Kisah di Balik Keberhasilan yang Belum Tentu Diterima Allah

PESAN INDAH AL-QUR’AN NOMOR 0125

Ketika menyadari adanya keinginan untuk dipuji, kita tidak perlu menyerah atau menganggap seluruh kebaikan kita sia-sia. (Foto : JPI)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah yang memberi kita kesempatan untuk beramal. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam keikhlasan dan pengabdian.

STORY: KETIKA TEPUK TANGAN BERHENTI, HATINYA MULAI BERTANYA

FAKTA – Malam itu, namanya dipanggil ke atas panggung. Orang-orang bertepuk tangan. Program pendidikan yang dirintisnya bertahun-tahun akhirnya mendapat penghargaan. Ia tersenyum, menerima piagam, lalu mengucapkan terima kasih dengan suara yang sedikit bergetar. Semua orang melihat kebahagiaannya. Tak seorang pun tahu betapa lama ia menunggu momen itu.

Dalam perjalanan pulang, ia kembali membuka foto saat menerima penghargaan. Ia membaca komentar yang masuk, lalu tersenyum setiap kali seseorang menyebutnya inspiratif. Tetapi ketika layar ponselnya padam, senyumnya perlahan menghilang.

Ia teringat seorang anak yang pernah dibantunya agar tetap bersekolah. Dahulu, ia merasa bahagia melihat anak itu kembali belajar. Namun belakangan, ia mulai kecewa ketika jasanya tidak disebut dalam sebuah acara. Ia pernah bertanya dalam hati, mengapa orang lain mendapat pujian lebih banyak, padahal ia juga telah berjuang begitu keras?

Pertanyaan itu kini kembali, lebih tajam daripada sebelumnya.

“Ya Allah, apakah aku masih melakukan semua ini karena ingin menolong mereka? Ataukah aku mulai membutuhkan pujian agar merasa bahwa perjuanganku berarti?”

Ia ingin segera membela diri. Bukankah ia telah mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kebersamaan dengan keluarga? Bukankah manfaat program itu nyata? Ia tidak ingin semua perjuangannya dianggap sia-sia hanya karena sesekali mengharapkan penghargaan.

Namun, hati kecilnya tahu bahwa persoalannya bukan apakah ia pernah berbuat baik. Persoalannya adalah apa yang diam-diam tumbuh dalam dirinya ketika kebaikan itu mulai dikenal banyak orang.

Ia tidak ingin membenci penghargaan yang diterimanya. Ia hanya takut jika tepuk tangan manusia perlahan menjadi sesuatu yang lebih ia cari daripada keridaan Allah.

Malam semakin larut. Ia menunduk dan memohon agar niatnya diluruskan. Di tengah kegelisahan itu, ia teringat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Keduanya meninggikan fondasi Baitullah, sebuah pekerjaan yang agung, tetapi tidak berhenti pada kebanggaan atas hasilnya. Mereka justru berdoa agar amal mereka diterima Allah.

DOA SETELAH MEMBANGUN FONDASI BAITULLAH

وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّاۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’” (QS. Al-Baqarah: 127)

MENYELAMI PESAN TIGA TAFSIR

1. Tafsir Ibnu Katsir

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail membangun fondasi Baitullah, lalu memohon agar amal mereka diterima Allah. Besarnya pekerjaan tidak membuat mereka merasa pasti telah berhasil di hadapan-Nya. Mereka tetap bergantung kepada Allah.

2. Tafsir Al-Azhar — Buya Hamka

Kisah ini mengajak kita merenungkan kerendahan hati setelah beramal. Manusia dapat menyelesaikan pekerjaan besar, tetapi tetap perlu menyadari keterbatasannya dan memohon penerimaan Allah.

3. Tafsir Al-Jalalain

Ibrahim dan Ismail meninggikan fondasi Baitullah sambil berdoa agar amal itu diterima. Allah Maha Mendengar doa dan Maha Mengetahui perbuatan hamba-Nya.

REFLEKSI: SETELAH BERBUAT BAIK, KE MANA HATI KITA BERSANDAR?

Kita boleh bersyukur ketika karya dihargai dan usaha membawa hasil. Namun, jangan sampai pujian membuat kita lupa memeriksa niat. Ketika menyadari adanya keinginan untuk dipuji, kita tidak perlu menyerah atau menganggap seluruh kebaikan kita sia-sia. Kita dapat memperbaiki niat dan terus berbuat baik dengan lebih tulus.

Keberhasilan dapat disaksikan manusia, tetapi penerimaan amal adalah perkara yang kita mohonkan kepada Allah dengan penuh harap dan kerendahan hati.

DOA

Ya Allah, luruskan niat kami, berkahilah ikhtiar kami, dan terimalah amal-amal kami. Ampuni kekurangan kami, jauhkan kami dari keinginan mencari pujian, dan bimbinglah kami agar tetap berbuat baik semata-mata mengharap rida-Mu. Āmīn.

Iwan Muhajirin