FAKTA – Ngawi, 24 Juni 2026. Siang itu, aula Yonarmed 12 Kostrad di Ngawi terasa berbeda. Bukan hanya karena derap sepatu dan barisan rapi, tapi karena kehadiran seorang jenderal bintang dua yang datang bukan untuk inspeksi, melainkan untuk menguatkan hati.
Sementara para prajurit Yonarmed 12 berjaga di garis terdepan perbatasan RI–Republik Demokratik Timor Leste, Mayjen TNI Primadi Saiful Sulun, S.Sos., M.Si., Panglima Divisi Infanteri 2 Kostrad, memilih berdiri di hadapan mereka yang ditinggalkan: para istri, anak, dan keluarga prajurit.
“Tugas Negara, Ketenangan dari Rumah”
Dengan nada tenang namun tegas, Pangdivif menyampaikan realita yang sering luput dari pemberitaan: keberhasilan operasi militer tidak hanya ditentukan oleh peluru dan strategi, tapi juga oleh doa dan keteguhan dari rumah.
“Sehebat apa pun prajurit di medan tugas, ia akan rapuh jika hatinya gelisah,” ujar Mayjen Primadi, memandang satu per satu wajah ibu-ibu Persit. “Ketenangan hati prajurit itu lahir dari rumah yang harmonis. Komunikasi yang terjaga, kepercayaan yang terawat. Kalian adalah benteng pertama kami.”
Kalimat itu disambut anggukan. Di barisan depan, beberapa istri prajurit tampak menggenggam erat tangan anaknya.
Di Tengah Gejolak Dunia, Keluarga Harus Cerdas
Pangdivif tak menutup mata pada realitas global. Konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi bisa saja menggoyang dapur keluarga prajurit.
“Benar, dunia sedang tidak baik-baik saja,” akunya. “Tapi Indonesia, alhamdulillah, masih berdiri tegak. Kebutuhan pokok terjaga, pemerintah hadir dengan subsidi. Tugas kita sekarang dua: dukung program negara, dan jadi manajer terbaik untuk keuangan keluarga.”
Ia lalu menitipkan pesan yang menohok: “Negara sudah sejahterakan kita. Kelola dengan bijak. Judi online, gaya hidup berlebihan, itu perusak diam-diam. Ingat, rumah dinas ini ada batas waktunya. Siapkan rumah masa depan dari sekarang. Untuk anak-anak kita.”
Jari Anda, Cermin Kehormatan Anda
Di era serba digital, Pangdivif menyelipkan peringatan khusus. Media sosial, katanya, adalah medan pertempuran baru.
“Ibu-ibu, Bapak-bapak, setiap jempol kalian adalah cermin Kostrad. Sekali salah unggah, nama satuan yang kena. Bijaklah. Saring sebelum sharing. Jangan mau diadu domba. Kehormatan keluarga TNI itu mahal harganya.”
Dua Benteng, Satu Jiwa
Kunjungan Mayjen Primadi hari itu bukan seremoni biasa. Ia adalah pengingat bahwa TNI berdiri di atas dua benteng: prajurit di perbatasan, dan keluarga di pangkalan. Satu goyah, yang lain ikut rapuh.
Saat meninggalkan Ngawi, sang jenderal berpesan pendek: “Jaga diri, jaga keluarga, jaga kehormatan Cakra.”
Di kejauhan, di tapal batas RDTL, para prajurit Yonarmed 12 bisa bertugas dengan satu kepastian: di rumah, ada hati yang dikuatkan. (F1015/mud)






