Padang Pariaman, majalahfakta.id – Perhelatan Padang Pariaman Mauluik Gadang 2026 berlangsung semarak selama tiga hari, 23–25 Agustus 2026, di kawasan Masjid Raya IKK Ali Mukhni, Parit Malintang. Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara syiar Islam, adat Minangkabau, seni tradisi, dan semangat kebersamaan masyarakat.
Mengusung tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW, Bangkit Bersama Membangun Padang Pariaman yang Religius, Tangguh, Maju dan Sejahtera”, Mauluik Gadang tidak hanya dikemas sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai upaya memperkuat nilai agama dan adat yang hidup di tengah masyarakat.
Rangkaian kegiatan dibuka pada Minggu (23/8/2026) melalui Lomba Kasidah Rebana dan Bintang Kasidah yang diikuti utusan dari kecamatan se-Kabupaten Padang Pariaman.
Lantunan rebana dan syair-syair Islami menghidupkan suasana kawasan Masjid Raya IKK Ali Mukhni. Di sisi lain, kegiatan tersebut menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus melestarikan seni bernuansa religi.
Kemeriahan berlanjut pada Senin (24/8/2026). Sejumlah tradisi dan kegiatan keagamaan ditampilkan, mulai dari Malamang, Tabligh Akbar, Syarafal Anam hingga Shalawat Dulang.
Tradisi malamang menjadi salah satu perhatian karena memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat. Proses pembuatan lamang yang dilakukan secara bersama-sama tidak hanya mempertahankan tradisi kuliner khas Minangkabau, tetapi juga merekatkan hubungan sosial antarmasyarakat.
Nuansa religius semakin terasa melalui Tabligh Akbar, Syarafal Anam dan Shalawat Dulang. Sekitar 140 ulama dan tuangku dari 17 kecamatan turut ambil bagian dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Puncak Mauluik Gadang berlangsung Selasa (25/8/2026). Ratusan Bungo Lado diarak dalam rangkaian kegiatan yang dilanjutkan dengan penerimaan Jamba, Badoncek, Lamang, Badikia dan Makan Bajamba.
Bungo Lado menjadi salah satu simbol penting dalam alek tersebut. Tradisi itu merepresentasikan partisipasi masyarakat sekaligus semangat badoncek dan gotong royong dalam menopang kegiatan bersama.
Sementara Makan Bajamba menghadirkan makna sosial yang tidak kalah kuat. Duduk dan makan bersama menjadi sarana mempererat silaturahmi, membangun rasa setara, serta memperkuat ikatan sosial dalam kehidupan masyarakat.
Tiga hari pelaksanaan Mauluik Gadang memperlihatkan bagaimana agama dan adat dapat berjalan berdampingan. Nilai-nilai keislaman hadir dalam syiar dan lantunan pujian kepada Rasulullah SAW, sementara nilai adat diwujudkan melalui berbagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Bagi Padang Pariaman, perpaduan tersebut menjadi bagian penting dari identitas masyarakat. Tradisi tidak sekadar dipertahankan sebagai seremoni, tetapi dihidupkan melalui keterlibatan masyarakat lintas generasi.
Karena itu, Mauluik Gadang 2026 menjadi momentum untuk menjaga kesinambungan tradisi sekaligus menanamkan nilai-nilai kebersamaan kepada generasi muda.
Di tengah perubahan zaman, keberadaan alek seperti Mauluik Gadang menjadi pengingat bahwa pembangunan masyarakat tidak hanya bertumpu pada aspek fisik dan ekonomi. Nilai agama, adat, gotong royong dan silaturahmi juga menjadi modal sosial yang penting untuk membangun daerah.
Mauluik Gadang 2026 pun meninggalkan pesan yang lebih luas: merawat syiar, menjaga adat, memperkuat persaudaraan, dan memastikan warisan budaya Padang Pariaman tetap hidup di tengah generasi yang terus berubah. (SS)






