Tumpukan Sampah di Sudut SMPN 3 Adiwerna Disorot LSM, Disebut Cerminkan Buruknya Manajemen Sekolah

Kondisi sekolah yang terlihat sebagai tempat pembuangan sampah (Foto atas), Slamet Heriyanto, Sekretaris LSM Gerbang Mataram (foto bawah)

Tegal, majalahfakta.id — Pemandangan tidak sedap terlihat di salah satu sudut SMP Negeri 3 Adiwerna, Kabupaten Tegal. Sampah dibiarkan menumpuk dan mulai menimbulkan bau. Kondisi ini dikhawatirkan bisa memicu munculnya penyakit bagi siswa.

Pantauan di lokasi, Selasa (1/9/2026), sampah berupa plastik, kertas, dan sisa makanan terlihat berserakan di area pojok sekolah. Tidak ada tempat pembuangan sementara yang memadai, sehingga sampah dibiarkan begitu saja.

Sekolah Tempat Belajar, Bukan TPS
Kondisi ini mendapat sorotan dari Slamet Heriyanto, Sekretaris LSM Gerbang Mataram yang akrab disapa Slamet Gelang.

Ia menyayangkan pihak sekolah tidak segera membersihkan dan menata lingkungan.

“Sekolah itu tempat pendidikan. Harusnya jadi contoh kebersihan, kenyamanan, dan kesehatan untuk kegiatan belajar mengajar. Kalau di sekolah sendiri ada tempat kumuh seperti ini, ini mencerminkan sistem manajemen sekolah yang tidak profesional,” ujar Slamet saat meninjau lokasi.

Menurutnya, lingkungan kotor bukan hanya mengganggu pemandangan, tapi juga berbahaya. Sampah yang menumpuk bisa jadi sarang lalat, nyamuk, hingga tikus. Ujungnya siswa yang dirugikan.

“Anak-anak menghabiskan waktu 6-7 jam di sekolah. Masa iya mereka harus belajar di lingkungan yang berpotensi tercemar? Ini soal kesehatan juga,” tegasnya.

Imbauan: Jangan Tutup Mata
Slamet meminta pihak SMPN 3 Adiwerna segera turun tangan. Jangan menunggu ada kejadian luar biasa baru bergerak.

“Sekolah bukan tempat pembuangan sampah. Saya imbau kepala sekolah dan seluruh guru jangan tutup mata. Bersihkan, buat jadwal piket, libatkan OSIS. Kembalikan motto sekolah yang bersih, sehat, dan nyaman,” sindirnya.

Ia juga mendorong dinas terkait untuk melakukan pembinaan. Sekolah, kata dia, harus menjadi role model Gerakan Sekolah Sehat.

“Kalau gurunya mengajarkan hidup bersih tapi lingkungannya kotor, sama saja bohong. Anak-anak meniru apa yang mereka lihat,” tambahnya.

Harapan ke Depan
Slamet berharap kejadian ini jadi evaluasi bagi seluruh sekolah di Kabupaten Tegal. Kebersihan bukan hanya tanggung jawab petugas kebersihan, tapi budaya yang harus dibangun bersama.

“Kami siap membantu edukasi ke siswa soal memilah sampah dan menjaga lingkungan. Tapi niat dari pihak sekolahnya dulu yang harus ada,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak SMPN 3 Adiwerna belum memberikan keterangan resmi terkait tumpukan sampah tersebut. (sus)