Menjelajah Ruang dan Waktu 40 Tahun Karya Maestro Seni Keramik Mukhlis Arif

Sang maestro seni keramik Mukhlis Arif saat menunjukkan karya bukunya serta katalog perjalan seni keramik selama 40 tahun. (Foto: F1116)

Kota Batu, majalahfakta.id — Mengarungi perjalanan kreatif selama empat dekade bukan sekadar tentang produktivitas berkarya, melainkan tentang komitmen membangun ekosistem seni dari pinggiran. Menandai 40 tahun kiprahnya sejak 1986, maestro seni keramik Mukhlis Arif meluncurkan Buku Maestro berjudul “Jatuh Cinta Totalitas Sebuah Pengabdian” yang dirangkaikan dengan pameran retrospektif di Studio Matahati Ceramic Komplek Perumahan Wastu Asri Junrejo Kota Batu, Sabtu (5/9/2026).

Program ini merupakan bagian dari anugerah dan fasilitasi Kementerian Kebudayaan RI melalui skema “Dokumentasi Karya dan Pengetahuan Maestro”. Lewat program tersebut, seluruh rekam jejak dedikasi Mukhlis Arif mulai dari arsip historis, karya instalasi, hingga gagasan konseptual didokumentasikan secara komprehensif.

Pameran retrospektif ini tidak terpusat di satu ruang pamer saja, melainkan tersebar di tiga lokasi untuk menghadirkan pengalaman artistik yang utuh bagi publik: Matahati Ceramic menampilkan karya fungsional, studio edukasi, dan dokumentasi proses kreatif, Sukahati Art Space (Galeri Atas) menyajikan rangkaian karya instalasi kontemporer bertajuk Sejiwa, Sukahati Art Space (Galeri Bawah) memamerkan koleksi lukisan era awal perjalanan karirnya (1986–2026) yang merekam proses belajarnya bersama para maestro ternama seperti Badri, Kopo, dan Slamet Hendro Kusumo.

Sebagai bentuk keterbukaan ekosistem, gelaran ini juga menghadirkan parallel event bertajuk pameran keramik internasional “Adarasa” di Sukahati. Pameran tersebut merupakan hasil kolaborasi dari program residensi selama dua bulan yang melibatkan perupa dari lima negara serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, seperti Unesa, UIN Malang, UMM, dan FSR.

Berbeda dengan konstelasi seni rupa arus utama yang kerap bergantung pada galeri besar atau patron seni (maecenas), Mukhlis Arif memilih jalur mandiri. Berawal dari apa yang ia sebut sebagai “Jalan Sunyi”, ia konsisten mengolah lempung menjadi jembatan interaksi publik.

“Saya tidak ikut konstelasi seni rupa pada umumnya. Saya memilih membangun ekosistem sendiri dari yang kecil, konsisten, dan berkesinambungan bertahun-tahun dari pinggiran,” ujar Mukhlis Arif.

Strategi ini terbukti adaptif. Lewat unit usaha Matahati Ceramic, ia merintis keberlanjutan finansial dari tingkat paling dasar: Keamanan Finansial: membuka pottery class untuk anak-anak TK dan masyarakat umum guna menjaga ritme operasional studio, Kebebasan Finansial: Mengeksplorasi karya-karya seni murni (pure art) dan instalasi bernilai tinggi tanpa beban ekonomi harian, Kemitraan Korporasi: Mengembangkan program creativity training yang diadopsi oleh berbagai perusahaan multinasional seperti Coca-Cola dan Nestlé, hingga institusi militer.

Bagi Mukhlis, lempung memiliki dimensi yang melampaui wujud fisiknya (intangible value). Selain untuk produk fungsional dan ekspor berkonsep eco-design ke mancanegara seperti Italia, lempung dimanfaatkan sebagai media terapi (clay therapy). Bekerja sama dengan praktisi medis dan dokter, studio Matahati Ceramic secara rutin mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus serta pasien skizofrenia.

Keunikan lain dari perjalanan karirnya adalah ketahanan studio keramiknya di tengah krisis global. Dari Krisis Moneter 1998, krisis finansial 2008, hingga Pandemi COVID-19, permintaan produk keramik fungsional seperti cangkir kopi justru mengalami lonjakan.

Prinsip hidup yang ditanamkan orang tuanya bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang banyak menjadi fondasi utama perjalanannya. Hal itu juga yang melandasi pengabdiannya selama lebih dari 25 tahun sebagai pengajar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

“Ke kampus itu niatnya mengamalkan ilmu, bukan mengejar jabatan. Ilmu yang dibagikan itu tidak akan membuat kita rugi, justru terus bertambah,” pungkasnya.

Buku “Jatuh Cinta Totalitas Sebuah Pengabdian” kini hadir melengkapi pameran tersebut, memuat potret artistik dari para akademisi, perjalanannya bersama sang istri dalam mengembangkan eco-design, hingga spirit kebudayaan inklusif yang terus ia hidupkan. (F.1116)