Ketika Manusia Merasa Memiliki Segalanya
FAKTA – Malam itu, seorang lelaki duduk sendirian di ruang kerjanya yang luas. Di hadapannya terpajang penghargaan, foto keberhasilan bisnis, dan deretan piala yang menjadi kebanggaannya. Teleponnya terus berdering. Banyak orang mencari dirinya, meminta bantuan, bahkan menunggu keputusannya.
Ia memandang semua itu dengan bangga. Dalam hati, ia merasa telah mencapai segalanya berkat kecerdasan, kerja keras, dan kekuatannya sendiri.
Namun, ketika lampu ruangan dipadamkan dan kesunyian mulai menyelimuti malam, muncul sebuah pertanyaan yang jarang direnungkannya: siapa sebenarnya yang memberinya kehidupan, akal, kesempatan, dan kemampuan untuk meraih semua itu?
Kita mungkin tidak memiliki gedung megah atau jabatan tinggi. Namun, bukankah kita juga terkadang merasa bahwa keberhasilan, kekayaan, bahkan kehidupan ini sepenuhnya berada dalam genggaman kita?
Kita lupa bahwa sebelum memiliki apa pun, kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa. Dan ketika tiba waktunya pergi, tak satu pun milik kita dapat dibawa sebagai kepemilikan abadi.
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah, Pemilik seluruh alam dan sumber segala nikmat. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang mengajarkan kita mengenal Allah dan menempatkan diri sebagai hamba-Nya.
ALLAH BERFIRMAN:
وَقَالُوا اتَّخَذَ اللّٰهُ وَلَدًاۙ سُبْحٰنَهٗۗ بَلْ لَّهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۖ كُلٌّ لَّهٗ قٰنِتُوْنَ
Artinya:
“Dan mereka berkata, ‘Allah mempunyai anak.’ Mahasuci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya; semua tunduk kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 116)
PESAN TAFSIR
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini membantah keyakinan yang menisbatkan anak kepada Allah. Allah Mahasuci dari sifat tersebut. Seluruh makhluk adalah ciptaan dan milik-Nya, bukan keturunan-Nya. Allah tidak membutuhkan siapa pun, sedangkan seluruh makhluk bergantung kepada-Nya.
Al-Jalalain menegaskan bahwa semua yang ada di langit dan bumi adalah milik Allah dan merupakan hamba-hamba-Nya. Semuanya tunduk kepada-Nya. Tidak ada satu pun makhluk yang keluar dari kekuasaan dan kepemilikan-Nya.
Buya Hamka mengajak kita memahami tauhid sebagai landasan penghambaan kepada Allah. Allah tidak membutuhkan keturunan untuk mempertahankan kekuasaan-Nya. Dalam kehidupan manusia, kita pun perlu menyadari bahwa kekayaan, jabatan, kecerdasan, dan keberhasilan bukanlah alasan untuk menyombongkan diri. Semuanya merupakan nikmat yang harus dipertanggungjawabkan.
CERMIN DIRI
Ketika berhasil, apakah kita semakin rendah hati atau justru merasa lebih tinggi daripada orang lain? Ketika berbeda keyakinan atau pendapat, apakah kita berusaha menjelaskan kebenaran dengan ilmu dan adab, atau sibuk merendahkan sesama?
Mari memurnikan keyakinan kepada Allah, menyadari keterbatasan diri, dan menggunakan setiap nikmat untuk kebaikan. Kita boleh berusaha meraih keberhasilan setinggi mungkin, tetapi jangan sampai keberhasilan membuat kita lupa kepada Pemilik kehidupan.
PENUTUP
Segala yang kita miliki hanyalah titipan, sedangkan Allah adalah Pemilik segala sesuatu. Semoga semakin banyak nikmat yang kita terima, semakin dalam pula ketundukan kita kepada-Nya.
Iwan Muhajirin
18 Oktober 2026






