Batu Agrocreative: Dari Kebun Dataran Tinggi ke Meja Gastronomi Dunia

Perkuat Dukungan Pemerintah Pusat, Wali Kota Nurochman Paparkan Ekosistem Ekraf dan Gastronomi ke Menekraf RI. (Foto: Prokopim)

Kota Batu, majalahfakta.id — Di ruang presentasi Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Rabu (2/9/2026), Wali Kota Batu Nurochman tidak hanya membawa data. Ia membawa cerita tentang tanah, petani, dan rasa.

Dengan tajuk “From Mountain Agriculture to Global Gastronomy”, Pemerintah Kota Batu maju dalam Seleksi Nasional Tahap II Pengusulan Nominasi UNESCO Creative Cities Network 2027 bidang Gastronomi. Konsep yang diusung: Batu Agrocreative.

“Bagi Batu, gastronomi bukan hanya tentang apa yang kita makan. Ini tentang siklus kehidupan, sumber penghidupan, dan tradisi yang tumbuh dari tanah lalu diwariskan antargenerasi,” kata Nurochman di hadapan tim penilai nasional.

5 Pilar Pembeda Batu

Tim Kota Batu memetakan kekuatannya ke dalam lima pilar. Pertama, mountain agriculture. Dataran tinggi Batu menghasilkan apel, jeruk, stroberi, sayuran, kopi, hingga susu dengan kualitas khas iklim sejuk. Kedua, living food heritage. Kuliner dan cara mengolah pangan di Batu hidup dan terus dipraktikkan, bukan hanya diarsipkan. Ketiga, community-based food system. Rantai pasoknya pendek. Petani, UMKM, hotel, restoran, sampai desa wisata terhubung langsung. Keempat, tourism as a market. Dengan 9,7 juta wisatawan pada 2025 dan 24 desa wisata, pasar untuk produk pangan kreatif sudah ada di depan mata. Kelima, farm-to-experience. Wisatawan tidak hanya membeli, tapi juga memetik, memproses, dan mencicipi langsung di kebun.

“Ini bukan sekadar jual apel. Tapi bagaimana pengalaman memetik apel itu menjadi bagian dari pariwisata gastronomi,” jelas Nurochman.

Jejaring Global sebagai Bekal

Langkah Kota Batu tidak dimulai dari nol. Pemerintah kota sudah membangun kerja sama dengan JICA, Kota Fukushima, Shimonoseki City University dari Jepang, serta Westland, Belanda. Kolaborasi itu menjadi modal untuk masuk ke jejaring kota kreatif dunia.

Jika lolos seleksi nasional, Batu akan bersaing dengan kota-kota lain untuk menjadi bagian UCCN 2027. Status itu diyakini bisa mengangkat produk pertanian lokal sekaligus memperkuat identitas Kota Batu sebagai destinasi agrowisata berbasis budaya.

“Kami ingin menunjukkan bahwa kota kecil di lereng gunung bisa berbicara dalam bahasa gastronomi global, tanpa meninggalkan akarnya,” tutup Nurochman. (Mud/F.1015)