FAKTA – Siang itu di Desa Tembok Luwung, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, deretan mesin jahit yang biasanya berisik sejak pagi hanya mengeluarkan bunyi sesekali. Di ruang produksi seluas 6×8 meter milik Untung Waluyo, 62 tahun, hanya 4 dari 12 pekerjanya yang masih duduk di depan mesin. Benang warna-warni menggantung, kain gulungan menumpuk di pojok, dan pesanan yang masuk papan tulis tinggal satu nama.
Pemandangan ini jauh berbeda dua tahun lalu.
“Dulu satu bulan bisa pegang 3 sampai 4 orderan sekaligus. Sekarang sejak awal tahun sudah melandai,” kata Untung, pengusaha konveksi rumahan yang sudah 11 tahun menekuni usaha menjahit pakaian di rumahnya.
Kisah Untung bukan satu-satunya. Di Adiwerna dan sekitarnya, Tegal sudah lama dikenal sebagai salah satu sentra konveksi rumahan di Jawa Tengah. Ribuan rumah memproduksi kaos, kemeja, celana, hingga seragam. Tapi tahun 2026 ini, napas mereka terasa semakin pendek.
Ketika Pelanggan Lari ke Keranjang Online
Menurut Untung, titik baliknya jelas: belanja online.
“Pelanggan yang dulu langganan ke konveksi, sekarang banyak yang pindah karena beli online dianggap lebih murah,” ujarnya sambil merapikan pola celana yang belum selesai.
Pengakuan itu diamini rekan-rekan sesama pengusaha konveksi perumahan. Setelah pasar bebas online masuk, orderan grosir dari butik, reseller, hingga instansi kecil anjlok. Pembeli bisa membandingkan harga ratusan toko hanya dengan scroll. Ongkir gratis dan diskon platform membuat harga konveksi lokal sulit bersaing.
“Pengakuan kawan-kawan yang main di konveksi perumahan juga sama. Para pelanggan setelah adanya pasar bebas secara online berdampak pada penurunan omzet. Akhirnya dampak tersebut mempengaruhi usaha Kami,” kata Untung.
Dampaknya berantai. Karena orderan sepi, jam kerja dipotong. Pekerja yang biasanya lembur sampai malam, kini pulang lebih awal.
Diantara Upah dan Harga Beras
Masalahnya tidak berhenti di orderan. Di sisi lain, biaya hidup terus naik.
“Karena kurang orderan, di antara pekerja memilih pindah ke konveksi yang lebih besar. Agar pekerja tidak pindah tempat, tuntutan kenaikan upah terpaksa Saya penuhi. Kalau tidak dipenuhi berpengaruh pada kinerja mereka,” jelas Untung.
Kenaikan harga kebutuhan pokok memaksa pekerja menuntut upah lebih tinggi. Sementara di sisi pendapatan, Untung justru harus menahan harga agar tetap bisa bersaing. Posisi yang serba salah.
Untung menunjukkan contoh paling nyata di ponselnya. Satu celana kargo pria dewasa di marketplace dijual Rp70 ribu hingga Rp80 ribu.
“Dari mana hitungannya bisa dijual semurah itu? Sementara kalau dihitung dari modal bahan, upah jahit dan pembuatan label, satu celana modalnya Rp90 ribu hingga Rp120 ribu,” katanya.
“Tapi apakah itu ilegal atau bagaimana, saya tidak bisa memastikan. Logikanya tidak mungkin kalau pakaian impor, harganya lebih murah daripada produk lokal,” rincinya.
Banjir Produk Murah dan Bahan Baku yang Mahal
Untung meyakini ada dua pukulan besar yang menghantam konveksi rumahan: banjir produk impor murah dan harga bahan baku yang melambung.
Bahan kain, benang, resleting, hingga label semua naik sejak awal tahun. Tapi harga jual di pasaran justru ditekan oleh produk impor yang masuk lewat e-commerce. Banyak dari produk itu dijual di bawah harga pokok produksi lokal.
Akibatnya, konveksi rumahan seperti milik Untung terjepit. Mau menaikkan harga, pelanggan kabur. Mau menurunkan harga, rugi.
Kondisi ini membuat belasan konveksi kecil di Tembok Luwung dan desa sekitarnya memilih mengurangi produksi, bahkan tutup sementara. Yang bertahan hanya yang punya pasar khusus, seperti seragam sekolah atau pesanan instansi yang tidak bisa dipenuhi produk massal online.
Menunggu Napas Baru
Hingga Agustus 2026, Untung masih bertahan. Ia mencoba bertahan dengan menerima orderan kecil-kecilan dan menjemput bola ke pelanggan lama. Tapi ia sadar, tanpa perubahan ekosistem, akan sulit kembali ke masa ramai orderan.
“Kami tidak minta dimanja. Cuma minta keadilan harga. Kalau bahan mahal, ya harga jual juga harus masuk akal. Kalau impor masuk, pengawasannya juga harus jelas,” katanya pelan.
Di luar, anak-anak pulang sekolah melewati gang konveksi. Suara mesin jahit yang dulu jadi musik harian warga Tembok Luwung kini pelan. Tinggal harapan para penjahit rumahan: semoga keranjang belanja online suatu hari nanti juga ingat menaruh produk buatan tetangga sendiri. (Suswoyo Harris)






