PESAN INDAH AL-QUR’AN
NOMOR 0122
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
FAKTA – Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah yang menuntun kita melalui ayat-ayat-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam amanah dan kepemimpinan.
STORY: KETIKA KEDEKATAN MENGALAHKAN KELAYAKAN
Rapat penentuan ketua tinggal selangkah lagi selesai. Seorang anggota tim memandangi daftar calon di hadapannya. Ada satu nama yang terus didorong oleh tokoh berpengaruh karena hubungan dekat dengannya. Padahal, anggota tim itu mengetahui sejumlah catatan: tanggung jawab yang kerap diabaikan, keputusan yang merugikan orang lain, dan janji yang berulang kali tidak ditepati.
“Dia orang kita. Sudah sepantasnya kita mendukungnya,” ujar seseorang.
Ruangan mendadak terasa sempit. Menolak berarti berisiko merusak hubungan. Menyetujui berarti mengabaikan suara hati. Ia teringat bahwa jabatan bukan sekadar kehormatan yang diwariskan melalui kedekatan, melainkan amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan.
Pertanyaan itu pun muncul: apakah kita memilih pemimpin karena ia dekat dengan kita, atau karena ia layak memikul amanah?
AYAT YANG MENGAJARKAN KELAYAKAN
وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ ۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ
Artinya: “(Ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, ‘Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.’ Dia (Ibrahim) berkata, ‘(Aku mohon juga) dari sebagian keturunanku.’ Allah berfirman, ‘(Doamu Aku kabulkan, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.’” (QS. Al-Baqarah: 124)
MENYELAMI PESAN TIGA TAFSIR
1. Tafsir Ibnu Katsir
Nabi Ibrahim a.s. memperoleh kedudukan sebagai teladan setelah menunaikan ujian dan perintah Allah dengan sempurna. Ayat ini mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar pengakuan, tetapi terkait keteguhan dalam ketaatan dan kesediaan menjalankan amanah.
2. Tafsir Al-Azhar — Buya Hamka
Ayat ini dapat menjadi bahan perenungan tentang hubungan antara kepemimpinan dan keadilan. Kedudukan yang tinggi tidak dengan sendirinya menjamin kelayakan seseorang. Dalam kehidupan kita, kedekatan keluarga, kelompok, atau pertemanan semestinya tidak mengalahkan pertimbangan integritas dan tanggung jawab.
3. Tafsir Al-Jalalain
Kata imāman menunjukkan sosok yang menjadi teladan dalam agama. Adapun janji Allah tidak mencakup orang-orang zalim. Pesan ini menegaskan bahwa hubungan keturunan sekalipun tidak otomatis menjamin seseorang memperoleh kedudukan tersebut.
CERMIN DIRI: AMANAH DI ATAS KEDEKATAN
Ayat ini berbicara tentang Nabi Ibrahim dan janji Allah, bukan rumus praktis untuk menghakimi setiap calon pemimpin. Namun, kita dapat mengambil pelajaran: memilih pemimpin perlu mempertimbangkan integritas, keadilan, kemampuan, dan rekam jejaknya. Jangan pula mudah melabeli seseorang zalim tanpa bukti yang adil.
DOA
Ya Allah, karuniakan kepada kami kejernihan hati untuk memilih pemimpin yang amanah. Jauhkan kami dari fanatisme yang membutakan dan kepentingan yang mengalahkan kebenaran. Jadikan kami pribadi yang berani menempatkan keadilan di atas kedekatan. Āmīn.
Iwan Muhajirin
26 Oktober 2026






