Kolom  

Menembus Barat Sumatra Menuju Sabang: Catatan Panjang Seorang Solo Rider di Ujung Barat Indonesia

Ada perjalanan yang sekadar memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain. Namun, ada pula perjalanan yang perlahan-lahan mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri, alam, dan Sang Pencipta.

Perjalanan menuju Sabang adalah salah satunya.
Tepat pada 23 Desember 2016, sebut saja Syafrial Suger alias Herry Suger, aku memutar kunci motor tua kesayanganku di Pariaman, Sumatera Barat. Di hadapanku terbentang ribuan kilometer jalan yang belum tentu selalu ramah, rangkaian tikungan Bukit Barisan, pesisir barat Sumatra, kota-kota yang asing, cuaca yang berubah-ubah, serta lautan yang kelak menjadi penghubung terakhir menuju Pulau Weh.

Aku berangkat seorang diri.
Bukan karena tidak memiliki kawan untuk diajak berkendara, melainkan karena sesekali seorang rider memang membutuhkan perjalanan yang hanya ditemani suara mesin, angin, dan pikirannya sendiri.

Motor tua itu mungkin tidak istimewa jika dilihat dari usia dan penampilannya. Namun, bagiku, ia adalah partner perjalanan. Ada karakter pada suara mesinnya, ada getaran yang sudah kukenal, dan ada rasa percaya yang tumbuh karena kami telah melewati begitu banyak jalan bersama.

Di atas sadel itulah aku merasa merdeka.
Bukan kemerdekaan dalam arti bebas tanpa batas, tetapi kemerdekaan untuk menentukan arah, berhenti ketika ingin menikmati pemandangan, berbicara dengan orang-orang yang ditemui di perjalanan, dan membiarkan jalan mengajarkan sesuatu yang tidak selalu bisa ditemukan dalam rutinitas sehari-hari.

Ketika Mesin Menyala, Perjalanan Dimulai

Dari Pariaman, perjalanan menuju Sabang bukanlah perjalanan pendek.
Jika dihitung hingga Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, jarak darat yang kutempuh berada di kisaran 1.200–1.250 kilometer, kemudian perjalanan dilanjutkan dengan kapal feri menuju Pulau Weh.

Laut yang memisahkan Banda Aceh dan Sabang menjadi bagian terakhir dari perjalanan darat panjang itu.
Secara hitungan waktu berkendara murni, perjalanan sejauh itu sebenarnya dapat ditempuh dalam waktu sekitar 32–36 jam.

Tetapi touring bukan perlombaan.
Aku memilih membaginya menjadi empat sampai lima hari perjalanan santai.
Bagiku, rider profesional bukanlah mereka yang mampu memaksa tubuh dan mesin bekerja tanpa henti.

Rider yang matang justru tahu kapan harus membuka gas, kapan harus mengurangi kecepatan, kapan harus berhenti, dan kapan harus berkata kepada dirinya sendiri: cukup untuk hari ini.

Keselamatan selalu menjadi bagian dari perjalanan.
Target kilometer boleh dibuat. Waktu tempuh boleh dihitung. Namun, tubuh, cuaca, kondisi motor, dan karakter jalan tetap menjadi komandan sebenarnya.
Karena tujuan touring bukan sekadar sampai.
Tujuan touring adalah sampai dengan selamat dan membawa pulang cerita.

Menyusuri Jalur Barat Sumatra

Aku memilih jalur barat Sumatra sebagai jalur utama.
Rute ini adalah salah satu jalur yang paling menggoda bagi seorang penikmat perjalanan roda dua. Jalannya membentang di antara pegunungan Bukit Barisan dan garis pantai barat Sumatra. Di satu sisi ada dinding-dinding pegunungan, di sisi lain terbuka pemandangan laut yang luas.

