Flobamora Bersatu, Forbeskoba Salurkan Donasi untuk Korban Bencana Flores dari Kota Batu

Koordinator Forbeskoba, Thomas Maydo: Penyerahan Donasi ini bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk konkret dari empati yang terstruktur. (Foto: Agus Edukasi-ri)

Kota Batu, majalahfakta.id – Malam di Kota Batu terasa lebih hangat, Jumat (11/9/2026). Di balai Forum Ormas Bersama Kota Batu, atau Forbeskoba, warga diaspora Nusa Tenggara Timur berkumpul bukan untuk acara seremonial biasa. Mereka datang membawa empati yang dikemas dalam bentuk nyata: donasi untuk para penyintas bencana di Flores.

Penyerahan bantuan itu dilakukan Forbeskoba kepada Koordinator Relawan Posko Peduli Flores. Hadir pula Dewan Perwakilan Daerah Forum Pemuda NTT Malang Raya dan Paguyuban Sesepuh NTT. Tiga kekuatan berbeda usia duduk satu meja, menyatukan energi anak muda dan wibawa para sesepuh dalam satu gerakan kemanusiaan.

Koordinator Forbeskoba, Thomas Maydo, menegaskan bahwa bantuan ini lahir dari rasa tanggung jawab kolektif. Bagi warga NTT yang kini tinggal dan mencari nafkah di Malang Raya, kabar bencana di kampung halaman tidak bisa disikapi dengan diam.

“Penyerahan donasi ini bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk konkret dari empati yang terstruktur. Kami ingin memastikan jaringan sosial yang kami bangun di perantauan bisa menjadi katalisator pemulihan bagi saudara-saudara kita di Flores,” ujar Thomas dalam sambutannya.

Apresiasi datang dari pihak penerima. Ketua Koordinator Relawan Posko Peduli Flores, George Da Silva, menyampaikan terima kasih kepada warga Flobamora Batu atas kepedulian yang cepat. Ia memastikan seluruh bantuan akan dikelola dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas.

“Kami sangat mengapresiasi langkah Flobamora Batu. Donasi ini akan segera kami salurkan melalui mekanisme yang terukur. Prioritas utama kami adalah kebutuhan esensial para penyintas, seperti logistik, air bersih, dan layanan kesehatan dasar yang saat ini sangat mendesak,” jelas George.

Dari Paguyuban ke Lembaga Filantropi Modern

Yang menarik dari aksi ini bukan hanya besarnya bantuan, tetapi cara ia digerakkan. Organisasi berbasis kedaerahan yang dulu hanya menjadi tempat berkumpul, kini bertransformasi menjadi lembaga filantropi yang responsif terhadap krisis.

Forum Pemuda NTT membawa inovasi dalam penggalangan dana dan penyebaran informasi. Paguyuban Sesepuh memberi legitimasi, jaringan, dan pengalaman. Kolaborasi lintas generasi ini menciptakan modal sosial yang kuat, fondasi penting bagi ketahanan komunitas di tanah rantau.

Fenomena ini sejalan dengan kajian sosiologi perkotaan: ketika ikatan primordial bertemu dengan manajemen modern, hasilnya adalah gerakan yang cepat, terukur, dan berkelanjutan.

Solidaritas yang Melampaui Jarak

Secara geografis Malang dan Flores terpisah ratusan kilometer. Namun jarak itu tidak memutus ikatan emosional dan kultural. Aksi cepat tanggap Posko Peduli Flores menjadi bukti bahwa solidaritas tidak mengenal batas administratif.

Acara yang berlangsung hingga malam itu ditutup dengan doa bersama dan koordinasi teknis pengiriman bantuan. Rencananya, bantuan tahap pertama akan segera diberangkatkan untuk memenuhi kebutuhan paling mendesak di lapangan.

Thomas berharap langkah ini menjadi pemantik. Ia mengajak tidak hanya warga diaspora NTT, tetapi juga seluruh masyarakat Malang Raya untuk ikut terlibat.

“Semangat Flobamora, Flores, Sumba, dan Alor, harus hidup di mana pun kita berada. Kemanusiaan adalah bahasa universal yang melampaui sekat,” tutupnya.

Dengan model kolaborasi seperti ini, proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Flores diharapkan berjalan lebih cepat. Sekaligus menjadi preseden baik bagi pengelolaan bantuan bencana berbasis komunitas ke depan: partisipatif, transparan, dan berakar pada nilai gotong royong. (Mud/F.1015)