FAKTA – Pembalap nasional Rifat Sungkar tengah menikmati perjalanan di Banyuwangi, Jawa Timur.
Tak hanya terpikat bentang alam daerah di ujung timur Pulau Jawa itu, Rifat juga mulai mencari rekomendasi kuliner khas yang layak dicicipi selama berada di Banyuwangi.
Melalui unggahan di media sosialnya, Rifat menyoroti keberagaman lanskap Banyuwangi.
Ia menyebut wilayah tersebut memiliki pilihan destinasi yang beragam, mulai dari kawasan hutan yang rimbun hingga hamparan savana.
Setelah mengagumi kekayaan alam Banyuwangi, perhatian Rifat kemudian beralih ke urusan kuliner.
Ia meminta rekomendasi makanan khas yang bisa dicicipi selama berada di daerah tersebut.
Unggahan tersebut menarik karena Banyuwangi memang tidak hanya mengandalkan wisata alam.
Kekayaan kuliner lokal, termasuk makanan yang tumbuh dari tradisi masyarakat Osing, menjadi bagian penting dari pengalaman wisata di daerah tersebut.
Data pemerintah daerah menunjukkan sektor pariwisata Banyuwangi memiliki basis kunjungan yang besar.
Berdasarkan data Banyuwangi Satu Data, rata-rata kunjungan wisata dalam setahun tercatat mencapai sekitar 3,4 juta kunjungan pada 2024, setelah sebelumnya berada di angka sekitar 3,3 juta pada 2023.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banyuwangi secara rutin mencatat perkembangan pariwisata daerah melalui statistik kunjungan wisatawan serta indikator usaha akomodasi.
Publikasi Statistik Pariwisata Kabupaten Banyuwangi 2024 dirilis BPS pada Oktober 2025.
Nasi Tempong, Sajian Pedas yang Jadi Identitas Banyuwangi
Salah satu makanan yang paling layak masuk daftar rekomendasi untuk Rifat adalah nasi tempong atau sego tempong.
Menu ini terdiri atas nasi putih, sayuran rebus atau lalapan, lauk seperti ayam, ikan, tahu dan tempe, serta sambal mentah yang menjadi elemen utama.
Sambalnya terkenal memiliki rasa pedas yang kuat. Nama “tempong” sendiri menggambarkan sensasi pedas yang terasa seperti tamparan di lidah.
Hidangan ini juga disebut sebagai salah satu representasi gastronomi masyarakat Osing.
Popularitas nasi tempong bahkan mulai menembus layanan transportasi. Pada 2026, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyebut dua UMKM lokal, termasuk Warung Mbok Wah yang dikenal dengan nasi tempongnya, bekerja sama dengan KAI Services untuk menghadirkan makanan khas Banyuwangi sebagai pilihan menu bagi penumpang kereta api.
Bagi wisatawan yang ingin mencicipinya, salah satu pilihan yang cukup dikenal adalah Nasi Tempong Mbok Nah di kawasan Kertosari, Banyuwangi.
Pilihan lainnya adalah Sego Tempong Mbok Wah di kawasan Glagah yang juga dikenal sebagai salah satu warung yang menyajikan menu tersebut.
Ayam Kesrut, Kuliner Osing dengan Cita Rasa Asam dan Pedas
Selain nasi tempong, ayam kesrut menjadi menu yang tak kalah menarik. Hidangan ini merupakan olahan ayam dengan kuah bening yang memiliki karakter rasa pedas, asam dan segar.
Ayam kesrut juga dikenal dengan nama uyah asem. Belimbing wuluh menjadi salah satu bahan yang memberikan sensasi asam pada kuah, sementara cabai menghadirkan rasa pedas yang menjadi karakter kuliner Banyuwangi.
Kuliner ini juga berkaitan erat dengan tradisi masyarakat Osing sehingga pengalaman mencicipinya bukan sekadar menikmati makanan, tetapi sekaligus mengenal salah satu bagian dari identitas budaya Banyuwangi.
Bagi pencinta kuliner tradisional, salah satu tempat yang dapat menjadi pilihan adalah Ayam Kesrut Warung Godong di kawasan Glagah.
Tak Hanya Dua Menu
Daftar kuliner Banyuwangi sebenarnya jauh lebih panjang. Wisatawan juga dapat menemukan berbagai makanan tradisional lain, mulai dari pecel rawon hingga kuliner berbasis tradisi masyarakat Osing.
Bahkan, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus mendorong kuliner lokal agar tidak hanya menjadi konsumsi masyarakat setempat, tetapi juga bagian dari pengalaman wisata sekaligus membuka ruang lebih besar bagi pelaku UMKM.
Salah satu bentuknya adalah kerja sama dengan sektor transportasi untuk membawa makanan khas daerah masuk ke pasar wisatawan yang lebih luas.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa wisata kuliner dapat menjadi bagian penting dalam rantai ekonomi pariwisata.
Wisatawan tidak hanya mengeluarkan uang untuk tiket atau penginapan, tetapi juga untuk makanan, transportasi, oleh-oleh hingga produk UMKM lokal.
Bagi Banyuwangi, keberadaan figur publik seperti Rifat Sungkar yang membagikan pengalaman perjalanan dan secara terbuka mencari rekomendasi kuliner dapat menjadi promosi tambahan bagi destinasi dan produk lokal.
Apalagi, ketertarikan wisatawan terhadap suatu daerah kini tidak hanya ditentukan oleh pemandangan alam.
Pengalaman menikmati makanan khas, mengenal tradisi masyarakat dan berinteraksi dengan pelaku usaha lokal semakin menjadi bagian dari daya tarik sebuah destinasi.
Dengan kekayaan alam sekaligus gastronominya, Banyuwangi pun memiliki alasan lebih untuk menawarkan konsep perjalanan yang tidak berhenti pada menikmati panorama, tetapi berlanjut ke meja makan dan cerita di balik setiap hidangan. (F1)






