Warisan Apa yang Akan Tetap Hidup Setelah Kita Tiada ?

Warisan terbaik bukan hanya sesuatu yang membuat anak-anak mampu menjalani kehidupan dunia, tetapi juga nilai-nilai yang menuntun mereka tetap berada di jalan Allah sampai akhir hayat. (Foto : JPI)

PESAN INDAH AL-QUR’AN Edisi 0130

FAKTA – Ada sebuah keluarga yang kehidupannya tampak seperti keluarga Muslim pada umumnya. Sepasang suami istri telah menghabiskan puluhan tahun membesarkan anak-anak mereka.

Mereka bekerja keras, menyekolahkan anak-anak hingga perguruan tinggi, membantu ketika membutuhkan biaya, bahkan berusaha memberikan kehidupan yang lebih baik daripada yang pernah mereka rasakan.

Kini anak-anak mereka sudah dewasa, mempunyai pekerjaan, berkeluarga, dan tinggal di tempat yang berbeda.

Suatu hari, dalam sebuah kesempatan berkumpul, sang ayah mengajak anak-anak dan cucunya salat berjamaah.

Tidak semua dapat segera memenuhi ajakan itu. Ada yang masih menyelesaikan pekerjaan, ada yang sibuk dengan anak-anaknya, dan ada pula yang sedang beristirahat setelah perjalanan jauh.

Sang ayah tidak marah. Ia memahami bahwa setiap orang mempunyai kesibukan dan perjalanan hidup masing-masing. Namun, malam itu ada sesuatu yang mengusik pikirannya.

Ia teringat masa ketika anak-anak masih kecil. Dahulu, ia dan istrinya begitu mudah mengajak mereka salat bersama, mengaji, dan mendengarkan nasihat agama.

Kini waktu telah berlalu. Anak-anak tumbuh dewasa, kehidupan semakin kompleks, dan kebiasaan yang dahulu dibangun bersama tidak selalu mudah dipertahankan.

Dalam keheningan malam, sang ayah merenungkan sebuah pertanyaan: “Selama ini, kita sudah berusaha mewariskan pendidikan, pekerjaan, rumah, dan harta kepada anak-anak. Tetapi, sudahkah kita cukup mewariskan kecintaan kepada Allah? Jika suatu saat kami dipanggil pulang, apakah nilai-nilai keimanan yang kami tanamkan akan tetap hidup dalam keluarga ini?”

Pertanyaan itu bukan untuk menyalahkan siapa pun. Justru menjadi pengingat bahwa tanggung jawab orang tua jauh lebih panjang daripada sekadar mengantarkan anak menuju keberhasilan dunia.

ALHAMDULILLAH, SEBUAH PENGINGAT

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah yang senantiasa memberikan petunjuk melalui ayat-ayat-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umat yang istiqamah mengikuti petunjuk beliau.

PESAN ALLAH DALAM QS. AL-BAQARAH: 132

وَوَصّٰى بِهَآ اِبْرٰهٖمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُۗ يٰبَنِيَّ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۝١٣٢

Artinya:

“Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata), ‘Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu. Maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim’.”

MENYELAMI PESAN TIGA KITAB TAFSIR

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini memperlihatkan betapa besar perhatian Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub terhadap keselamatan iman keturunan mereka.

Keduanya tidak hanya menjalankan agama untuk diri sendiri, tetapi juga mewasiatkan agar anak-anak mereka tetap berpegang teguh pada Islam.

Pesan “janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim” bukan berarti manusia dapat menentukan kapan ajal datang, melainkan perintah untuk senantiasa menjaga keislaman dan istiqamah sepanjang kehidupan.

Pesan tersebut semakin menarik ketika kita menghubungkannya dengan penekanan pendidikan dan keteladanan dalam kehidupan keluarga.

Melalui semangat pemikiran Buya Hamka yang tercermin dalam Tafsir Al-Azhar, kita diajak memahami bahwa pendidikan agama bukan sekadar menyampaikan nasihat, tetapi juga membangun kepribadian melalui contoh nyata.

Orang tua tidak cukup hanya menginginkan anak-anaknya menjadi pribadi yang baik; mereka juga perlu berusaha menghadirkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Tafsir Al-Jalalain memberikan penegasan yang ringkas: Allah telah memilih agama Islam bagi mereka, sehingga mereka diperintahkan untuk senantiasa berpegang teguh kepadanya hingga akhir hayat.

Jika ketiga penafsiran ini kita renungkan bersama, terdapat satu pesan yang sangat kuat: keimanan bukan sekadar sesuatu yang diwariskan melalui kata-kata, melainkan harus terus dipelihara melalui pendidikan, keteladanan, dan kebiasaan hidup. Inilah amanah orang tua yang tidak berhenti ketika anak-anak telah dewasa.

CERMIN DIRI

Mari kita bertanya dengan penuh kerendahan hati:

* Apakah kita telah mengajak anak-anak mencintai salat melalui keteladanan?

* Sudahkah rumah kita menjadi tempat tumbuhnya kecintaan kepada Al-Qur’an?

* Apakah kita menyediakan waktu untuk berbicara tentang Allah bersama keluarga?

* Jika kelak kita tiada, kebiasaan baik apa yang akan tetap diteruskan anak dan cucu kita?

Tidak ada orang tua yang sempurna. Kita semua sedang belajar, memperbaiki diri, dan berusaha menjalankan amanah sebaik mungkin. Selagi Allah memberikan kesempatan, mari terus menanamkan kebaikan dengan kelembutan dan keteladanan.

LEGACY: WARISAN YANG TERUS HIDUP

Harta dapat diwariskan.

Rumah dapat berpindah tangan.

Jabatan dan kedudukan akan ditinggalkan.

Namun, keimanan, keteladanan, dan kecintaan kepada Allah yang ditanamkan dengan kasih sayang dapat terus tumbuh dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub memberikan teladan bahwa salah satu wujud cinta terbesar orang tua adalah memikirkan keselamatan iman anak-anaknya, bahkan hingga setelah mereka sendiri tiada.

Semoga kelak, ketika kita sudah tidak berada di tengah keluarga, anak-anak dan cucu-cucu kita tetap mengenal Allah, menjaga salat, membaca Al-Qur’an, serta meneruskan kebaikan yang pernah kita ajarkan.

Sebab, warisan terbaik bukan hanya sesuatu yang membuat anak-anak mampu menjalani kehidupan dunia, tetapi juga nilai-nilai yang menuntun mereka tetap berada di jalan Allah sampai akhir hayat.

Ditulis oleh: Iwan Muhajirin

Pesan Indah Al-Qur’an