FAKTA – Arsip bukan sekadar tumpukan dokumen. Ia adalah fondasi ilmu, memori institusi, bahkan jejak peradaban. Pemahaman itu yang menjadi benang merah Workshop Tata Kelola Arsip Digital Perguruan Tinggi Berbasis Media, hasil kolaborasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur dengan Forum Komunitas Masyarakat Sadar Arsip [FKMSA].
Digelar di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, workshop ini mempertemukan perguruan tinggi negeri dan swasta se-Jawa Timur dalam satu ruang dialog tentang masa depan arsip digital.

Arsip sebagai Fondasi Ilmu.
Membuka kegiatan, Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Prof. H. Abd. Aziz, M.Pd.I., mengingatkan makna arsip yang melampaui ranah administratif.
“Arsip adalah fondasi berkembangnya ilmu pengetahuan. Begitu pentingnya pencatatan dalam hidup, sampai Allah menghadirkan dua malaikat untuk mencatat amal manusia. Bahkan tubuh kita sendiri, melalui DNA, menyimpan rekaman informasi sebagai arsip kehidupan,” ujarnya.
UU Kearsipan Jadi Kompas Transformasi Digital.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Ir. Tiat S. Suwardi, M.Si., secara resmi membuka workshop. Ia menegaskan, kegiatan ini merupakan wujud nyata amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan.
UU tersebut mendorong lahirnya masyarakat sadar arsip melalui pendidikan, pelatihan, penyuluhan, serta pemanfaatan media komunikasi dan informasi.
“Perguruan tinggi adalah pusat pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu. Di sana, arsip digital lahir dalam jumlah sangat besar. Tantangannya: bagaimana memastikan arsip itu autentik, utuh, aman, dan mudah diakses,” kata Tiat.
Ia menambahkan, transformasi digital tidak akan optimal jika hanya bertumpu pada teknologi. “Harus dibarengi tata kelola arsip yang baik. Karena arsip yang tertata adalah penopang akuntabilitas, integritas akademik, keputusan berbasis bukti, dan penjaga memori kolektif institusi,” tegasnya.
Media dan Arsiparis Bicara Satu Meja.
Untuk memperkaya wawasan peserta, workshop menghadirkan dua narasumber Abdul Malik Ibrahim, S.Sos., M.IKom., Kepala Biro LKBN ANTARA News Jawa Timur, dan Drs. Tidor Arif T. Djati, M.M. Asosiasi Arsiparis Indonesia Jawa Timur.
Diskusi memadukan sudut pandang media dan kearsipan, dua bidang yang sama-sama bertugas menjaga akurasi informasi dan jejak sejarah.
Menuju Ekosistem Arsip yang Berkelanjutan.
Melalui kolaborasi ini, Disperpusip Jatim dan FKMSA menargetkan sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, organisasi profesi, komunitas, dan media.
Tujuannya jelas: mewujudkan tata kelola arsip digital yang efektif, akuntabel, dan berkelanjutan.
“Harapannya, budaya sadar arsip semakin mengakar. Kepercayaan publik terhadap perguruan tinggi meningkat. Dan yang paling penting, arsip tidak berhenti menjadi rekaman masa lalu. Ia harus menjadi sumber pengetahuan, bukti akuntabilitas, dan memori kolektif yang menopang pembangunan masa depan,” tutup Tiat.
Workshop ini menjadi penanda bahwa di era digital, mengelola arsip berarti mengelola masa depan institusi. (F1015/mud)






