Ketika Seseorang Malu Mempertahankan Prinsip Agamanya

Kita tidak harus memusuhi lingkungan untuk mempertahankan iman. (Foto : JPI)

PESAN INDAH AL-QUR’AN — NOMOR 0128

QS. Al-Baqarah: 130

FAKTA – Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menunjukkan jalan kebenaran. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang mengajarkan keteguhan iman dan kemuliaan akhlak.

Siang itu, ia duduk bersama rekan-rekan kerjanya di sebuah restoran. Ketika waktu salat tiba, ia melirik jam tangan. Ada keinginan untuk izin sebentar dan menunaikan salat. Namun, ia mengurungkan niatnya. Ia takut dianggap terlalu fanatik, tidak bisa bergaul, atau berbeda sendiri dari teman-temannya.

Beberapa kali kejadian serupa terulang. Ia mulai memilih diam ketika prinsip agamanya dipertanyakan. Ia tertawa mengikuti candaan yang sebenarnya tidak nyaman baginya. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, ia menyembunyikan kebiasaan ibadah agar tidak menjadi bahan pembicaraan.

Malam itu, ketika sendirian, ia membuka kembali foto masa kecilnya. Ia teringat pesan ayahnya: “Nak, jangan pernah malu menjadi orang yang taat. Kita boleh hidup di mana saja, bergaul dengan siapa saja, tetapi jangan kehilangan pegangan.”

Kalimat itu membuatnya terdiam. Ia bertanya kepada dirinya sendiri: sejak kapan penerimaan manusia menjadi lebih penting daripada keridaan Allah?

Ia teringat Nabi Ibrahim. Di tengah masyarakat yang menyimpang dari tauhid, Ibrahim tidak mengikuti kebiasaan yang salah hanya demi diterima. Ia tetap teguh memilih jalan Allah.

Terkadang, ujian iman bukan datang dari ancaman besar, melainkan dari keinginan sederhana untuk diterima oleh semua orang.

PESAN INDAH DARI AL-QUR’AN

وَمَنْ يَّرْغَبُ عَنْ مِّلَّةِ اِبْرٰهٖمَ اِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهٗۗ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنٰهُ فِى الدُّنْيَاۚ وَاِنَّهٗ فِى الْاٰخِرَةِ لَمِنَ الصّٰلِحِيْنَ

“Dan orang yang membenci agama Ibrahim, hanyalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Sungguh, Kami telah memilihnya (Ibrahim) di dunia ini dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang saleh.” (QS. Al-Baqarah: 130)

1. Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa agama Ibrahim adalah jalan tauhid yang lurus, yaitu beribadah hanya kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya. Berpaling dari jalan tersebut merupakan kerugian bagi diri sendiri. Allah telah memilih Ibrahim sebagai hamba dan rasul-Nya yang mulia.

2. Tafsir Al-Azhar — Buya Hamka

Pesan ayat ini mengingatkan manusia agar tidak meninggalkan agama tauhid yang menjadi jalan hidup Nabi Ibrahim. Dalam refleksi kehidupan, manusia perlu menjaga pegangan iman meskipun lingkungan dan keadaan menawarkan jalan yang berbeda.

3. Tafsir Al-Jalalain

Al-Jalalain menjelaskan bahwa orang yang berpaling dari agama Ibrahim adalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Allah telah memilih Ibrahim di dunia dan menjadikannya termasuk orang-orang saleh di akhirat.

REFLEKSI HARI INI

Kita tidak harus memusuhi lingkungan untuk mempertahankan iman. Kita tetap bisa bersikap ramah, menghormati orang lain, dan menjalin persahabatan tanpa mengorbankan prinsip agama.

Jangan sampai kita begitu sibuk mencari penerimaan manusia hingga perlahan kehilangan keberanian untuk mempertahankan kebenaran.

DOA

Ya Allah, teguhkan hati kami dalam iman. Berikan keberanian untuk menjalankan perintah-Mu, kebijaksanaan dalam bergaul, dan keteguhan untuk menjaga prinsip tanpa merendahkan orang lain. Jadikan kami hamba yang istiqamah di jalan-Mu. Aamiin.

Iwan Muhajirin

Pesan Indah Al-Qur’an

Story First. Knowledge Later. Legacy Forever