Rute yang kulalui secara umum:
Pariaman → Bukittinggi → Sidimpuan → Sibolga → Tapaktuan → Meulaboh → Banda Aceh → Ulee Lheue → Sabang.
Jalur ini bukan sekadar garis di atas peta.
Ia adalah rangkaian pengalaman.

Dari kawasan Sumatera Barat, perjalanan perlahan membawa motor masuk ke kontur pegunungan. Tikungan mulai rapat. Tanjakan dan turunan menuntut konsentrasi. Sesekali aku harus menurunkan ritme dan membiarkan mesin bekerja dengan putaran yang nyaman.

Di sinilah seorang rider belajar bahwa perjalanan jauh tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga kepekaan.
Kepekaan membaca permukaan aspal.
Kepekaan melihat perubahan cuaca.
Kepekaan memahami kondisi mesin.
Dan yang paling penting, kepekaan membaca diri sendiri.

Bukit Barisan dan Pelajaran Tentang Kesabaran

Menunggangi sepeda motor melintasi Bukit Barisan memberikan pengalaman yang berbeda dari perjalanan menggunakan mobil.
Di atas roda dua, aku tidak berada di balik kaca.
Angin langsung menghantam tubuh. Aroma hutan terasa jelas. Udara dingin pegunungan menyentuh wajah. Ketika hujan turun, aku merasakannya secara langsung.

Semua menjadi lebih nyata.
Tikungan demi tikungan kulewati dengan ritme yang tenang. Tidak ada alasan untuk terburu-buru. Setiap tikungan memiliki karakternya sendiri dan setiap tanjakan menuntut perhitungan.
Sesekali aku berhenti.
Bukan karena lelah saja, tetapi karena ada pemandangan yang terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja, sembari meneguk kopi hitam tanpa gula ala Sumatera.

Aku mematikan mesin.
Suara knalpot menghilang.
Kemudian alam mengambil alih.
Desiran angin, suara dedaunan, burung-burung yang entah berada di mana, serta panorama pegunungan yang membentang menjadi semacam ruang meditasi alami.
Pada momen seperti itu aku sering berpikir:
Betapa kecilnya manusia ketika berdiri di hadapan alam.

Kita sering merasa hebat karena mampu mengendalikan mesin, membaca peta, menentukan rute, dan menempuh ribuan kilometer. Tetapi ketika berhadapan dengan gunung, laut, lembah, dan langit yang begitu luas, kesombongan itu terasa tidak berarti.
Perjalanan justru mengajarkan kerendahan hati.

Dari Pegunungan Menuju Pesisir

Salah satu kenikmatan jalur barat Sumatra adalah perubahan lanskapnya.
Pagi bisa saja dimulai dengan udara dingin pegunungan. Beberapa jam kemudian, suasana berubah menjadi lebih hangat ketika jalan mulai mendekati pesisir.

Kemudian laut muncul.
Samudra Hindia terbentang begitu luas.
Di atas motor, pemandangan laut terasa berbeda. Tidak ada layar jendela yang membatasi pandangan. Aku bisa merasakan hembusan angin laut, mencium aroma asin air, dan menyaksikan perubahan warna langit secara langsung.

Ada saat-saat ketika jalan seolah hanya menjadi garis tipis yang memisahkan pegunungan dan lautan.
Aku kembali memperlambat motor.

Bukan karena jalan sedang sulit, tetapi karena mata ingin lebih lama menikmati apa yang ada di hadapan.
Di sanalah aku mulai memahami bahwa touring bukan hanya tentang mengejar destinasi.
Jalan itu sendiri adalah bagian dari tujuan.

Bertemu Banyak Wajah di Sepanjang Jalan

Solo riding memang berarti berkendara seorang diri, tetapi bukan berarti benar-benar sendirian.
Di sepanjang perjalanan, selalu ada manusia yang hadir dengan cerita masing-masing.

Ada pemilik warung yang bertanya dari mana aku datang.
Ada pengendara lain yang sekadar mengangkat tangan ketika berpapasan.
Ada orang yang penasaran melihat motor tua yang kubawa menempuh perjalanan jauh.

