Daerah  

NU Dukuhturi, Tegal, Meregenerasi Khidmah

Saat pelantikan Pengurus MWC NU Kecamatan Dukuhturi (foto kiri) Ahmad Ropi'i S. Pd, M, PD, wakil ketua MWC NU Kecamatan Dukuhturi (foto kanan)

FAKTA – Di gedung milik MWCNU Dukuhturi, Minggu Siang 5 Juli 2026, puluhan sarung dan peci hitam memenuhi ruangan. Tepat pukul 15.00 WIB, sumpah jabatan dilafalkan. Satu per satu pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Dukuhturi masa khidmat 2026–2031 mengangkat tangan. Palu kayu diketuk Ketua PCNU Kabupaten Tegal, Khosi’in Ahmad. Resmi.

Pelantikan itu mengusung tema: “Menguatkan Sinergi Kepemimpinan Nahdlatul Ulama dalam Meneguhkan Khidmah dan Mewujudkan Regenerasi Berkelanjutan”. Panjang, tapi maknanya sederhana: NU di Dukuhturi tidak boleh jalan di tempat.

Khosi’in tidak bertele-tele dalam amanat. Ia menyebut pelantikan bukan seremoni untuk foto bersama.
“NU membutuhkan kaderisasi dan regenerasi. Karena itu, tema yang diangkat sangat tepat. Seluruh pengurus harus tetap kompak menjalankan program-program organisasi demi kemajuan Nahdlatul Ulama di Kecamatan Dukuhturi,” ujarnya.

Di tengah suhu politik yang kerap memanas, Khosi’in mengingatkan garis ideologi. Ia menyebut NU sejak berdiri berpegang pada NKRI Harga Mati, Bhinneka Tunggal Ika, dan Pancasila. Kalimat itu disambut anggukan dari barisan Rois Syuriah PCNU KH. Nawawi Ashari yang duduk di kursi kehormatan.

Ahmad Ropii, S.Pd., M.Pd., Wakil Ketua MWCNU Dukuhturi yang baru, melihat pelantikan secara berbeda. Bagi dia, ini bukan sekadar jabat tangan di atas panggung.
“Ini manifestasi spiritual dan ikrar khidmah. Di balik sumpah ada tanggung jawab besar menakhodai umat di wilayah kecamatan Dukuhturi,” kata Ropii.

Ia berharap kepengurusan lima tahun ke depan bisa lebih responsif, mandiri, dan “membumi”. Artinya, program NU tidak berhenti di musyawarah, tapi sampai ke musala, sekolah, dan warung kopi.

Pelantikan MWCNU kali ini dirangkai dengan pelantikan Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Dukuhturi. Sengaja, agar estafet kepemimpinan terlihat kasatmata. Yang tua melantik, yang muda ikut disumpah.

Hadir dalam prosesi itu Sekretaris PCNU H. A. Saiful Bahri, M. Pd. yang memandu acara. Juga Camat Dukuhturi Darmawan, S. IP.,MH S.IP., M.H. Dari badan otonom, tampak lengkap: Muslimat, Fatayat, GP Ansor, IPNU, IPPNU, dan perwakilan pengurus ranting se-Kecamatan Dukuhturi.

Tugas berat menanti. Isu kemiskinan, radikalisme, hingga tantangan digitalisasi pesantren jadi pekerjaan rumah. Tapi bagi Khosi’in, kuncinya satu: sinergi.
“Baik sinergi di internal pengurus, maupun dengan masyarakat dan pemerintah setempat. NU harus jadi contoh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik,” tegasnya.

Acara ditutup doa. Di luar gedung, bendera NU berkibar pelan. “Selamat berkhidmat, selamat berjuang,” ucap Ropii. Lima tahun ke depan, kata itu akan diuji. (sus)