FAKTA – Bergerak dalam barisan rapat, Aliansi BEM Se-Bali Dewata Dwipa menggelar aksi damai ‘Kamisan’ yang sarat akan ketegangan di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi), Denpasar pada Kamis (21/5/2026). Tidak main-main, dalam aksi bermuatan politis pasca-Reformasi ini, massa mahasiswa menyoroti mulai merayap masuknya institusi TNI ke ranah sipil yang dinilai kuat sebagai sinyal kembalinya gaya Orde Baru di atas tanah Bali.
Suasana di depan Bajra Sandhi memanas saat mahasiswa membentangkan rentetan pamflet tajam yang menelanjangi kerusakan lingkungan, pembatasan ekspresi, hingga tuntutan pembebasan aktivis Tomy Wiria yang dianggap dikriminalisasi. Koordinator Lapangan Aksi Kamisan, Gede Erawan Kusuma Putra Widana, dengan lantang meneriakkan bahwa Bali sedang tidak baik-baik saja akibat pengkhianatan terhadap cita-cita Reformasi 1998. “Mengingat amanat dan cita-cita Reformasi 1998 yang telah dikhianati, serta melihat kedaruratan represi di atas tanah Bali, kami menegaskan sembilan tuntutan utama untuk mendesak perubahan nyata,” ujar Gede Erawan membakar semangat massa aksi.
Sembilan tuntutan yang dilemparkan mahasiswa langsung menembak jantung kebijakan penguasa dan korporasi. Pertama, mahasiswa menuntut diwujudkannya pendidikan yang ilmiah, demokratis, dan berpihak pada rakyat serta menghentikan komersialisasi pendidikan. Kedua, mereka mendesak adanya jaminan ruang aman bebas kekerasan seksual di lingkungan pendidikan. Ketiga, mendesak penghentian tindakan PHK sepihak oleh korporasi yang merugikan rakyat kecil. Tuntutan keempat, alih-alih diam, mahasiswa menyatakan dukungan penuh terhadap perjuangan buruh PT Angkasa Pura Supports (APS) yang menolak PHK sepihak. Kelima, mereka mendesak keadilan bagi korban TPPO calon ABK KM AWINDO 2A sekaligus mengusut tuntas aktor intelektual di balik jaringan tersebut.
Keberanian mahasiswa kian memuncak pada tuntutan keenam, di mana mereka mendesak penegakan hukum atas dugaan perusakan lingkungan dan pembabatan mangrove di kawasan KEK Kura-Kura Bali, sempadan Danau Beratan, hingga Pantai Suluban. Ketujuh, aliansi mengecam keras tindakan represif aparat terhadap ruang diskusi warga, termasuk pembubaran agenda nobar film ‘Pesta Babi’. Kedelapan, mereka menyatakan solidaritas kepada masyarakat adat dan petani korban investasi, khususnya Masyarakat Adat Batur. Terakhir, tuntutan kesembilan mendesak pembebasan seluruh tahanan politik tanpa syarat, termasuk membebaskan aktivis Aksi Kamisan Bali, Tomy Wiria.
Aparat keamanan yang berjaga tampak bersiaga penuh saat orasi mahasiswa mulai menelanjangi satu per satu ketimpangan tersebut. Koordinator Humas Aliansi BEM Se-Bali, I Kadek Andre Hermawan Mangku Nada, menegaskan aksi mencekam ini hanyalah permulaan dari gelombang perlawanan yang lebih besar.
“Aksi damai ini akan kami lakukan setiap hari Kamis untuk mengawal apa yang sudah kami kaji bersama. Jika poin-poin tuntutan ini belum mendapat jawaban atau respons konkret dari pihak terkait, kami akan melangkah ke tahap selanjutnya, yaitu melakukan audiensi langsung,” jelas Kadek Andre. (fa)






