PESAN INDAH AL-QUR’AN 0121
FAKTA – “Kalau Ayah tidak menolongku, siapa lagi yang akan menolongku?” Kalimat itu membuat seorang ayah terdiam. Selama ini, ia selalu pasang badan ketika anaknya bermasalah. Ia menghubungi kenalan, meminta bantuan, bahkan menggunakan pengaruhnya agar kesalahan sang anak tidak berujung pada konsekuensi.
Ia melakukan semuanya karena cinta. Ia tidak tega melihat anaknya menderita. Namun, malam itu, muncul kegelisahan yang sulit diabaikan: sampai kapan ia harus terus menyelamatkan anaknya dari akibat perbuatannya sendiri?
Bagaimana jika kebiasaannya menolong justru membuat sang anak tidak pernah belajar bertanggung jawab?
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah yang mengingatkan kita tentang tanggung jawab kehidupan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam mendidik dengan kasih sayang dan ketegasan.
ALLAH BERFIRMAN:
وَاتَّقُوْا يَوْمًا لَّا تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْـًٔا وَّلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَّلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَّلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَ
Artinya:
“Takutlah kamu pada hari (ketika) tidak seorang pun dapat membela orang lain sedikit pun, syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak diterima, dan mereka tidak akan ditolong.” (QS. Al-Baqarah: 123)
PESAN TAFSIR
Ibnu Katsir: Ayat ini mengingatkan Bani Israil agar tidak merasa aman karena keistimewaan masa lalu. Setiap manusia harus mempersiapkan diri untuk mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Allah.
Buya Hamka — Tafsir Al-Azhar: Sebagai refleksi tematik, ayat ini mengingatkan bahwa kedudukan dan pertolongan makhluk tidak dapat menggantikan tanggung jawab pribadi di hadapan Allah.
Al-Jalalain: Pada Hari Kiamat, seseorang tidak dapat menggantikan tanggung jawab orang lain, dan tidak ada tebusan atau pertolongan yang dapat menyelamatkannya tanpa izin Allah.
CERMIN DIRI
Mencintai anak bukan berarti selalu menghapus akibat kesalahannya. Orang tua tetap harus melindungi dan mendampingi, tetapi juga perlu mengajarkan anak mengakui kesalahan, meminta maaf, memperbaiki kerugian, dan menerima konsekuensi yang wajar.
Tugas orang tua bukan menyelesaikan seluruh persoalan anak sepanjang hidupnya, melainkan membekalinya agar mampu memilih yang benar meskipun tidak ada orang tua yang mengawasi.
Di dunia, kita bisa membantu orang yang kita cintai menghadapi masalah. Namun, kita tidak dapat menggantikan pertanggungjawaban amalnya di hadapan Allah. Karena itu, didiklah anak dengan kasih sayang yang menguatkan, bukan perlindungan yang melemahkan.
Ya Allah, bimbing kami agar mampu mencintai anak dengan bijaksana. Tumbuhkan keberanian dalam diri mereka untuk mengakui kesalahan, memperbaiki diri, dan menunaikan tanggung jawab. Jadikan keluarga kami tempat tumbuhnya iman, amanah, dan akhlak mulia. Āmīn.
Iwan Muhajirin
25 Oktober 2026






