Sawah Bangkit dari Timbunan Bencana, 1.263 Hektare Lahan Padang Pariaman Dipulihkan

Jajaran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman meninjau areal persawahan Tanah Taban, beberapa waktu lalu. (Foto: SS)

Padang Pariaman, majalahfakta.id — Hamparan tanaman padi menghijau di Korong Tanah Taban, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Dari kejauhan, lahan itu tampak seperti persawahan biasa. Namun, beberapa bulan sebelumnya, kawasan tersebut sempat tertutup material sedimentasi akibat bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah itu pada akhir 2025.

Kini, petani kembali menginjak pematang sawah dan menunggu bulir-bulir padi menguning. Tanaman yang ditanam serentak pada 13 Mei 2026 itu telah berusia lebih dari tiga bulan dan diperkirakan memasuki masa panen sekitar sepekan lagi jika tidak ada gangguan berarti.

Kondisi itu terlihat ketika jajaran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman meninjau areal persawahan Tanah Taban, Kamis (27/8/2026), beberapa hari lalu.

Pemulihan tersebut menjadi gambaran bahwa rehabilitasi pascabencana tidak berhenti pada pembersihan material yang menutup lahan. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan sawah yang telah dibuka kembali memiliki sumber air dan sarana produksi yang memungkinkan petani kembali bercocok tanam secara berkelanjutan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman, Irawati Febriani, mengatakan pemulihan lahan Tanah Taban merupakan hasil kolaborasi pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan pemerintah kabupaten.

“Pemulihan lahan ini merupakan hasil kolaborasi pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman. Setelah lahan dipulihkan, kemudian dilakukan penanaman secara serentak,” kata Irawati.

Menurut dia, tantangan pascabencana tidak hanya berupa kerusakan fisik lahan. Sistem penyediaan air untuk pertanian juga ikut terganggu.

Sebelum bencana, petani di Tanah Taban belum memiliki jaringan irigasi teknis dan masih mengandalkan sumur untuk memenuhi kebutuhan air sawah. Ketika material sedimentasi menimbun kawasan tersebut, sumur yang selama ini menjadi sumber air petani turut terdampak.

Kondisi itu membuat pemulihan lahan tanpa pembenahan sistem pengairan berpotensi tidak menyelesaikan persoalan secara utuh.

Karena itu, pemerintah memberikan bantuan irigasi perpompaan sekaligus membangun jaringan irigasi tersier. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat memperkuat kepastian pasokan air dan mengurangi ketergantungan petani terhadap curah hujan.

“Dengan adanya sarana irigasi ini, kita berharap ketersediaan air dapat lebih terjamin sehingga lahan tetap produktif dan petani dapat terus melakukan kegiatan budidaya,” ujar Irawati.

Bagi petani, kembalinya aktivitas budidaya menjadi lebih dari sekadar pemulihan lahan. Sawah yang kembali ditanami berarti sumber penghasilan yang sempat terganggu mulai bergerak lagi.

Yusmanidar, salah seorang petani di Tanah Taban, mengaku bersyukur melihat tanaman padi kembali tumbuh setelah sawahnya sempat tertutup material sedimentasi.

Bencana sebelumnya membuat petani kehilangan kesempatan menggarap lahan. Karena itu, tanaman yang kini mendekati masa panen menjadi harapan baru bagi mereka.

“Kalau tidak ada kendala, sekitar satu minggu lagi sudah bisa dipanen,” kata Yusmanidar.

Namun, persoalan air belum sepenuhnya selesai. Kebutuhan air sawah saat ini masih dipenuhi dari curah hujan dan bantuan pompa.

Bagi petani, jaringan irigasi yang tengah dibangun menjadi penting bukan hanya untuk satu musim tanam. Infrastruktur tersebut diharapkan menjadi penyangga produksi pada musim-musim berikutnya, terutama ketika curah hujan tidak mencukupi.

Dengan kata lain, keberhasilan pemulihan lahan akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah memastikan sarana pendukung tetap berfungsi setelah program rehabilitasi selesai.

Tanah Taban hanya salah satu titik dari persoalan yang jauh lebih luas. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman mencatat bencana hidrometeorologi pada akhir 2025 berdampak terhadap 1.263 hektare lahan sawah.

Dari luasan tersebut, 446 hektare mengalami kerusakan ringan, 238 hektare rusak sedang, 450 hektare rusak berat, dan 100 hektare dinyatakan hilang.

Skala kerusakan itu menunjukkan bahwa pemulihan sektor pertanian tidak dapat dilakukan hanya dengan mengembalikan lahan agar bisa ditanami. Pemerintah harus memetakan tingkat kerusakan, menentukan metode rehabilitasi, sekaligus memastikan petani memperoleh dukungan untuk kembali berproduksi.

Untuk lahan dengan kerusakan ringan, pemerintah menjalankan Program Optimalisasi Lahan atau OPLAH seluas 446 hektare.

Sementara itu, dari 238 hektare lahan yang mengalami kerusakan sedang, sebanyak 198 hektare telah selesai direhabilitasi. Artinya, masih terdapat sekitar 40 hektare yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Sebanyak 450 hektare masuk kategori tersebut. Dari luasan itu, 234 hektare telah diajukan kepada Kementerian Pertanian melalui program rehabilitasi refocusing dan kini memasuki tahapan verifikasi serta validasi lapangan.

Adapun sekitar 256 hektare lahan rusak lainnya dan 100 hektare lahan yang dinyatakan hilang masih dalam proses pengusulan untuk memperoleh dukungan penanganan lebih lanjut dari pemerintah pusat.

Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan rumah pemerintah masih panjang. Mengembalikan warna hijau di atas lahan yang sempat tertimbun material bencana memang menjadi capaian penting. Namun, keberhasilan pemulihan sesungguhnya baru dapat diukur ketika lahan mampu menghasilkan secara konsisten dan petani kembali memperoleh pendapatan.

Karena itu, pemerintah daerah tidak hanya memfokuskan penanganan pada rehabilitasi lahan. Perbaikan jaringan irigasi dan dukungan sarana produksi pertanian juga menjadi bagian dari strategi pemulihan.

Irawati mengatakan pemerintah daerah akan terus mendorong percepatan rehabilitasi lahan terdampak bencana, sembari memastikan infrastruktur pendukung pertanian ikut diperkuat.

“Target kita bukan hanya membuat lahan kembali bisa ditanami, tetapi memastikan lahan tersebut dapat kembali produktif dan memberikan manfaat bagi petani secara berkelanjutan,” katanya.

Tanah Taban kini memang kembali hijau. Tetapi dibalik hamparan padi yang mendekati panen itu terdapat pekerjaan besar yang belum selesai: memastikan pemulihan pascabencana tidak berhenti pada satu musim tanam, melainkan menjadi jalan bagi petani Padang Pariaman untuk kembali memiliki kepastian produksi dan penghidupan.

Bagi petani, panen yang akan datang bukan sekadar akhir dari satu siklus tanam. Ia menjadi penanda bahwa dari lahan yang pernah terkubur bencana, kehidupan ekonomi perlahan kembali tumbuh.(SS)