Oleh: Syafrial Suger (Wartawan Majalah Fakta)
Dua menit yang mengubah Sumatera Barat, 18 jam perjuangan seorang penyintas, dan sebuah monumen yang kini perlahan dimakan lumut.
Ada bencana yang selesai ketika tanah berhenti berguncang. Ada pula bencana yang tidak pernah benar-benar selesai, karena ia terus hidup di tubuh para penyintas, dalam ingatan keluarga korban, dan pada tanah yang pernah menelan manusia.
Gempa Sumatera Barat pada 30 September 2009 adalah salah satunya.
Sore itu, sekitar pukul 17.16 WIB, bumi berguncang hebat. BMKG mencatat gempa tersebut bermagnitudo 7,9 dalam sejumlah catatannya, sementara dokumen kebencanaan BNPB mencatat magnitudo 7,6. Apa pun angka yang digunakan, dampaknya tidak terbantahkan: ribuan orang menjadi korban, rumah dan fasilitas publik rusak, serta longsor mengubur permukiman di sejumlah wilayah.
Padang Pariaman menjadi salah satu daerah yang mengalami dampak paling berat. Dalam salah satu dokumen BNPB, kabupaten ini tercatat sebagai wilayah dengan jumlah korban meninggal terbanyak, yakni 666 orang dari total 1.195 korban tewas yang dicatat dalam skenario kebencanaan berbasis data saat itu.
Namun statistik tidak pernah cukup untuk menjelaskan bagaimana rasanya terkubur hidup-hidup.
Angka tidak bisa menceritakan suara seseorang yang berteriak meminta pertolongan di bawah timbunan tanah.
Angka juga tidak mampu menerjemahkan bagaimana rasanya menunggu berjam-jam dalam gelap, dengan tubuh terjepit dan hanya ditemani harapan bahwa masih ada seseorang di luar sana yang mendengar.
Di Lubuk Laweh, Cumanak, dan Kapalo Koto, kisah itu bukan sekadar sejarah. Ia adalah ingatan yang diwariskan dari mulut ke mulut.
Dan salah satu pemilik ingatan itu adalah Ismael.
Ketika rumah berubah menjadi kuburan
Ismael masih mengingat sore itu dengan sangat jelas.
Gempa mula-mula dianggap sebagai guncangan yang biasa. Tetapi dalam hitungan detik, keadaan berubah. Tanah longsor datang bersama kepanikan. Rumah yang semula menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi perangkap. “Saat itu pukul 17.13 WIB, gempa berguncang hebat. Saya pikir itu cuma gempa. Ternyata ada longsor,”
Ia berlari ke belakang rumah.
Namun belum sempat menyelamatkan diri, tanah dan material bangunan menimbunnya.
Tubuhnya terbenam hingga leher. Kakinya terjepit puing-puing. Ia tidak bisa bergerak.
Yang tersisa hanyalah suara.
Ia berteriak.
Meminta tolong.
Di sekelilingnya, kampung berubah menjadi lanskap kematian. Rumah-rumah tertimbun. Orang-orang berlarian mencari keluarga. Tangisan bercampur dengan teriakan. Asap dan debu memenuhi udara.
Di tengah kekacauan itu, Ismael hanya memiliki satu pilihan: bertahan.
Bukan karena ia tahu akan selamat.
Melainkan karena ia belum tahu kapan pertolongan datang.
Sekitar pukul 19.00, suara permintaannya akhirnya terdengar warga di kampung seberang.
Orang-orang datang.
Mereka menggali tanah dengan peralatan seadanya. Material bangunan menjadi penghalang. Penggalian berlangsung perlahan.
Tanah dibongkar sedikit demi sedikit.
Tubuh Ismael baru berhasil digali sampai bagian pinggang. Napasnya mulai lebih lega, tetapi kakinya masih terjepit.
Gelap menjadi persoalan berikutnya.
Penerangan terbatas. Akses sulit. Jalan rusak. Alat berat dan fasilitas penyelamatan tidak mudah mencapai lokasi.
Selama berjam-jam, ia menunggu.
Warga berjaga.
Sesekali minuman diberikan agar tubuhnya tetap bertahan.
Hingga akhirnya, sekitar pukul 11.00 WIB, ia berhasil dikeluarkan sepenuhnya.
Perjalanan menuju rumah sakit belum selesai.
Dengan akses jalan yang rusak akibat bencana, warga harus berjuang membawa Ismael keluar dari kawasan tersebut. Ia baru tiba di Rumah Sakit Pariaman sekitar pukul 16.00.
Luka di kaki membuatnya mengalami kelumpuhan selama sekitar satu tahun.
Ia selamat.
Tetapi selamat bukan berarti kembali seperti sebelum bencana.
Ada luka yang sembuh secara medis tetapi tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan.
Dua menit gempa, bertahun-tahun luka
Kita sering memperingati bencana dengan angka.
Tahun ke-10.
Tahun ke-15.
Tahun ke-17.
Kita membuat seremoni. Menggelar doa. Mengibarkan bendera. Mengheningkan cipta. Mengunggah foto dan kutipan ke media sosial.
