Daerah  

PT Kiesha Anugerah Prima Menang Tender Jalan Rp73,9 Miliar di Mahulu, Selisih Penawaran Kembali Jadi Sorotan

Catatan Fajar Fahrudin

FAKTA – Proyek Peningkatan Jalan Simpang Tikah – Simpang Budaya di Kabupaten Mahakam Ulu resmi menetapkan PT Kiesha Anugerah Prima sebagai pemenang tender pekerjaan konstruksi dengan nilai puluhan miliar rupiah.

Berdasarkan dokumen LPSE, proyek tersebut memiliki:
• Pagu anggaran Rp73.911.178.800
• HPS Rp73.911.175.202

Dalam proses evaluasi, PT Kiesha Anugerah Prima mengajukan penawaran terkoreksi sebesar Rp72.745.361.611,98 dan ditetapkan sebagai pemenang tender.

Selisih Penawaran Tipis
Jika dibandingkan dengan HPS, nilai penawaran pemenang hanya turun sekitar Rp1,1 miliar atau sekitar 1,5 persen.
Dalam proyek konstruksi bernilai besar, pola penawaran yang mendekati HPS kerap menjadi perhatian karena:
• efisiensi anggaran relatif terbatas
• ruang kompetisi harga terlihat sempit
Meski demikian, secara administratif kondisi tersebut masih dimungkinkan selama memenuhi persyaratan evaluasi pengadaan.

Proyek Strategis Infrastruktur
Paket pekerjaan ini berada pada sektor infrastruktur jalan yang memiliki nilai strategis bagi konektivitas wilayah.
Namun proyek dengan nilai besar juga memiliki tingkat risiko yang tinggi, terutama terkait:

  1. kualitas pekerjaan
  2. ketepatan volume
  3. spesifikasi teknis
  4. serta pengawasan pelaksanaan di lapangan
    Karena itu, pengawasan selama pelaksanaan proyek menjadi faktor penting.

Jika dicermati, pola penawaran yang relatif dekat dengan HPS tampak berulang pada sejumlah paket proyek konstruksi di Mahakam Ulu.

Kondisi tersebut belum dapat disimpulkan sebagai pelanggaran, namun cukup untuk memunculkan pertanyaan publik terkait:

  1. tingkat persaingan antar peserta
  2. efektivitas efisiensi anggaran
  3. dan kualitas proses tender

Penetapan pemenang tender merupakan tahap administratif awal. Ujian sesungguhnya berada pada pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

Ketika proyek infrastruktur bernilai puluhan miliar dimenangkan dengan selisih penawaran yang tipis, maka publik tidak hanya melihat siapa yang menang—tetapi juga menunggu apakah kualitas pekerjaan benar-benar sebanding dengan anggaran yang digelontorkan.