FAKTA – Film drama yang disutradarai Fajar Bustomi ini mengangkat kisah nyata content creator Fanny Kondoh dan mendiang suaminya asal Jepang, Hajime Kondoh, yang sempat menyentuh jutaan warganet melalui perjuangan mereka mendapatkan buah hati lewat program bayi tabung (IVF). Film tersebut dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 3 September 2026.
Acara peluncuran dihadiri produser, sutradara, pemain, media, serta narasumber asli yang kisah hidupnya menjadi inspirasi film. Trailer perdana memperlihatkan perjalanan emosional seorang perempuan yang harus menghadapi berbagai ujian kehidupan, mulai dari perjuangan rumah tangga, kehilangan, hingga kekuatan iman.
Film ini dibintangi Denny Sumargo, Caitlin Halderman, Vonny Anggraini, Naufal Samudra, Ayya Renita, Putri Ayudya, Royhan Hidayat, Miyu Okazaki, dan Hiroaki Kato. Naskah ditulis Oka Aurora dengan dukungan para produser Marcella Daryanani, Olivia Sumargo, dan Denny Sumargo serta Produser Eksekutif Andi Suryanto.
Produser Denny Sumargo mengungkapkan bahwa proses menghadirkan film ini tidaklah mudah. Ia mengaku sempat menolak karena merasa kisah tersebut memiliki beban emosional yang besar.
“Saya takut mengecewakan. Cerita ini sangat bagus dan sudah hidup di imajinasi banyak orang. Saya takut ketika diangkat menjadi film justru tidak bisa menyampaikan emosi yang sama. Karena itu saya benar-benar mencari orang yang tepat untuk menggarapnya,” ujar Denny Sumargo, dalam acara yang digelar di Senayan City, Jakarta, Senin (3/8/2026).
Menurut Denny, kekuatan utama film ini bukan terletak pada besarnya nama pemain, melainkan pada kualitas cerita yang diyakini mampu menyentuh hati penonton.
“Jangan berpikir nama besar yang membuat film ini berjalan. Justru ceritanya yang besar. Pemain terbaik akan menemukan jalannya sendiri untuk cerita ini.” katanya.
Sutradara Fajar Bustomi mengatakan sejak pertama kali mendengar kisah tersebut melalui podcast, dirinya langsung melihat potensi besar untuk diadaptasi menjadi film.
“Saya melihat ini bukan sekadar kisah cinta. Ini adalah perjalanan seorang perempuan yang sangat kuat menghadapi ujian hidup. Cerita seperti ini dekat dengan kehidupan banyak orang dan memiliki pesan yang sangat dalam,” kata Fajar.
Ia menambahkan, salah satu tantangan terbesar selama proses produksi adalah menggambarkan momen-momen emosional secara jujur tanpa kehilangan nilai spiritual yang menjadi inti cerita.
Sementara itu, Andi dari Lyto Pictures menjelaskan bahwa sejak awal pihaknya melihat kisah tersebut memiliki kekuatan emosional yang layak diangkat ke layar lebar.
“Kami percaya cerita ini memiliki pesan yang kuat dan relevan. Harapannya, film ini bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga mampu memberikan inspirasi dan harapan bagi banyak orang.” ujar Andi
Perwakilan Lyto Pictures lainnya, Marcella, mengatakan proses pengembangan film dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar tetap menghormati kisah nyata yang menjadi sumber inspirasi.
“Kami ingin menjaga esensi cerita aslinya. Karena itu setiap proses kreatif dilakukan dengan penuh tanggung jawab agar pesan yang ingin disampaikan tetap utuh.” kata Cella.
Pemeran utama Caitlin Halderman mengaku peran yang dimainkannya menjadi salah satu tantangan terbesar dalam perjalanan kariernya. Ia harus memahami emosi tokoh secara mendalam agar mampu menghadirkan karakter yang autentik.
“Perjalanan emosinya sangat kompleks. Saya berusaha memahami setiap fase kehidupan tokoh ini supaya penonton bisa ikut merasakan perjuangan dan harapan yang ingin disampaikan,” ujar Caitlin.
Film Baby Udon: Jadilah Maka Terjadilah mengangkat nilai tentang cinta, keluarga, pengorbanan, kesabaran, dan keyakinan kepada Tuhan. Para pembuat film berharap kisah tersebut mampu menjadi refleksi bagi masyarakat sekaligus memberikan inspirasi bahwa harapan selalu hadir di tengah berbagai ujian kehidupan. (Dina)