Setelah itu, kehidupan kembali berjalan.
Tetapi bagi penyintas seperti Ismael, kalender tidak pernah benar-benar menghapus 30 September.
Tanggal itu mungkin hanya satu hari bagi orang yang tidak mengalaminya.
Bagi penyintas, ia adalah pintu menuju masa lalu.
Sekali terbuka, seluruh ingatan kembali datang.
Suara tanah bergerak.
Teriakan manusia.
Rumah yang roboh.
Tubuh yang tertimbun.
Keluarga yang tidak pernah kembali.
Dan rasa takut yang mungkin tidak pernah benar-benar hilang.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apa sebenarnya arti mengenang bencana?
Apakah cukup dengan menyebut angka korban setiap tahun?
Apakah cukup dengan membuat monumen?
Atau justru ingatan harus diubah menjadi pengetahuan, kesiapsiagaan, tata ruang yang lebih aman, akses evakuasi yang baik, dan kehidupan yang lebih tangguh?
BNPB sendiri menekankan bahwa pembelajaran dari gempa 2009 harus diterjemahkan ke dalam pengurangan risiko bencana dan mitigasi berbasis riset.
Sebab bencana alam mungkin tidak bisa dicegah.
Tetapi kematian, kerusakan, dan penderitaan yang ditimbulkannya tidak selalu harus dibiarkan sebesar itu.
Jangan biarkan monumen menjadi makam kedua
Sekitar setahun setelah tragedi, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman membangun monumen gempa di kawasan yang menjadi saksi keganasan bencana tersebut.
Monumen itu bukan sekadar bangunan.
Ia adalah penanda.
Patung-patung menggambarkan korban yang tertimpa material longsor. Nama-nama korban diabadikan dalam prasasti.
Seharusnya, tempat semacam itu menjadi ruang untuk mengingat.
Ruang untuk belajar.
Ruang untuk memperkenalkan sejarah kebencanaan Sumatera Barat kepada generasi yang lahir setelah 2009.
Tetapi waktu ternyata memiliki cara sendiri untuk menguji keseriusan kita dalam merawat ingatan.
Kini, menurut kesaksian Ismael, monumen tersebut mulai tidak terawat. Lumut tumbuh di sejumlah bagian. Akses menuju kawasan juga terkendala kondisi jalan yang semakin sulit.
Ironinya terasa begitu dalam.
Kita membangun monumen agar sejarah tidak dilupakan.
Tetapi ketika monumen dibiarkan rusak, bukankah secara perlahan kita sedang membiarkan sejarah itu sendiri memudar?
Monumen yang berlumut bukan sekadar persoalan kebersihan.
Ia bisa menjadi metafora tentang bagaimana sebuah masyarakat memperlakukan masa lalunya.
Kita ingin dikenang sebagai masyarakat yang belajar dari bencana. Tetapi jika tempat belajar itu sendiri ditinggalkan, apa yang sebenarnya sedang kita wariskan kepada generasi berikutnya?
Wisata sejarah bukan menjual penderitaan
Ada satu hal yang juga perlu diluruskan.
Mengembangkan kawasan monumen gempa sebagai tujuan wisata tidak berarti menjadikan penderitaan sebagai komoditas.
Wisata sejarah bencana seharusnya bukan tentang menjual kesedihan.
Ia tentang menghadirkan pembelajaran.
Di banyak tempat, situs bencana justru dapat menjadi ruang pendidikan publik. Pengunjung tidak sekadar melihat patung atau membaca nama korban. Mereka memahami apa yang terjadi, mengapa korban begitu banyak, bagaimana penyelamatan dilakukan, apa kesalahan masa lalu, dan apa yang harus dilakukan jika bencana serupa kembali terjadi.
Lubuk Laweh memiliki modal itu.
Ada sejarah.
Ada kesaksian penyintas.
Ada lanskap alam.
Ada perbukitan.
Ada aliran sungai.
Ada kawasan pertanian.
Ada kehidupan masyarakat yang kembali tumbuh setelah kehancuran.
Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan ini tidak harus berhenti sebagai tempat mengenang kematian. Ia dapat berkembang menjadi ruang pendidikan kebencanaan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Warung makan.
Kedai kopi.
Produk pertanian lokal.
Kerajinan warga.
Pemandu wisata berbasis masyarakat.
Dokumentasi sejarah.
Pusat informasi kebencanaan.
Ruang edukasi untuk sekolah.
Semua itu dapat dirancang tanpa menghilangkan kesakralan tempat.
Justru ekonomi lokal dapat tumbuh dari upaya merawat ingatan.
Tetapi syarat dasarnya sederhana: akses harus dibenahi dan monumen harus dirawat.
Jalan rusak bukan sekadar persoalan pariwisata
Permintaan Ismael agar pemerintah memperbaiki akses jalan tidak seharusnya dibaca semata-mata sebagai permintaan untuk mendatangkan wisatawan.
Ada persoalan yang jauh lebih mendasar.
Jalan adalah urat nadi keselamatan.
