Kota Pariaman, majalahfakta.id – Saluran irigasi selama ini lebih sering dipandang sebagai infrastruktur pertanian: mengalirkan air, menjaga sawah tetap produktif, dan menopang ketahanan pangan. Namun di Kota Pariaman, fungsi itu mulai dibayangkan lebih jauh.
Melalui konsep Sistem Multifungsi Area Irigasi untuk Rekreasi, Tata Air, dan Agrowisata (SMART TIRTA), kawasan irigasi diarahkan tidak hanya menjadi jalur air untuk pertanian, tetapi juga ruang publik yang memiliki nilai ekonomi, sosial, edukasi, dan wisata.
Gagasan tersebut menawarkan cara pandang baru terhadap infrastruktur pengairan. Bendung dan saluran irigasi yang selama ini berada di belakang aktivitas kota dapat ditata menjadi kawasan rekreasi keluarga tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai penopang pertanian.
Konsepnya relatif sederhana, tetapi memiliki dampak yang berlapis. Saluran irigasi tetap menjalankan tugas utama menyediakan, mengatur, dan membuang air untuk kepentingan pertanian. Di saat yang sama, ruang di sekitarnya dapat dimanfaatkan untuk aktivitas rekreasi seperti pemancingan ikan dan pemandian anak-anak, sepanjang memenuhi aspek keselamatan dan tidak mengganggu sistem pengairan.
Dengan lanskap yang tertata, lingkungan yang asri, serta saluran yang terbebas dari sampah dan limbah, kawasan bendung dan irigasi bahkan berpotensi berkembang menjadi destinasi wisata keluarga.
Di sinilah SMART TIRTA menemukan relevansinya. Infrastruktur yang semula hanya dihitung berdasarkan kemampuan mengalirkan air dapat diberi nilai tambah melalui pengelolaan kawasan.
Bagi Kota Pariaman, pengembangan kawasan irigasi menjadi ruang wisata membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di sekitar lokasi.
Kehadiran wisatawan dapat menciptakan permintaan terhadap berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari usaha kuliner, perdagangan kecil, jasa rekreasi hingga produk lokal. Dengan demikian, manfaat infrastruktur tidak berhenti pada petani yang memperoleh pasokan air untuk lahan pertanian, tetapi dapat meluas kepada masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas ekonomi di kawasan wisata.
Namun, gagasan itu membutuhkan pengelolaan yang lebih serius daripada sekadar mempercantik lokasi.
Kawasan irigasi merupakan infrastruktur teknis yang memiliki fungsi utama untuk tata air. Karena itu, pemanfaatannya sebagai ruang publik harus tetap memperhitungkan keamanan, kelancaran distribusi air, kondisi konstruksi, kebersihan, serta perlindungan terhadap lingkungan.
Jangan sampai label wisata justru mengubah saluran irigasi menjadi tempat pembuangan sampah baru atau mengganggu fungsi pertanian yang menjadi tujuan awal pembangunannya.
Karena itu, konsep SMART TIRTA semestinya ditempatkan sebagai pengelolaan multifungsi, bukan pengalihan fungsi irigasi.
Kota Pariaman selama ini memiliki modal wisata yang kuat, terutama dengan daya tarik kawasan pesisir dan kekayaan budaya masyarakatnya. Pengembangan wisata berbasis kawasan irigasi dapat menjadi diversifikasi destinasi sekaligus memperluas pilihan rekreasi bagi masyarakat.
Wisata irigasi memiliki karakter berbeda dengan wisata pantai. Jika dikelola dengan tepat, kawasan tersebut dapat menjadi ruang rekreasi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Keluarga dapat menikmati lingkungan hijau, anak-anak memperoleh ruang bermain dan edukasi mengenai air, sementara masyarakat dapat memahami hubungan antara tata air, pertanian, kebersihan lingkungan, dan kehidupan kota.
Dengan kata lain, SMART TIRTA bukan semata proyek mempercantik bendung atau saluran. Konsep ini dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali fungsi air kepada masyarakat.
Air yang mengalir di saluran irigasi bukan sekadar pemandangan. Di baliknya terdapat rantai kehidupan: sawah yang membutuhkan air, petani yang menggantungkan produksi pada irigasi, lingkungan yang harus dijaga, hingga masyarakat yang membutuhkan ruang publik.
Ada satu persoalan yang tidak bisa diabaikan dalam konsep tersebut: sampah.
Wisata berbasis saluran air hanya akan menarik apabila air dan lingkungan di sekitarnya bersih. Sampah rumah tangga, limbah, dan perilaku membuang kotoran ke saluran dapat dengan cepat mengubah kawasan yang dirancang menjadi ruang rekreasi menjadi lingkungan yang kumuh.
Karena itu, edukasi masyarakat menjadi salah satu bagian penting SMART TIRTA.
Masyarakat perlu ditempatkan bukan hanya sebagai pengguna, tetapi juga sebagai penjaga kawasan. Kesadaran untuk tidak membuang sampah ke saluran irigasi harus berjalan beriringan dengan penyediaan fasilitas persampahan, pengawasan, pemeliharaan, dan aturan pemanfaatan kawasan.
Jika hal tersebut berjalan, saluran irigasi dapat berubah menjadi ruang edukasi lingkungan yang hidup. Anak-anak tidak hanya melihat air mengalir, tetapi dapat memahami bagaimana air dikelola dan mengapa kebersihan saluran menentukan keberlanjutan pertanian dan lingkungan.
Secara umum, SMART TIRTA menawarkan sedikitnya tiga manfaat utama bagi Kota Pariaman.
Pertama, membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan irigasi melalui aktivitas wisata dan usaha pendukung.
Kedua, menambah potensi destinasi wisata Kota Pariaman, dengan memanfaatkan infrastruktur yang telah tersedia dan lingkungan yang dapat ditata menjadi kawasan rekreasi.
Ketiga, meningkatkan edukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga saluran irigasi, tata air, kebersihan, serta kelestarian lingkungan.
Konsep ini pada akhirnya mempertemukan tiga kepentingan yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri: pertanian, pariwisata, dan lingkungan.
Tantangannya adalah memastikan ketiganya tidak saling mengorbankan.
Sebab, irigasi tetap harus berfungsi sebagai irigasi. Wisata tidak boleh merusak sistem tata air, sementara aktivitas ekonomi tidak boleh mengorbankan kebersihan lingkungan.
Jika keseimbangan itu dapat dijaga, SMART TIRTA berpotensi mengubah cara warga memandang sebuah saluran air. Dari sesuatu yang hanya dilewati air untuk menuju sawah, menjadi ruang yang juga menghidupkan ekonomi, menyediakan rekreasi, sekaligus mengajarkan masyarakat untuk merawat lingkungan.
Di tengah kebutuhan kota mencari ruang publik baru dan sumber pertumbuhan ekonomi masyarakat, gagasan tersebut menawarkan satu pesan sederhana: kadang-kadang destinasi baru tidak perlu dibangun dari nol. Cukup melihat kembali infrastruktur yang sudah ada, lalu mengelolanya dengan cara yang lebih kreatif dan berkelanjutan. (SS)