Ada pula orang-orang yang mungkin hanya kutemui selama beberapa menit, tetapi percakapannya justru melekat lebih lama daripada yang kubayangkan.
Itulah salah satu keindahan touring.

Kita berangkat membawa satu cerita, lalu pulang dengan puluhan cerita baru.
Setiap kota meninggalkan kesan.
Setiap warung memberikan pengalaman.
Setiap kilometer mempertemukan kita dengan wajah-wajah yang sebelumnya tidak pernah kita kenal.
Dan karena aku melakukan perjalanan seorang diri, setiap interaksi terasa lebih bermakna.

Meulaboh dan Jalan Panjang Menuju Banda Aceh

Semakin jauh ke utara, perjalanan terasa semakin emosional.
Ada kesadaran bahwa aku sudah menempuh begitu banyak kilometer dari titik keberangkatan.
Motor masih berjalan.
Tubuh mulai mengenal rasa lelah.
Namun, semangat untuk mencapai ujung perjalanan justru semakin besar.

Dari arah Meulaboh menuju Banda Aceh, perjalanan kembali menghadirkan bentang alam yang membuatku berkali-kali bersyukur.
Pemandangan pesisir, perbukitan, jalan panjang, dan langit yang terbuka lebar seolah menjadi hadiah setelah berhari-hari duduk di atas sadel.

Ada satu perasaan yang sulit dijelaskan ketika seorang rider menyadari bahwa dirinya sedang berada ribuan kilometer dari rumah.
Ada rasa jauh.
Ada rasa asing.
Namun sekaligus ada rasa bangga.

Bukan bangga karena berhasil mengalahkan jarak, melainkan karena berhasil mengalahkan rasa takut dan keraguan yang sebelumnya ada di dalam diri.

Ulee Lheue: Satu Tahap Telah Ditaklukkan

Ketika akhirnya tiba di Banda Aceh dan bergerak menuju Pelabuhan Ulee Lheue, rasanya seperti menutup satu bab perjalanan.
Tetapi perjalanan belum selesai.
Di hadapan terbentang laut menuju Sabang.
Motor yang selama berhari-hari menjadi sahabat perjalanan kini harus berhenti sejenak dan naik ke kapal.
Aku melihat kembali motor tua yang telah membawaku dari Pariaman.
Ada rasa haru.

Benda yang bagi orang lain mungkin hanya sebuah kendaraan, bagiku telah menjadi bagian dari perjalanan hidup.
Ia telah membawa tubuhku melewati ribuan tikungan, tanjakan, hujan, panas, dan jalan panjang yang tidak selalu sempurna.
Dan kini kami berada di atas kapal menuju Pulau Weh.

Laut Menuju Sabang

Penyeberangan menuju Sabang memberikan suasana yang sama sekali berbeda.
Setelah berhari-hari berhadapan dengan aspal, kini roda berhenti berputar dan lautan mengambil alih perjalanan.

Sekitar 46 kilometer atau 25 mil laut memisahkan Banda Aceh dengan Sabang.
Di atas kapal, aku bisa beristirahat sambil memandang garis cakrawala, dan tak lupa akan Kopi Hitam Tanpa Gula untuk diseruput.
Laut tampak luas.
Langit seakan tidak memiliki batas.
Motor berada di dek kapal, sementara aku berdiri menikmati angin yang berembus.

Setelah perjalanan panjang di daratan, momen itu terasa seperti jeda yang memang diperlukan.
Aku kembali merenung.
Ternyata perjalanan ribuan kilometer ini bukan hanya tentang seberapa jauh aku mampu membawa motor tua itu.

Perjalanan ini adalah tentang bagaimana aku belajar mengenal batas diri.
Tentang kesabaran.
Tentang keberanian.
Tentang rasa syukur.
Dan tentang kebesaran Sang Pencipta yang terpampang nyata dalam setiap bentang alam yang kulewati.

