banner 728x250

banner 728x250

banner 728x250

banner 728x250

Kejaksaan Diminta Usut Tuntas Kasus Dugaan Korupsi Buku Perpustakaan SD Di Sampang

708 views


PASUKAN Gempur Koruptor Jawa Timur (PagerJati) berharap agar kejaksaan mengusut tuntas kasus dugaan korupsi buku perpustakaan SD (Sekolah Dasar) di Kabupaten Sampang, Provinsi Jawa Timur (Jatim). Jika dugaan korupsi yang sangat mencolok dan telah ramai diungkap berbagai media massa itu tidak diusut, bisa menimbulkan anggapan masyarakat bahwa kasus itu diselesaikan secara damai oleh kejaksaan.

“Jangan sampai muncul anggapan dari khalayak ramai bahwa kasus dugaan korupsi itu oleh kejaksaan diselesaikan dengan cara damai alias tidak diusut, tapi kemudian malah ditutupi dan berharap masalah itu dilupakan masyarakat,” kata Amir Rudini, pengurus PagerJati.

“Jika terjadi demikian, ini bisa mencemarkan nama lembaga kejaksaan sendiri, di mana akan ada tuduhan bahwa ada indikasi kejaksaan mendapat bagi hasil atau setoran dari terduga koruptor, sehingga kasusnya diselesaikan secara damai dan dimasukkan ke dalam peti es. Hal ini juga menimbulkan potensi bahwa para terduga pelaku tidak takut untuk mengulang-ulang dugaan perbuatan korupsinya. Bisa diihat bahwa modus dugaan korupsi saat ini makin mencolok, seolah mereka itu kebal hukum,” ujarnya.

Sebagaimana ramai diberitakan media massa, kasus dugaan korupsi buku perpustakaan SD di Sampang oleh distributor penerbit PT SPKN melalui agennya di daerah, menurut PagerJati, ada dua hal yang sensitif dan menunjukkan adanya indikasi bahwa hal itu dilakukan secara terstruktur dan terorganisir, yakni pertama adalah bahwa dalam pengumuman dari layanan pengadaan secara elektronik (LPSE) Sampang, pemenang lelang tertera pada tanggal 15 Desember 2016. Padahal, dalam keterangan itu jenis lelang, dengan paket Rp 2.500.214.000. Dalam rincian LPSE tertera pada kolom “pemberian penjelasan” 14 Desember 2016 jam 08.00 – 09.00. Serta pada kolom “upload dokumen penawaran” 14 Desember 2016 jam 09.05 sampai 15 Desember jam 23.59.

“Kan sangat janggal, pada tanggal 15 Desember 2016 jadwal/proses upload dokumen penawaran belum selesai, tapi sudah diumumkan siapa pemenangnya, dan dinyatakan bahwa lelang sudah selesai. Dan, lebih aneh lagi bahwa pekerjaan dinyatakan sudah selesai dilaksanakan dengan menyebut lokasi pekerjaan adalah di Kantor Dinas Pendidikan Jl Jaksa Agung Suprapto 77 Sampang. Dan pada hari itu juga tanggal 15 desember 2016 dilaksanakan proses untuk pembayaran kepada penyedia barang,” tutur Amir.

Kejanggalan ini secara mencolok menunjukkan ada indikasi bahwa sebelum lelang dilaksanakan berarti barang yang akan disuplai oleh penyedia barang sudah ada di kantor dinas pendidikan. Lihat saja, jadwal upload tanggal 15 Desember sampai tengah malam, tapi belum selesai proses upload sudah dinyatakan ada pemenangnya, dan pada hari yang sama sebelum proses upload penawaran selesai, penyedia barang yang dinyatakan sebagai pemenang pengadaan sudah dinyatakan selesai melaksanakan pekerjaan dan langsung terjadi proses pembayaran.

“Kejanggalan itu selain menunjukkan indikasi adanya persekongkolan antara dinas pendidikan dan penyedia barang, juga melanggar peraturan, yakni petunjuk teknis dari kementerian pendidikan bahwa dalam pengadaan buku perpustakaan, pengiriman harus dilaksanakan/dikirim oleh penyedia barang sampai ke sekolah-sekolah, bukan ke kantor dinas pendidikan, agar sekolah atau dinas pendidikan tidak terbebani ongkos pengiriman,” ujar Amir.

Kedua adalah ada dugaan pengurangan jumlah buku yang dikirim, tetapi dalam laporan ditulis bahwa volume buku yang dikirim sudah sesuai kontrak.

Sebagaimana dilaporkan masyarakat yang membawa data ke Kejati (Kejaksaan Tinggi) Jatim, dalam kontrak masing-masing dari 50 lembaga SD seharusnya menerima 870 judul buku. Jumlah keseluruhan per sekolah harusnya mendapat 2.639 eksemplar. Kenyataan di lapangan jauh dari harapan. Antara pedalaman dan pinggir kota berbeda. Paling parah di pedalaman, misalnya di SDN Tobai Tengah 2 hanya mendapat 400–500 eksemplar, jauh dari 2 ribu eksemplar.

Sementara itu Aspidsus (Asisten Pidana Khusus) Kejati Jatim, Didik Farhan, ketika dihubungi ponselnya belum memberikan tanggapan terhadap masalah ini. (Rilis)