Pada saat bencana, jalan bukan hanya digunakan wisatawan. Jalan digunakan ambulans. Digunakan tim penyelamat. Digunakan warga untuk evakuasi. Digunakan kendaraan pengangkut logistik.
Pengalaman Ismael pada 2009 seharusnya menjadi pelajaran bahwa akses menuju kawasan rawan bencana adalah bagian dari infrastruktur keselamatan.
Karena itu, memperbaiki jalan menuju Lubuk Laweh bukan hanya soal mempercantik objek wisata.
Ia juga merupakan bagian dari investasi mitigasi.
Di sinilah pembangunan seharusnya bertemu dengan ingatan.
Jalan yang baik.
Informasi evakuasi.
Rambu-rambu kebencanaan.
Ruang terbuka.
Sistem komunikasi.
Pelatihan warga.
Bangunan yang lebih aman.
Dan pengelolaan kawasan yang memperhitungkan risiko.
Semuanya harus menjadi satu kesatuan.
Alam takambang bukan sekadar slogan
Masyarakat Minangkabau memiliki filosofi yang sangat terkenal: alam takambang jadi guru.
Alam yang terbentang dijadikan guru.
Namun filosofi itu akan kehilangan makna jika alam hanya kita jadikan latar belakang untuk foto, sementara pelajaran dari bencana kita lupakan.
Gempa 2009 adalah guru yang sangat mahal.
Ia mengajarkan bahwa tanah yang terlihat kokoh bisa bergerak.
Bukit yang selama puluhan tahun dianggap biasa bisa longsor.
Rumah yang dianggap tempat paling aman bisa berubah menjadi perangkap.
Jalan yang selama ini menjadi akses kehidupan bisa berubah menjadi penghambat pertolongan.
Dan sebuah masyarakat yang merasa sudah mengenal alam ternyata masih dapat dibuat tidak berdaya hanya dalam beberapa menit.
Karena itu, peringatan gempa seharusnya tidak berhenti pada nostalgia.
Nostalgia hanya melihat ke belakang.
Mitigasi melihat ke belakang untuk menyelamatkan masa depan.
Jangan sampai gempa itu mati untuk kedua kalinya
Tujuh belas tahun telah berlalu.
Generasi baru tumbuh.
Anak-anak yang lahir setelah 2009 kini sudah memasuki usia remaja. Sebagian bahkan mungkin tidak memiliki memori langsung tentang bagaimana Sumatera Barat pada sore 30 September itu.
Bagi mereka, gempa tersebut hanyalah angka dalam buku sejarah.
Di sinilah monumen, kesaksian penyintas, dokumentasi, dan pendidikan kebencanaan menjadi penting.
Ismael adalah arsip hidup.
Tubuhnya pernah menjadi bagian dari tanah yang menimbun rumahnya.
Kakinya pernah terjepit puing.
Ia menunggu pertolongan selama berjam-jam.
Ia mengalami kelumpuhan.
Tetapi ia kemudian bangkit dan melanjutkan hidup.
Kini ia menjadi Wali Korong Lubuk Laweh Jajaran.
Perjalanan itu seharusnya tidak berhenti sebagai cerita pribadi.
Ia adalah pelajaran publik.
Jika monumen itu dirawat, kisah Ismael dapat diceritakan kepada anak-anak sekolah.
Jika akses diperbaiki, lebih banyak orang dapat datang dan belajar.
Jika kawasan dikembangkan dengan hati-hati, masyarakat sekitar dapat memperoleh manfaat ekonomi.
Jika dokumentasi dibuat dengan serius, kesaksian para penyintas tidak hilang bersama usia.
Dan jika pemerintah hadir secara konsisten, peringatan 30 September tidak menjadi ritual tahunan yang selesai setelah seremoni berakhir.
Sebab yang paling mengerikan dari sebuah bencana bukan hanya ketika tanah menelan manusia.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika manusia gagal mengambil pelajaran setelah tanah berhenti berguncang.
Kita tidak bisa menghidupkan kembali mereka yang telah pergi.
Kita tidak bisa menghapus trauma orang-orang yang selamat.
Kita juga tidak bisa meminta bumi untuk tidak pernah berguncang lagi.
Tetapi kita bisa memilih untuk tidak melupakan.
Kita bisa merawat monumen.
Membenahi jalan.
Mendokumentasikan kesaksian.
Mengajarkan sejarah.
Memperkuat mitigasi.
Dan memastikan masyarakat di sekitar kawasan bencana tidak hanya menjadi penjaga makam sejarah, tetapi juga memperoleh masa depan yang lebih baik.
Sebab sebuah bangsa tidak hanya diuji ketika bencana datang.
Ia juga diuji setelah bencana pergi: apakah ia masih mengingat siapa yang telah hilang, siapa yang telah bertahan, dan pelajaran apa yang harus dibawa ke masa depan.
Jangan biarkan lumut menutupi nama-nama korban.
Jangan biarkan jalan yang rusak memutus ingatan.
Dan jangan biarkan Gempa 30 September 2009 mati untuk kedua kalinya—kali ini bukan karena alam, melainkan karena kita memilih lupa. (*)






