Bukan Sekadar Padamkan Api, Trio GJLS Hadapi Kekacauan di GJLS: Berapi-Api

Trio komika Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Ridhzi Choir kembali hadir dalam film GJLS: Berapi-Api. (Foto: Dina)

Jakarta, majalahfakta.id – Setelah sukses menghibur penonton melalui film GJLS: Ibu-Ibu Jagoan pada 2025, trio komika Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Ridhzi Choir kembali hadir dalam layar lebar. Kali ini, ketiganya mendapat tantangan baru lewat film komedi aksi GJLS: Berapi-Api yang akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 5 November 2026.

Film produksi Adhya Sinema Magna GJLS Entertainment tersebut membawa Rigen, Ananta, dan Ridhzi ke situasi yang jauh lebih berbahaya. Jika sebelumnya mereka memaroprakporandakan suasana melalui cerita para ibu, kini ketiganya harus berhadapan dengan api, kepanikan, tanggung jawab, sekaligus persoalan persahabatan.

Dalam GJLS: Berapi-Api, ketiga karakter utama mewujudkan cita-cita masa kecil dengan menjadi petugas pemadam kebakaran (damkar). Namun, pekerjaan yang awalnya terlihat mulia justru membawa mereka ke berbagai persoalan. Niat untuk menyelamatkan warga sering berbenturan dengan kepanikan, perdebatan, hingga situasi kacau yang tidak mereka duga.

Film ini tidak hanya mengandalkan aksi penyelamatan dan komedi. Cerita juga menyoroti dinamika persahabatan ketiga tokoh yang kembali diuji ketika mereka harus menjalankan tugas dengan risiko yang lebih besar.

“Di film pertama, kita dibikin pusing dengan urusan bapak-anak. Sekarang di GJLS: Berapi-Api, kita dikasih seragam damkar, helm baja, sama selang bertekanan tinggi. Bukannya tenang, malah kebakaran ego masing-masing yang lebih bahaya. Penonton jangan harap dapat aksi heroik yang tenang; ini isinya murni teriakan, panik, dan persahabatan yang diuji pas api udah di depan muka,” ujar Rigen Rakelna, aktor sekaligus salah satu pendiri GJLS Entertainment.

Monty Tiwa Kembali Mengawal Kekacauan Trio GJLS

Kursi sutradara kembali dipercayakan kepada Monty Tiwa, sineas yang telah berpengalaman selama 25 tahun di industri perfilman nasional. Kehadiran Monty menjadi salah satu kekuatan film karena ia kembali menghadapi karakter dan energi khas trio GJLS.

Kali ini, Monty harus menerjemahkan aksi tiga komika tersebut ke dalam adegan-adegan komedi aksi yang membutuhkan tempo, improvisasi, sekaligus visual yang lebih besar. Ia menggambarkan pengalaman menyutradarai Rigen, Ananta, dan Ridhzi seperti mengendalikan kendaraan yang bergerak tanpa rem, tetapi tetap memiliki daya tarik tersendiri.

“Menyutradarai trio GJLS di film aksi damkar itu rasanya seperti mengendalikan truk blangwir yang remnya blong tapi sopirnya malah sibuk debat. Tapi di situlah magisnya,” tutur Monty Tiwa.

Menurut Monty, kekacauan yang muncul dari karakter ketiga pemain justru menjadi bagian penting dalam membangun daya tarik GJLS: Berapi-Api. Energi komedi mereka mendapat ruang untuk berkembang dalam cerita yang memadukan aksi, kepanikan, dan persahabatan.

Selain menghadirkan aksi penyelamatan dengan latar profesi petugas damkar, film ini juga mengajak penonton melihat bagaimana ketiga tokoh menghadapi tanggung jawab baru. Persahabatan mereka kembali menjadi bagian penting ketika berbagai persoalan muncul di tengah tugas.

Dengan perpaduan komedi, aksi, dan kekonyolan khas trio GJLS, GJLS: Berapi-Api menawarkan hiburan yang dekat dengan karakter Rigen, Ananta, dan Ridhzi. Film ini sekaligus menjadi ajang bagi penonton untuk melihat sisi berbeda ketiganya saat mengenakan seragam petugas pemadam kebakaran. (Dina)