Indonesia Dorong Green Jobs, 5,3 Juta Pekerjaan Hijau Ditargetkan Tercipta pada 2029

Bappenas bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam Indonesia’s Green Jobs Conference (IGJC) 2026 yang digelar di Gedung Bappenas, Jakarta, Rabu (2/9/2026). (Foto : Dina)

Jakarta, majalahfakta.id – Kementerian PPN/Bappenas bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat pengembangan pekerjaan hijau atau green jobs di Indonesia.

Upaya tersebut mengemuka dalam Indonesia’s Green Jobs Conference (IGJC) 2026 yang digelar di Gedung Bappenas, Jakarta, Rabu (2/9/2026). Mengusung tema From Commitment to Creation, forum ini mempertemukan pemerintah, dunia usaha, akademisi, lembaga pendidikan, pekerja, komunitas, dan mitra pembangunan untuk membahas masa depan tenaga kerja di tengah transisi menuju ekonomi hijau.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan, transformasi hijau tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi dan penggunaan energi bersih, tetapi juga membuka peluang besar bagi penciptaan lapangan kerja baru.

“Indonesia telah menetapkan arah transformasi hijau pada agenda pembangunan nasional. Kita menargetkan peningkatan porsi Energi Baru dan Terbarukan dalam bauran energi primer, dari 20 persen pada 2025 menjadi 70 persen pada 2045. Selisih 50 persen ini akan menciptakan lapangan kerja baru yang tidak hanya untuk kepentingan Indonesia dan negara tetangga kita, tetapi juga untuk kepentingan dunia,” ujar Rachmat.

Menurut Rachmat, kebutuhan tenaga kerja akan terus berubah seiring perkembangan ekonomi hijau. Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga perlu menyiapkan pekerja agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan proses produksi.

Pemerintah melalui Bappenas telah meluncurkan Peta Jalan Pengembangan Tenaga Kerja Hijau Indonesia. Berdasarkan peta jalan tersebut, kebutuhan tenaga kerja hijau Indonesia diproyeksikan mencapai lebih dari 5,3 juta pekerjaan pada 2029. Selain itu, lebih dari 72 juta pekerjaan yang sudah ada berpotensi bertransformasi agar selaras dengan ekonomi rendah karbon.

Rachmat menilai angka tersebut menunjukkan besarnya peluang Indonesia dalam mengembangkan green jobs. Ia juga menekankan pentingnya mendefinisikan kembali pekerjaan hijau agar tidak terbatas pada sektor energi terbarukan.

“Kalau kita mulai melihat pekerjaan hijau secara lebih luas, pekerjaan yang menghasilkan emisi karbon rendah, menggunakan air secara efisien, dan memanfaatkan energi hijau juga masuk dalam kategori pekerjaan hijau. Ini yang harus kita rumuskan dan definisikan kembali,” katanya.

Untuk mengejar target tersebut, pemerintah mendorong penguatan pendidikan vokasi, pelatihan, upskilling, dan reskilling agar keterampilan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan industri. Bappenas juga melihat pentingnya membangun ekosistem yang mempertemukan pemerintah, industri, akademisi, pekerja, dan masyarakat.

Rachmat menegaskan bahwa kolaborasi menjadi kunci agar agenda pekerjaan hijau tidak berhenti pada komitmen. “Mari kita jadikan transformasi hijau ini sebagai momentum untuk melahirkan tenaga kerja Indonesia yang future-ready serta menciptakan ekonomi yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Kita sudah sepakat from commitment to creation, tetapi itu saja tidak cukup. From commitment to creation and then to action—real action. Bersama Pemerintah Jerman, kita akan bekerja lebih erat,” pungkasnya.

IGJC 2026 juga memberikan ruang bagi generasi muda melalui Call for Papers dan Call for Innovation. Mahasiswa, peneliti muda, dan komunitas dapat menyampaikan gagasan serta inovasi di bidang energi terbarukan, ekonomi sirkular, pertanian berkelanjutan, hingga pengembangan keterampilan hijau.

Melalui konferensi tersebut, pemerintah berharap pengembangan green jobs dapat bergerak dari kebijakan menuju aksi nyata. Penguatan keterampilan, investasi hijau, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas sekaligus mempersiapkan tenaga kerja Indonesia menghadapi transformasi ekonomi. (Dina)