FAKTA – Tingginya harga serta permintaan bawang merah di Tabalong mendorong seorang petani di Desa Banyu Tajun, Kecamatan Tanjung, untuk mencoba budidaya bawang merah dari biji. Metode tersebut dipilih agar biaya produksi lebih efisien dibandingkan menggunakan bibit umbi.
Pak Ahong menjadi salah satu petani di Desa Banyu Tajun yang mencari terobosan dalam budidaya bawang merah. Setelah berhasil menanam bawang merah dari umbi, kali ini ia mencoba menanam bawang merah dari biji jenis merah F1.
Budidaya bawang merah dari biji umumnya lebih lama dibandingkan budidaya dari umbi, karena penyemaian memakan waktu hingga 2 bulan. Namun hal ini tak menjadi masalah untuk Ahong. Keputusan ini diambilnya karena harga bibit umbi relatif mahal, mengingat pasokannya masih didatangkan dari Pulau Jawa. Dengan menanam dari biji, ia berharap biaya produksi dapat ditekan sekaligus menjadi pengalaman baru dalam mengembangkan usaha taninya.
Saat ini budidaya bawang merah ini dilakukan di atas lahan seluas 20 borongan dengan sekitar 10 ribu lubang tanam. Meski masih dalam tahap uji coba, Ahong optimis tanaman ini dapat tumbuh dengan baik melalui perawatan yang intensif.
“Sebetulnya tidak ada tips khusus, cuma karena kita lahan coba-coba masih penjajakan jadi belum ada tips khusus. Cuma yang jelas perhatiannya harus ditingkatkan dari pada tanaman lain karena kita baru pertama ini,” kata Ahong, Petani.
Ahong berharap tanam perdana bawang merah dari biji ini dapat memberikan hasil yang baik, sehingga dapat menjadi alternatif bagi petani lain di Tabalong untuk mengembangkan komoditas bawang merah dengan biaya produksi yang lebih efisien. Ia pun berharap ada dukungan dari pemerintah daerah untuk mengembangkan budidaya bawang merah, mengingat saat ini bawang merah menjadi salah satu komoditas yang harganya sering berfluktuasi, lantaran pasokan kebanyakan didatangkan dari luar Tabalong. (tbl/eya)






