintai dan mendidik umatnya.
Malam itu, seorang ibu berdiri lama di depan pintu kamar anaknya. Ia baru saja mengajak putranya salat, tetapi jawabannya singkat, “Nanti saja, Bu.”
Pintu kamar tertutup. Sang ibu kembali ke ruang tengah. Di atas meja masih ada makanan yang disiapkannya untuk anak yang dahulu selalu bercerita kepadanya. Kini, percakapan mereka semakin pendek. Ajakan beribadah sering berakhir dengan alasan. Ia ingin menasihati, tetapi takut kata-katanya justru membuat sang anak semakin menjauh.
Malam itu, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia pernah mengajarkan doa, menemani anaknya mengaji, dan mengingatkan salat. Namun, ketika anak itu tumbuh dewasa, ia menyadari bahwa mencintai anak tidak berarti mampu mengendalikan seluruh pilihan hidupnya. Ia hanya bisa terus berusaha, memberi teladan, membuka pintu percakapan, dan memohon pertolongan Allah.
Air matanya jatuh ketika berdoa. Ia teringat bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail pun memohon kepada Allah agar diri dan keturunan mereka menjadi orang-orang yang berserah diri kepada-Nya. Jika dua nabi mulia itu tetap berdoa untuk keturunannya, siapa dirinya hingga merasa cukup hanya dengan usaha sendiri?
PESAN INDAH DARI AL-QUR’AN
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 128)
1. Tafsir Ibnu Katsir
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail memohon agar tetap tunduk dan taat kepada Allah, serta agar keturunan mereka menjadi umat yang berserah diri kepada-Nya. Doa ini mengajarkan bahwa kesalehan diri dan keturunan harus terus dimohonkan kepada Allah, disertai usaha untuk menjaga ketulusan ibadah.
2. Tafsir Al-Azhar — Buya Hamka
Doa ini mengingatkan bahwa orang tua tidak cukup hanya membangun kehidupan lahiriah anak. Mereka perlu berharap agar anak cucunya memiliki kepatuhan kepada Allah. Permohonan ampun dalam doa tersebut juga mengajarkan kerendahan hati: manusia tetap perlu kembali kepada Allah dan memohon rahmat-Nya.
3. Tafsir Al-Jalalain
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail memohon agar diri mereka dan sebagian keturunannya menjadi umat yang tunduk kepada Allah. Mereka juga meminta petunjuk mengenai tata cara ibadah dan memohon tobat. Permohonan tobat itu menjadi teladan kerendahan hati bagi keturunan mereka.
REFLEKSI HARI INI
Anak bukan sekadar pewaris nama, harta, atau pendidikan. Ia juga membutuhkan bimbingan agar mengenal Tuhannya. Namun, bimbingan bukan berarti memaksa dengan kemarahan. Terkadang, nasihat perlu disampaikan dengan kelembutan, teladan, kesabaran, dan doa yang tidak pernah putus.
Jangan berhenti mengetuk pintu hati anak dengan kasih sayang. Kita tidak menguasai hatinya, tetapi kita dapat terus berusaha menjadi jalan kebaikan baginya.
DOA
Ya Allah, teguhkanlah iman kami dan anak cucu kami. Lembutkan hati kami ketika membimbing mereka, jauhkan kami dari kesombongan dan kemarahan, serta tuntunlah keluarga kami untuk selalu kembali kepada-Mu. Terimalah tobat dan doa kami. Aamiin.
Iwan Muhajirin, 29 Oktober 2026
Pesan Indah Al-Qur’an
Story First. Knowledge Later. Legacy Forever






