FAKTA – Belum reda isu kelangkaan LPG 3 kilogram (gas melon), kini muncul fenomena baru yang bikin publik geleng kepala. Di tengah kondisi distribusi yang belum sepenuhnya stabil, tabung kosong LPG 3 kg justru diperjualbelikan dengan harga fantastis, mulai Rp70 ribu hingga tembus Rp180 ribu per tabung.
Ironisnya, praktik ini marak beredar di media sosial dan tidak hanya terjadi di Kabupaten Lumajang, tetapi juga mulai merambah ke wilayah tetangga seperti Jember.
Fenomena ini langsung memantik perhatian publik dan menambah panjang polemik “gas melon” yang tak kunjung usai.
Tabung Kosong Jadi “Barang Mahal”. Berdasarkan penelusuran di sejumlah platform media sosial, banyak warga menawarkan tabung kosong LPG 3 kg dengan harga yang jauh di atas kewajaran.
Kondisi ini memunculkan dugaan kuat adanya spekulasi pasar di tengah krisis distribusi. Tabung kosong yang seharusnya hanya sebagai wadah, kini berubah menjadi komoditas bernilai tinggi.
Seorang warga Lumajang, Rudi (38), mengaku terkejut melihat harga tersebut.
“Tabung kosong saja sekarang mahal sekali. Padahal belum tentu bisa langsung isi gas. Ini jelas aneh,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (18/4/2026).
Dampak Berantai Kelangkaan. Pengamat ekonomi lokal, Achmad Nurhuda menilai, fenomena ini merupakan efek berantai dari kelangkaan LPG 3 kg yang sempat terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Ketika pasokan tidak stabil, bukan hanya gas yang langka, tetapi juga tabung sebagai alat distribusi ikut terdampak.
“Ini indikasi adanya ketidakseimbangan antara permintaan dan distribusi. Bahkan bisa mengarah pada praktik spekulasi oleh oknum tertentu,” ungkapnya.
Polisi: Kelangkaan Mulai Terurai, Tapi Harga Masih Bermasalah. Kapolres Lumajang, Alex Sandy Siregar, memastikan bahwa pihaknya terus melakukan pengawasan rutin terhadap distribusi LPG 3 kilogram di wilayahnya.
Menurutnya, kondisi kelangkaan secara bertahap mulai teratasi, namun persoalan belum sepenuhnya selesai.
“Dari sisi kelangkaan sudah mulai terurai, tetapi dari segi harga masih ditemukan tidak sesuai HET,” paparnya.
Bahkan, di lapangan masih ditemukan harga LPG 3 kilogram dijual hingga Rp25 ribu per tabung, jauh di atas harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah.
Diduga Ada Permainan Oknum. Melonjaknya harga gas dan munculnya jual beli tabung kosong dengan harga tinggi semakin menguatkan dugaan adanya permainan di tingkat distribusi.
Jika tidak segera ditertibkan, kondisi ini berpotensi merugikan masyarakat kecil yang menjadi sasaran utama subsidi LPG 3 kilogram.
Publik Menunggu Ketegasan. Kini, masyarakat menunggu langkah tegas dari pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menertibkan situasi yang kian tak wajar ini.
Fenomena tabung kosong mahal dan harga gas melambung menjadi sinyal bahwa persoalan LPG 3 kilogram bukan sekadar soal pasokan, tetapi juga pengawasan dan integritas distribusi.
Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin “gas melon” akan terus menjadi sumber polemik berkepanjangan dan yang paling terdampak tetaplah masyarakat kecil. (Fuad Afdlol)






