FAKTA – Indonesia kembali diramaikan dengan geliat organisasi yang fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di era digital. Generasi Digital Indonesia (GRADASI), organisasi penggerak literasi digital nasional, kini tampil sebagai salah satu motor utama dalam mempercepat transformasi digital masyarakat.
Didirikan sejak 2016 di Yogyakarta, GRADASI berkembang pesat hingga kini telah memiliki jaringan di 38 provinsi di seluruh Indonesia. Dengan konsep organisasi yang mandiri dan terbuka, GRADASI menyasar berbagai kalangan mulai dari masyarakat umum, praktisi hingga akademisi.
Ketua Umum DPP GRADASI periode 2025–2030, Upi Asmaradhana, menegaskan bahwa peran literasi digital saat ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
“Transformasi digital tidak bisa ditunda. GRADASI hadir untuk memastikan masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara bijak, produktif, dan aman,” tegas Upi kepada media ini, Selasa (14/4/2026).
Fokus Edukasi Jadi Senjata Utama. GRADASI dikenal aktif menggelar berbagai kegiatan edukasi berbasis literasi digital. Program-programnya mencakup pelatihan, workshop, hingga pendampingan yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi digital masyarakat.
Empat pilar utama menjadi fondasi gerakan ini, yaitu kecakapan digital, keamanan digital, budaya digital, dan etika digital. Keempat aspek tersebut dinilai krusial dalam menghadapi derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi yang kian cepat.
Menurut Ketua DPD GRADASI Jawa Timur periode 2025–2030, Kusbeni Abdullah, pendekatan edukasi menjadi kunci dalam menciptakan masyarakat digital yang berdaya.
“Kami tidak hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga membangun kesadaran kritis masyarakat agar tidak mudah terjebak hoaks, penipuan digital, hingga penyalahgunaan media sosial,” ujarnya.
Jaringan Luas, Gerakan Masif
Dengan jaringan yang telah menjangkau seluruh provinsi, GRADASI dinilai memiliki kekuatan besar dalam menggerakkan literasi digital secara masif dan terstruktur.
Organisasi ini juga dikenal aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, komunitas lokal, hingga sektor swasta. Kolaborasi ini menjadi strategi penting untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan dampak program di lapangan.
“Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi generasi muda untuk terlibat. GRADASI adalah rumah bersama bagi siapa saja yang ingin berkembang di dunia digital,” tambah Kusbeni.
Dorong Kedaulatan Digital Nasional. Lebih dari sekadar edukasi, GRADASI juga membawa misi besar: membangun kedaulatan digital nasional. Dalam konteks ini, literasi digital dipandang sebagai fondasi utama agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga produsen dan inovator.
Upi Asmaradhana menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam ekosistem digital, namun harus diimbangi dengan kualitas SDM yang mumpuni.
“Kedaulatan digital hanya bisa terwujud jika masyarakatnya cakap, aman, berbudaya, dan beretika dalam menggunakan teknologi. Di situlah GRADASI mengambil peran strategis,” jelasnya.
Tantangan dan Harapan. Meski menunjukkan perkembangan signifikan, GRADASI masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam menjangkau masyarakat di daerah terpencil serta meningkatkan kesadaran literasi digital secara merata.
Namun dengan semangat kolaborasi dan jaringan yang terus berkembang, organisasi ini optimistis mampu menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi digital Indonesia yang unggul.
Dengan langkah yang semakin masif dan terstruktur, GRADASI kini tidak hanya sekadar komunitas, melainkan telah menjelma menjadi gerakan nasional yang berpotensi mengubah wajah literasi digital Indonesia secara menyeluruh. (Fuad Afdlol)






