Pesan Indah Al-Qur’an 0115
Pagi itu, seorang lelaki duduk terdiam di dalam mobilnya. Semalam, ia masih menyusun rencana masa depan dengan penuh keyakinan. Usahanya sedang berkembang, anak-anaknya membutuhkan biaya pendidikan, dan ia telah membayangkan kehidupan keluarga yang lebih baik. Namun, sebuah telepon mengubah segalanya. Perusahaan tempatnya bekerja melakukan pengurangan karyawan. Namanya termasuk dalam daftar itu.
Ia menatap layar telepon yang mulai gelap. Berbagai pertanyaan berputar di kepalanya. Bagaimana membayar cicilan? Bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga? Ke mana ia harus melangkah setelah ini? Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa masa depannya tidak lagi berada dalam genggamannya.
Sahabat, kita boleh merencanakan kehidupan sebaik mungkin, tetapi tidak semua yang terjadi dapat kita kendalikan. Di tengah perubahan yang mengguncang, kita membutuhkan keyakinan bahwa kekuasaan Allah jauh melampaui keterbatasan manusia.
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah yang senantiasa membimbing kita. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam ikhtiar, kesabaran, dan tawakal.
ALLAH BERFIRMAN:
بَدِيْعُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
“Allah Pencipta langit dan bumi. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu.”
(QS. Al-Baqarah: 117)
PESAN TAFSIR
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, Allah adalah Pencipta langit dan bumi tanpa contoh atau model sebelumnya. Ungkapan kun fayakūn menegaskan kesempurnaan kekuasaan Allah: apabila Dia menghendaki sesuatu, tidak ada yang mampu menghalangi kehendak-Nya. Ayat ini juga berkaitan dengan penegasan bahwa penciptaan Nabi Isa tanpa ayah tidak menjadikannya sebagai anak Allah.
Tafsir Al-Jalalain menjelaskan bahwa Allah mengadakan langit dan bumi tanpa contoh terdahulu. Ketika Allah menetapkan sesuatu untuk terjadi, Dia berfirman kepadanya, “Jadilah,” maka terjadilah sesuatu itu sesuai dengan kehendak-Nya.
Dalam perspektif perenungan yang sejalan dengan pendekatan Tafsir Al-Azhar Buya Hamka, manusia perlu menyadari keterbatasan dirinya di hadapan kekuasaan Allah. Akal, tenaga, dan perencanaan merupakan karunia yang harus digunakan dengan sebaik-baiknya, tetapi semuanya tidak menjadikan manusia penguasa mutlak atas hasil kehidupannya.
CERMIN DIRI
Ayat ini bukan alasan untuk berhenti berusaha atau menunggu keajaiban tanpa melakukan apa-apa. Allah mengajarkan kepada kita tentang kekuasaan-Nya, sementara kita tetap berkewajiban menempuh jalan ikhtiar yang benar.
Ketika kehilangan pekerjaan, kita dapat memperbaiki keterampilan, mencari peluang baru, membangun usaha, dan memohon pertolongan Allah. Ketika rencana berubah, kita tidak harus kehilangan harapan. Bisa jadi, jalan yang belum kita pahami masih menyimpan kesempatan untuk bertumbuh.
Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Namun, kita dapat memilih untuk tetap berusaha, menjaga kejujuran, memperbanyak doa, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Ya Allah, kuatkan hati kami ketika rencana kehidupan berubah. Bimbinglah ikhtiar kami, lapangkan jalan keluar kami, dan jadikan kami hamba yang tidak berputus asa dari rahmat-Mu.
Iwan Muhajirin
19 Oktober 2026






