Toga Hitam Buku Ke-2 Chairul S Matdiah yang Akan Launching ​Melihat Finansial Chairul S Matdiah: Dari Rekor Omzet Miliaran Hingga Pilihan Hidup “Cukup Makan Bae”

FAKTA – Dalam dunia advokat di Sumatera Selatan dan Jakarta nama Chairul S Matdiah bukan sekadar simbol pembelaan hukum, melainkan potret kesuksesan finansial yang dibangun di atas fondasi kepercayaan. Mencatat sejarah sebagai salah satu pengacara yg berkantor jln Alteri apartemen Belleza permata Hijau Jakarta dan kapten arivai Palembang dengan portofolio klien terpadat, nilai ekonomi yang dihasilkan Chairul menggambarkan betapa mahalnya harga sebuah profesionalisme.

Chairul telah membuktikan dirinya sebagai magnet bagi sektor korporat dan pemerintahan, membangun reputasi sebagai salah satu advokat dengan nilai ekonomi tertinggi di Provinsi Sumatera Selatan.

Chairul mengatakan, pada tahun 2007-2012 dia menjadi pengacara

Kabupaten OKI saat masih dijabat Ishak Mekki. Lima tahun menjadi pengacara ia mengantongi kontrak senilai Rp350 juta per tahun.

Di Kabupaten Lahat, saat Harunata menjadi Bupati Periode 1998-2003, Chairul dibayar senilai Rp250 juta per tahun.

Saat menjadi tim hukum Pemerintah Kabupaten Banyuasin era Amiruddin Inoed (2003-2008), Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) era Alex Noerdin (2000-2003) dan Kabupaten Muaraenim era Kalamudin Djinab (2003-2008), Chairul dibayar dengan nilai kontrak 100 juta per tahun.

Chairul juga menjadi pengacara Pemprov Sumsel selama lima tahun pada era Syahrial Oesman (2003-2008) dengan honorarium Rp4 juta per bulan atau Rp50 juta per tahun, sebuah angka yang sangat kecil jika dibandingkan dengan tarifnya di perusahaan swasta.

“Secara angka memang kecil saat menjadi pengacara Pemprov Sumsel, tapi pada saat itu saya populer, banyak klien, meski gaji kecik (kecil),” kata Chairul

Menariknya, meskipun memiliki nilai jual miliaran di sektor swasta, Chairul menunjukkan sisi pengabdian yang kontras saat bersentuhan dengan pemerintah daerah. Ia dikenal sebagai pengacara yang populer namun tetap bersahaja dalam menentukan tarif bagi negara.

“Namun, anehnya, pada waktu itu hampir tidak ada perkara aneh, padahal klien saya cukup banyak,” katanya.

Puncak kejayaan finansial Chairul terjadi pada medio 2004 hingga 2012. Pada periode emas ini, ia tercatat menjadi kuasa hukum bagi 35 perusahaan sekaligus. Kepercayaan masif dari sektor swasta ini membawa pendapatan operasional yang fantastis, berkisar antara Rp15 miliar hingga Rp20 miliar per tahun.

​Bahkan, jauh sebelum itu, di era 1995 hingga 2003, Chairul telah mengantongi penghasilan rutin di angka Rp3 miliar hingga Rp5 miliar. Angka-angka ini menempatkannya di jajaran elite pengacara kelas atas yang memiliki stabilitas finansial sangat mapan.

“Jadi jika dikalkulasikan dari periode 2004-2012, atau selama delapan tahun penghasilan saya bisa mencapai Rp160 miliar per delapan tahun,” ujar Chairul.

​Namun, perjalanan finansial Chairul tidak selalu tentang grafik yang menanjak. Ada masa di mana ia memilih untuk “miskin” demi menjaga nama baik. Pada periode 2012–2014, ia secara jujur mengakui penghasilannya menurun drastis hingga ke level “cukup makan”.

​Hal ini terjadi bukan karena kehilangan kemampuan, melainkan karena banyak klien perusahaan yang menarik diri akibat sikap jujur Chairul yang tidak bisa diajak “bermain” di area abu-abu. Ia lebih memilih kehilangan kasus bernilai miliaran rupiah per perkara daripada harus melanggar kode etik dan integritasnya.

“Tahun 1995-2003 penghasilan per tahun sekitar Rp3-5 miliar per tahun, 2012-2014 cukup makan bae, karena sudah jujur, banyak perusahaan mundur karena jujur tadi. Kalau ditambah biaya operasional sekitar Rp2-4 miliar pertahun,” katanya.

“Jadi kalikan saja berapa penghasilan saya selama menjadi pengacara. Semua aset yang saya miliki selama ini saya dapat semasa menjadi pengacara,” ujar Chairul tertawa.

​Kisah penghasilan Chairul S Matdiah memberikan pelajaran penting bahwa bagi seorang profesional sejati, uang adalah dampak dari kualitas kerja, namun prinsip adalah harga mati. Dengan rekam jejak penghasilan yang telah mencapai titik puncak, kini Chairul melangkah di jalur legislatif sebagai sosok yang telah selesai dengan urusan materi, membawa integritas yang telah teruji oleh waktu dan pilihan-pilihan sulit. (Js)