Lumajang, majalahfakta.id– Bukan pesta mewah. Bukan sekadar seremonial. Di tengah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, siswa dan guru SDN Citrodiwangsan 02 Lumajang memilih menghadirkan makna yang jauh lebih menyentuh “berbagi dengan anak yatim piatu”.
Sebanyak 20 anak yatim piatu menerima santunan dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di sekolah tersebut.
Kegiatan ini menjadi menarik karena santunan itu bukan semata berasal dari sumbangan besar seorang donatur. Dana dihimpun dari sedekah para siswa serta bapak dan ibu guru SDN Citrodiwangsan 02 Lumajang.
Sedikit demi sedikit dikumpulkan. Hingga akhirnya menjadi kebahagiaan bagi 20 anak yatim piatu.
Pesannya sederhana, tetapi dalam: sedekah kecil dari banyak tangan ternyata bisa berubah menjadi berkah besar bagi sesama.
Laporan kegiatan disampaikan Ustad Roni, salah satu guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SDN Citrodiwangsan 02 Lumajang.
Menurutnya, santunan tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan keteladanan Nabi Muhammad SAW kepada peserta didik.
“Ini santunan untuk 20 anak yatim piatu yang diambil dari shodaqoh anak-anak dan bapak ibu guru SDN Citrodiwangsan 02 Lumajang,” ujar Ustad Roni, dalam laporannya, Sabtu (5/9/2026).
Bagi sekolah, kegiatan tersebut bukan hanya tentang memberi bantuan. Lebih jauh, anak-anak sedang diajarkan bahwa mencintai Rasulullah harus diwujudkan melalui perbuatan nyata.
Maulid Nabi Jangan Berhenti di Seremonial. Momentum tersebut mengusung tema “Raih Berkah dengan Meneladani Sifat Mulia Rasulullah.”
Korwil Lumajang, Slamattudin, dalam paparannya mengingatkan bahwa Maulid Nabi seharusnya menjadi momentum membentuk karakter generasi muda.
“Ini pembentukan karakter cinta Nabi. Ingat dengan satu perintah, yaitu salat kepada Allah SWT,” ujarnya.
Pesan itu diarahkan kepada para siswa agar kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak berhenti pada sholawat, cerita atau peringatan tahunan.
Anak-anak didorong untuk menjalankan apa yang telah dicontohkan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satunya melalui empat sifat utama Nabi Muhammad SAW, yakni siddiq, amanah, tabligh dan fathanah.
Kejujuran, dapat dipercaya, menyampaikan kebaikan dan kecerdasan menjadi nilai yang diharapkan tumbuh dalam diri siswa sejak dini.
“Semoga anak-anak SDN Citrodiwangsan 02 Lumajang siap melaksanakan perintah salat. Apa yang sudah diteladani harus dilaksanakan,” tegas Slamattudin.
Tausiyah Tak Biasa, Jawaban Siswa Berbuah Voucher Umrah. Suasana peringatan Maulid Nabi semakin semarak ketika Ustad Syamsul Hadi dari Desa Boreng memberikan tausiyah kepada siswa dan siswi SDN Citrodiwangsan 02 Lumajang.
Ia menyampaikan berbagai materi mengenai keteladanan Nabi Muhammad SAW, sifat-sifat Rasulullah, hingga silsilah keluarga beliau.
Namun, tausiyah kali ini tidak berlangsung satu arah. Para siswa diajak berinteraksi melalui sejumlah pertanyaan. Bagi siswa yang mampu menjawab, tersedia hadiah voucher umrah.
Cara tersebut membuat perhatian siswa semakin terpusat. Materi keagamaan dikemas dengan pendekatan yang lebih interaktif sehingga anak-anak tidak hanya duduk mendengarkan, tetapi juga terdorong untuk memahami materi yang disampaikan.
Pesan yang dibawa pun kembali pada satu hal: keteladanan Rasulullah harus hidup dalam perilaku sehari-hari.
Dari Puisi, Al-Banjari hingga Al-Qur’an. Kepala SDN Citrodiwangsan 02 Lumajang, Darna Yuliastutik, mengatakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dikemas dengan melibatkan para siswa.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan puisi, dilanjutkan penampilan Al-Banjari dan selawatan, serta pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
“Untuk kegiatan ini diawali dengan pembacaan puisi, Al-Banjari, selawatan dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an,” terang Darna.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi sarana menyampaikan pesan-pesan pendidikan kepada seluruh siswa dan siswi.
Sekolah ingin agar momentum Maulid Nabi tidak sekadar menjadi acara tahunan, tetapi memberikan pengalaman dan nilai yang dapat dibawa anak-anak ke rumah maupun lingkungan mereka.
20 Anak Yatim dan Satu Pesan Besar. Ada sebuah pelajaran penting dari kegiatan tersebut. Dua puluh anak yatim piatu menerima santunan.
Di sisi lain, para siswa belajar bahwa berbagi tidak harus menunggu menjadi kaya. Sedekah yang dikumpulkan dari anak-anak dan guru justru menjadi bagian dari kebahagiaan mereka yang membutuhkan.
Inilah wajah lain pendidikan di sekolah: ketika pelajaran agama tidak hanya tertulis di buku, tetapi diwujudkan melalui kepedulian.
Ketika Maulid Nabi tidak hanya diisi dengan sholawat, tetapi juga berbagi. Dan ketika anak-anak tidak hanya diminta mengenal Nabi Muhammad SAW, tetapi diajak meneladani akhlak beliau.
Dari SDN Citrodiwangsan 02 Lumajang, pesan itu terasa sederhana namun kuat. Sedekah mungkin kecil bagi yang memberi. Tetapi bagi yang menerima, bisa menjadi kebahagiaan yang tak ternilai.
Dan di momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, sedekah para siswa dan guru itu akhirnya menjadi berkah untuk 20 anak yatim piatu. (Fuad)






