Palembang, majalahfakta.id – Di puncak jabatan, sapaan hangat sering datang dari banyak arah. Namun bChairul S Matdiah, memilih menoleh ke belakang, melihat kepada orang-orang yang lebih dulu menemaninya saat mulai melangkah.
Perenungan itu ia tuangkan dalam ungkapan berjudul “Setinggi Apa pun Jabatanmu, Jangan Lupakan Sejarah Perjalananmu”. Bagi Chairul, jabatan yang tinggi membawa tanggung jawab yang besar.
“Di tengah kesibukan dan berbagai penghormatan yang kita terima, ingatlah dari mana kita berangkat serta siapa saja yang pernah hadir dalam perjalanan kita,” ujar Chairul S Matdiah.
Sebelum duduk di kursi DPRD Sumsel, kata Chairul, perjalanannya tak pernah ia lalui sendirian. Ada senior yang sabar membimbing. Ada teman yang datang membantu ketika ia kesulitan. Ada keluarga dan saudara yang tetap percaya, bahkan ketika dirinya sendiri mulai kehilangan keyakinan. Ada yang memberi nasihat, membuka kesempatan, dan menyebut namanya dalam doa tanpa pernah ia ketahui.
“Jangan sampai setelah berada di atas, kita sulit dijangkau oleh orang-orang yang dahulu membantu kita melangkah,” katanya.
Chairul bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberi kehidupan, kesehatan, dan kesempatan hingga hari ini. Kepercayaan duduk di kursi dewan datang setelah ia menjalani 21 tahun sebagai pengacara dan pernah menjadi wartawan majalah Fakta Surabaya serta kontributor RCTI. Baginya, itu amanah.
“Sekaligus tanggung jawab yang harus saya jalankan dengan sungguh-sungguh,” ucapnya.
Perjumpaan Kecil, Persaudaraan Panjang
Ketika merenungi perjalanan itu, ingatan Chairul tertuju pada orang-orang sederhana yang pernah ia temui. Mungkin ada seseorang yang hidup dalam keterbatasan, dan pada suatu waktu Allah SWT memberinya kesempatan untuk membantu. Ia tak pernah tahu seberapa besar arti bantuan itu bagi si penerima.
“Bisa jadi, dari perjumpaan sederhana tersebut tumbuh persaudaraan, doa, dan kepercayaan yang terus menyertai perjalanan saya,” tuturnya.
Dari sana ia belajar untuk tidak meremehkan siapa pun.
“Setiap orang memiliki martabat, harapan, dan ketulusan yang patut kita hargai,” ucapnya.
Ribuan Harapan yang Dititipkan
Chairul sadar, kursi legislatif bukan hasil perjuangan satu orang. Ada ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu orang yang memberi kepercayaan. Ada yang meluangkan waktu, mengeluarkan tenaga, mengajak keluarga dan sahabat, serta berjuang dengan caranya masing-masing agar ia bisa mengemban amanah ini.
“Karena itu, saya harus selalu mengingat bahwa di balik kursi yang saya duduki, ada harapan banyak orang yang dititipkan kepada saya,” katanya.
Mereka yang telah berjuang dan menitipkan harapan, menurut Chairul, layak mendapat waktu dan perhatian. Ia berusaha menjaga komunikasi, mendengarkan cerita mereka, dan mengetahui persoalan yang tengah dihadapi.
Tidak semua orang yang menghubunginya, kata Chairul, sedang meminta bantuan. Ada yang sekadar bertanya kabar, menyampaikan pendapat, atau merasa dekat dengan orang yang dahulu mereka dukung.
“Mungkin mereka sudah merasa bangga ketika disapa, terlebih ketika diingat dan diperhatikan,” ujarnya.
Sebuah sapaan sederhana, lanjutnya, bisa berarti besar bahwa mereka tetap dikenal, tetap dihargai, dan tetap menjadi bagian dari perjalanan ini.
“Jangan sampai orang-orang yang dahulu mengantarkan kita dengan penuh harapan justru merasa asing ketika kita telah sampai di tujuan,” katanya
Chairul mengakui dirinya punya keterbatasan. Tidak semua persoalan dapat ia selesaikan, dan tidak semua harapan bisa segera dipenuhi. Meski begitu, ia ingin terus berusaha mendengarkan, memberi penjelasan dengan baik, dan melakukan sesuatu yang bermanfaat sesuai kemampuan, kewenangan, dan kapasitasnya.
“Bagi saya, menjaga komunikasi merupakan bagian dari menghormati kepercayaan. Ketika belum dapat membantu, setidaknya kita hadir untuk mendengar dan menyampaikan keadaan yang sebenarnya. Jangan membiarkan orang menunggu tanpa kabar atau merasa dilupakan,” tegasnya.
“Tolong Ingatkan Saya,” sambungnya.
Ia berharap tetap menjadi pribadi yang dahulu dikenal teman dan sahabatnya bisa diajak berbicara, bersedia mendengarkan, dan mau menerima nasihat. Bila ada sikap atau kesibukannya yang membuat hubungan terasa menjauh, Chairul berharap selalu punya kerendahan hati untuk memperbaikinya.
“Tolong ingatkan saya apabila ada langkah yang keliru atau perhatian yang terlewatkan. Persaudaraan perlu dijaga dengan ketulusan dan keberanian untuk saling mengingatkan,” ucapnya.
Ketika Amanah Telah Selesai
Di ujung pesannya, Chairul mengingatkan bahwa jabatan ada waktunya dan kekuasaan ada masanya. Yang akan tinggal dalam ingatan orang adalah cara kita memperlakukan mereka.
“Kelak, ketika amanah ini telah selesai, saya berharap masih dapat duduk bersama teman-teman dan sahabat dengan keakraban yang sama,” katanya.
Ia juga ingin terus berbuat sesuatu bagi teman, sahabat, dan masyarakat sesuai kemampuan serta kapasitas yang dipercayakan Allah SWT kepadanya.
Chairul memohon doa dari seluruh Sahabat CH agar diberi kesehatan, kekuatan, kebijaksanaan, dan kemampuan menjalankan amanah serta tetap hadir bersama para sahabat.
“Semoga saya tidak melupakan jalan yang pernah saya lalui dan tangan-tangan yang pernah menolong saya. Semoga kepercayaan ini membuat saya semakin peka untuk mendengar dan semakin sungguh-sungguh untuk mengabdi,” pungkasnya. (Js)






