QS. Al-Baqarah: 131
PESAN INDAH AL-QUR’AN — NOMOR 0129
FAKTA – Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, yang memberikan petunjuk agar manusia tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Malam itu, ia tidak bisa tidur. Surat promosi jabatan yang selama ini dinantikannya hampir berada di tangan. Kariernya akan meningkat, penghasilannya bertambah, dan kepercayaan pimpinan kepadanya semakin besar.
Namun, sore tadi atasannya menyampaikan satu permintaan: ada angka dalam laporan yang harus diubah agar kinerja unit terlihat lebih baik. “Ini hanya penyesuaian. Semua orang juga melakukan hal seperti ini,” kata atasannya.
Ia terdiam. Ia tahu angka itu tidak benar. Mengubahnya berarti menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan. Tetapi menolak permintaan tersebut mungkin membuat kesempatan promosi yang sudah di depan mata menghilang.
Di meja kerjanya, laporan itu masih terbuka. Ia memandangnya lama. Dalam hati muncul pertanyaan: apakah jabatan yang selama ini diperjuangkan layak diperoleh dengan mengorbankan kejujuran?
Ia teringat bahwa selama ini ia selalu berdoa agar Allah memberikan rezeki dan kedudukan yang baik. Namun, apakah ia siap kehilangan kesempatan duniawi ketika harus memilih antara keinginan dirinya dan perintah Allah?
Ia kemudian teringat Nabi Ibrahim. Ketika Allah memerintahkannya untuk berserah diri, Ibrahim menjawab dengan ketegasan yang luar biasa. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada syarat. Ia menyerahkan dirinya kepada Tuhan seluruh alam.
Berserah diri kepada Allah terkadang bukan perkara mengucapkan doa, melainkan keberanian mengambil keputusan ketika kepentingan pribadi bertentangan dengan kebenaran.
PESAN INDAH DARI AL-QUR’AN
اِذْ قَالَ لَهٗ رَبُّهٗٓ اَسْلِمْۙ قَالَ اَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
“(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), ‘Berserahdirilah!’ Dia menjawab, ‘Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.’” (QS. Al-Baqarah: 131)
- Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk tunduk dan ikhlas kepada-Nya. Ibrahim menerima perintah itu dengan penyerahan diri sepenuhnya. Ketundukan tersebut bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan kepatuhan kepada Allah. - Tafsir Al-Azhar — Buya Hamka
Pesan ayat ini menggambarkan penyerahan diri Nabi Ibrahim kepada Allah, Tuhan seluruh alam. Dalam kehidupan, berserah diri berarti menjadikan Allah sebagai tujuan pengabdian, bukan menjadikan kepentingan dunia sebagai penguasa atas prinsip hidup. - Tafsir Al-Jalalain
Al-Jalalain menjelaskan perintah Allah kepada Ibrahim untuk tunduk dan memurnikan agama hanya kepada-Nya. Jawaban Ibrahim menunjukkan ketundukan dan pengabdian kepada Tuhan seluruh alam.
REFLEKSI HARI INI
Jabatan, kekayaan, dan keberhasilan bukanlah sesuatu yang salah. Semuanya dapat menjadi jalan kebaikan jika diperoleh dan digunakan dengan cara yang benar. Namun, ketika kesempatan dunia menuntut kita mengorbankan kejujuran dan ketaatan, di situlah kualitas penyerahan diri kita diuji.
Jangan sampai kita mendapatkan kedudukan di mata manusia dengan mengorbankan kehormatan di hadapan Allah.
DOA
Ya Allah, teguhkan hati kami untuk selalu taat kepada-Mu. Berikan kami keberanian mempertahankan kejujuran, meskipun harus kehilangan kesempatan duniawi. Karuniakan rezeki dan kedudukan yang baik, serta jadikan semuanya jalan untuk semakin dekat kepada-Mu. Aamiin.
Iwan Muhajirin
Pesan Indah Al-Qur’an
Story First. Knowledge Later. Legacy Forever.






