PESAN INDAH AL-QUR’AN 0111
Ketika Perdebatan Kehilangan Arah
FAKTA – Sore itu, seorang lelaki duduk di sebuah warung sambil menikmati segelas teh hangat. Ia membuka media sosial melalui telepon genggamnya. Awalnya, ia hanya ingin membaca kabar dan menambah pengetahuan. Namun, perhatiannya tertuju pada sebuah perdebatan tentang agama.
Seseorang menulis bahwa kelompok lain tidak memiliki pegangan yang benar. Komentar balasan pun bermunculan. Ada yang membantah dengan dalil, tetapi tidak sedikit yang membalas dengan ejekan dan kata-kata kasar. Masing-masing merasa paling benar. Diskusi yang semestinya membuka pemahaman justru berubah menjadi arena saling merendahkan.
Lelaki itu berhenti menggulir layar. Ia merenung, “Jika kita sama-sama ingin membela kebenaran, mengapa cara kita berbicara justru menjauhkan orang dari kebaikan?”
Pertanyaan sederhana itu layak kita bawa ke dalam hati. Sebab, terkadang kita begitu sibuk memenangkan perdebatan hingga lupa menjaga akhlak.
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah yang menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk kehidupan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam menyampaikan kebenaran dengan hikmah dan akhlak mulia.
ALLAH BERFIRMAN:
وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ لَيْسَتِ النَّصٰرٰى عَلٰى شَيْءٍ ۖ وَّقَالَتِ النَّصٰرٰى لَيْسَتِ الْيَهُوْدُ عَلٰى شَيْءٍ وَّهُمْ يَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ كَذٰلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ مِثْلَ قَوْلِهِمْۚ فَاللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ
Artinya:
“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Orang-orang Nasrani itu tidak memiliki suatu pegangan,’ dan orang-orang Nasrani berkata, ‘Orang-orang Yahudi tidak memiliki suatu pegangan,’ padahal mereka membaca Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak berilmu berkata seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili mereka pada hari Kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan.” (QS. Al-Baqarah: 113)
PESAN TAFSIR
1. Pelajaran dari Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan sikap saling menolak di antara sebagian pemeluk Yahudi dan Nasrani. Masing-masing menafikan kebenaran pihak lain, padahal keduanya membaca kitab suci. Ayat ini juga menyebut orang-orang yang tidak berilmu yang mengucapkan perkataan serupa.
Pesan pentingnya, pengetahuan agama tidak dengan sendirinya menjamin seseorang bersikap adil. Seseorang dapat mengenal teks keagamaan, tetapi tetap terjebak dalam fanatisme dan penolakan terhadap pihak lain. Karena itu, ilmu harus disertai kejujuran, kerendahan hati, dan kesediaan menimbang persoalan secara benar.
2. Renungan melalui Tafsir Al-Azhar Buya Hamka
Dalam merenungkan ayat ini melalui pendekatan pemikiran Buya Hamka, kita dapat melihat bahaya ketika kebanggaan terhadap golongan mengalahkan tujuan mencari kebenaran. Agama semestinya membimbing manusia memperbaiki diri, menegakkan keadilan, dan memelihara akhlak. Ketika seseorang terlalu sibuk membenarkan kelompoknya, ia berisiko kehilangan kejernihan untuk melihat kekurangan diri sendiri.
Kebenaran tidak menjadi lebih kuat hanya karena disampaikan dengan suara keras atau kata-kata yang menyakitkan. Sebaliknya, pendapat yang benar perlu disampaikan dengan ilmu, alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan akhlak yang baik.
3. Mengorkestrasikan Kedua Pelajaran
Ibnu Katsir membantu kita memahami pola perselisihan yang digambarkan ayat, sedangkan renungan melalui pendekatan Buya Hamka mengajak kita mengoreksi sikap ketika identitas kelompok mulai menguasai cara berpikir.
Konteks langsung ayat ini adalah perselisihan yang disebutkan di antara pemeluk agama pada masa itu. Ketika kita menghubungkannya dengan perdebatan di media sosial atau perselisihan antarkelompok pada masa kini, hubungan tersebut merupakan pelajaran reflektif, bukan penyamaan langsung antara kelompok masa kini dan pihak-pihak yang disebut dalam ayat.
Pada akhirnya, Allah menegaskan bahwa Dia akan mengadili perselisihan manusia pada hari Kiamat. Kita tetap berkewajiban mencari kebenaran, tetapi tidak boleh menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk berlaku zalim atau menghina sesama.
CERMIN DIRI
Mari kita periksa cara kita berbicara, terutama ketika berhadapan dengan pendapat yang tidak kita setujui. Apakah kita sungguh ingin meluruskan kekeliruan, atau hanya ingin membuktikan bahwa kelompok kita paling benar?
Kita boleh teguh memegang keyakinan dan mengkritik pendapat yang keliru. Namun, lakukanlah dengan ilmu, bukti, dan adab. Jangan sampai jari kita lebih cepat menulis hinaan daripada hati kita berusaha memahami persoalan.
Sebelum mengirim komentar, berhentilah sejenak dan tanyakan kepada diri sendiri: Apakah kata-kata ini mendekatkan orang kepada kebenaran, atau justru menambah kebencian?
LEGACY: WARISKAN ADAB, BUKAN PERMUSUHAN
Perbedaan pendapat akan selalu hadir dalam kehidupan. Yang perlu kita jaga adalah agar perbedaan itu tidak merampas keadilan dan kasih sayang dari hati kita.
Mari wariskan budaya berdiskusi yang berilmu, santun, dan terbuka terhadap koreksi. Sebab, kemuliaan ilmu tidak hanya terlihat dari kuatnya argumen, tetapi juga dari kemampuan menjaga akhlak ketika berbeda pandangan.
Semoga Allah membimbing kita untuk mencintai kebenaran tanpa membenci secara zalim, menegakkan prinsip tanpa merendahkan sesama, dan menjadikan ilmu sebagai jalan menuju ketakwaan. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Iwan Muhajirin
Pendiri dan Pengelola Jejak Pemimpin Institute
15 Oktober 2026






