FAKTA – “Buktinya mana?” Pertanyaan itu terdengar tegas di ruang rapat. Seorang pimpinan meminta laporan untuk memastikan penyebab kegagalan program. Timnya telah menyiapkan data, dokumen, dan kronologi kejadian. Semua disampaikan dengan hati-hati, berharap masalah dapat diselesaikan secara objektif.
Namun, ketika data menunjukkan bahwa keputusan pimpinan turut menyebabkan kegagalan, suasana berubah. Ia meragukan angka, mempertanyakan metode, bahkan menyalahkan orang yang menyampaikan laporan. Ketika penjelasan tambahan diberikan, ia kembali mencari kekurangan lain. Rapat berakhir tanpa penyelesaian.
Seorang staf keluar ruangan dengan langkah berat. Dalam hati ia bertanya, apakah atasannya sungguh ingin mengetahui kebenaran, atau hanya ingin mendengar sesuatu yang membenarkan dirinya?
Sahabat, pernahkah kita bersikap seperti itu? Kita meminta penjelasan, tetapi menolak ketika jawabannya tidak sesuai harapan. Kita menuntut bukti, tetapi sulit menerimanya ketika bukti itu menunjukkan kekeliruan kita sendiri.
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah yang menerangi kehidupan melalui petunjuk-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam menyampaikan dan menerima kebenaran.
ALLAH BERFIRMAN:
وَقَالَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللّٰهُ اَوْ تَأْتِيْنَآ اٰيَةٌ ۗ كَذٰلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِّثْلَ قَوْلِهِمْۗ تَشَابَهَتْ قُلُوْبُهُمْۗ قَدْ بَيَّنَّا الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ
“Orang-orang yang tidak mengetahui berkata, ‘Mengapa Allah tidak berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda (kekuasaan-Nya) kepada kami?’ Demikian pula orang-orang sebelum mereka telah berkata seperti ucapan mereka itu. Hati mereka serupa. Sungguh, telah Kami jelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang yakin.”
(QS. Al-Baqarah: 118)
PESAN TAFSIR
Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini mencela tuntutan orang-orang yang menentang para rasul agar Allah berbicara langsung kepada mereka atau mendatangkan tanda sesuai keinginan mereka. Sikap serupa telah dilakukan umat terdahulu. Persoalannya bukan sekadar kurangnya bukti, melainkan penolakan terhadap kebenaran yang telah dijelaskan.
Tafsir Al-Jalalain juga menerangkan keserupaan ucapan dan hati orang-orang yang menolak tersebut. Ayat ini menegaskan bahwa tanda-tanda Allah telah dijelaskan bagi orang-orang yang memiliki keyakinan. Hati yang terbuka akan mengambil pelajaran, sedangkan hati yang keras terus mencari alasan untuk menolak.
Dalam semangat perenungan sosial yang relevan dengan pendekatan Tafsir Al-Azhar Buya Hamka, ayat ini mengajak kita memeriksa keadaan batin sendiri. Pengetahuan semestinya membimbing manusia mendekati kebenaran, bukan menjadi alat untuk membenarkan kesombongan. Ini merupakan refleksi, bukan kutipan langsung dari penafsiran beliau atas ayat tersebut.
CERMIN DIRI
Meminta bukti bukanlah kesalahan. Justru, kebenaran perlu diperiksa dengan jujur. Yang perlu kita waspadai adalah ketika standar bukti terus berubah hanya karena kita tidak menyukai kesimpulannya.
Pemimpin yang bijaksana berani menerima laporan yang tidak menyenangkan. Orang tua yang matang bersedia mengakui kekeliruan. Kita pun perlu belajar berkata, “Ternyata saya salah. Terima kasih telah mengingatkan.”
Sebab, tujuan mencari kebenaran bukan memenangkan perdebatan, melainkan menemukan jalan yang benar.
Ya Allah, lapangkan hati kami untuk menerima kebenaran, kuatkan keberanian kami mengakui kesalahan, dan jauhkan kami dari kesombongan yang menutup pintu petunjuk-Mu.
Iwan Muhajirin
20 Oktober 2026