Sabang: Ketika Ujung Barat Bukan Lagi Sekadar Titik di Peta

Ketika akhirnya roda motor kembali menyentuh tanah Pulau Weh, ada perasaan yang sulit diterjemahkan.
Aku sampai.

Namun yang sebenarnya tiba bukan hanya seorang rider dan sebuah motor.
Yang tiba adalah seseorang yang telah berubah sedikit dibandingkan saat meninggalkan Pariaman.
Perjalanan panjang selalu meninggalkan sesuatu di dalam diri.

Kadang berupa keberanian.
Kadang berupa kenangan.
Kadang berupa luka kecil, lelah, atau masalah teknis yang justru kelak menjadi bahan cerita paling menarik.
Dan bagiku, perjalanan menuju Sabang memberikan satu kesimpulan sederhana:
Semakin jauh kita berkendara, semakin luas pula cara kita melihat dunia.
Aku berangkat dengan adrenalin.
Aku pulang dengan rasa syukur.
Aku berangkat mengejar jarak.
Aku pulang membawa pengalaman.
Aku berangkat sendirian.
Namun sepanjang perjalanan, aku menemukan begitu banyak teman, cerita, dan pelajaran.

Bukan Tentang Seberapa Cepat Kita Sampai

Bertahun-tahun kemudian, ketika mengingat kembali perjalanan itu, yang paling melekat bukanlah angka 1.200 kilometer.

Bukan pula catatan berapa jam mesin bekerja atau berapa kali berhenti mengisi bahan bakar.
Yang paling kuingat adalah suasana.
Jalan yang membelah pegunungan.
Laut yang membentang tanpa batas.
Angin yang menerpa wajah.
Matahari yang perlahan turun di balik cakrawala.
Suara mesin tua yang terus menemani.
Warung sederhana di pinggir jalan dengan suguhan Kopi hitam tanpa gula ala sumatera.
Senyum orang-orang yang tidak kukenal.
Dan perasaan takjub ketika menyadari bahwa semua keindahan itu berada di hadapan mata karena kehendak Sang Pencipta.
Itulah esensi touring bagiku.
Bukan tentang menjadi yang paling cepat.

Bukan tentang siapa yang memiliki motor paling mahal.
Bukan pula tentang siapa yang paling jauh menempuh perjalanan.
Touring adalah tentang menikmati proses.
Tentang menghormati jalan.
Tentang memahami mesin.
Tentang menjaga tubuh.
Tentang menghargai sesama pengguna jalan.
Dan yang paling penting, tentang pulang dengan selamat.

Karena sejauh apa pun seorang rider pergi, rumah tetaplah tempat perjalanan menemukan maknanya.
Sabang mungkin menjadi ujung barat Indonesia yang kutuju.

Tetapi sesungguhnya, perjalanan itu tidak pernah benar-benar berakhir ketika motor berhenti.
Ia terus hidup dalam ingatan.
Dalam setiap foto.
Dalam setiap cerita yang kembali diceritakan.
Dan dalam rasa syukur setiap kali aku melihat motor tua itu kembali terparkir di rumah.

Dari Pariaman menuju Sabang, aku belajar bahwa jalan yang panjang tidak selalu membuat kita tersesat. Kadang justru melalui jalan yang panjang itulah kita menemukan diri sendiri.

Dan di antara deru mesin, tikungan Bukit Barisan, luasnya Samudra Hindia, serta bentang alam Sumatra yang luar biasa, aku menemukan satu hal yang jauh lebih berharga daripada sekadar pencapaian sebuah destinasi:
kekaguman kepada Sang Pencipta.

Karena pada akhirnya, seorang rider mungkin hanya memutar gas dan mengikuti jalan.
Tetapi Tuhanlah yang memperlihatkan ke mana perjalanan itu harus membawa hati. (Safrizal Suger)