Daerah  

“Kalau Bukan Beliau, Saya Masih di Jalanan”

Dian, Jurnalis Batu, dan Utang Budi yang Tak Sempat Terbalas untuk Ryan Ariyanto Setiawan

FAKTA – Rabu, 17 Juni 2026. Di teras rumah duka Perumahan Sekar Putih Permai, Batu, seorang laki-laki berdiri dengan mata merah. Namanya Dian. Jurnalis. Tapi siang itu, ia bukan pewarta. Ia murid yang kehilangan gurunya.

Innalilahi wainailaihi…” suaranya terisak, terhenti lama sebelum lanjut. “Saya merasa hutang budi. Belum pernah membalas kebaikan almarhum.”

2003: Pertemuan yang Mengubah Arah Hidup
Dian tidak lupa tahun itu. Usianya masih belia, pekerjaannya berpindah dari ngamen di perempatan ke jaga parkir. Dipandang sebelah mata adalah sarapannya tiap hari. Sampai Ryan Ariyanto Setiawan datang.

Ryan, jurnalis senior Malang Raya itu, tidak menawarkannya uang. Ia menawari sesuatu yang lebih mahal: kemungkinan.

“Dulu, kalau tidak diajak almarhum, mungkin saya masih menjadi pengamen jalanan dan tukang parkir,” kenang Dian. Ryan menariknya dari lampu merah ke meja redaksi. Diajari cara memegang pena, bukan gitar. Diajari cara mengejar narasumber, bukan mengejar recehan.

Guru yang Membentuk Mental
Bagi Dian, Ryan bukan sekadar mengajari 5W+1H. Ia membentuk mental.

“Alhamdulilah, yang awalnya saya dipandang sebelah mata, lambat laun diajari ilmu tentang jurnalistik sejak 2003 silam hingga saat ini,” katanya.

Ryan galak kalau tulisan Dian lemah. Ryan sabar kalau Dian jatuh. Ryan tidak pernah lelah menjawab telepon tengah malam dari muridnya yang bingung menulis lead berita. Tanpa Ryan, nama Dian mungkin tidak pernah ada di kolom byline.

Utang yang Dibawa ke Liang Lahat
Kabar itu datang tiba-tiba. Ryan pingsan di Pemkot Batu. Pembuluh darah pecah. Usia 47 tahun, ia pergi. Dan Dian datang ke rumah duka dengan dada sesak.

“Maka dari itu, saya menyesal belum bisa membalas kebaikan almarhum selama hidupnya,” ucapnya. Kalimat itu yang paling perih. Karena kebaikan Ryan tidak pernah minta dibayar. Tapi Dian ingin sekali, sekali saja, membuat gurunya bangga.

Belasungkawa Redaksi
Kepergian Ryan Ariyanto Setiawan bukan hanya duka bagi keluarga dan sahabat. Ini kehilangan besar bagi dunia jurnalistik Malang Raya.

Redaksi Majalah Fakta turut berduka cita sedalam-dalamnya. Almarhum adalah sosok pendidik yang rendah hati, mentor yang tulus, dan jurnalis yang menjunjung integritas. Jejak kebaikannya akan terus hidup dalam karya murid-murid yang pernah dibimbingnya. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan.

Selamat jalan, Mas Ryan.
Muridmu yang dulu anak jalanan ini janji: pena yang kau titipkan tidak akan patah. (F1015/mud)